
Malaysia, di waktu bersamaan...
Hari yang terus berganti membuat Lilia harus berdikari dengan cepat. Dan kini ia sudah mempunyai toko kue sendiri yang baru saja dibukanya. Dengan bekal cukup matang, ia memberanikan diri tinggal dan berwirausaha di sana. Lilia membulatkan tekadnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.
Lilia sudah terbiasa berjuang sendiri, apa-apa sendiri. Ia juga sudah dua kali sakit hati. Dan hal itu tentu membuatnya lebih kuat lagi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berwirausaha di negeri ini. Di sebuah kota yang indah dan juga bersih. Lilia berhasil menyewa ruko dan menjual beberapa roti dan kuenya. Ya, walaupun belum ramai sekali.
Ternyata begini rasanya berwirausaha. Dari pagi sampai siang hanya beberapa roti yang terjual. Kalau begini aku bisa kehabisan modal.
__ADS_1
Tak dapat Lilia pungkiri, merintis usaha itu memang hampir membuatnya menangis. Biaya sewa ruko yang mahal, belum lagi gaji karyawan jika ingin ada teman. Lilia harus memutar otaknya untuk membalikkan modal. Namun, sepertinya ia harus lebih banyak bersabar. Toko rotinya baru dibuka hari ini. Belum mempunyai banyak pemasukan.
"Mungkin coba pasang iklan saja. Tapi berapa ya harganya?"
Lilia duduk di depan meja kasir. Ia membuka-buka ponselnya. Mencari jasa pemasangan iklan yang murah. Ia ingin mengiklankan toko kuenya di sana.
Lilia menyewa ruko dua lantai untuk enam bulan ke depan. Ruko itu tidak terlalu besar. Hanya berukuran 5x10 meter sudah termasuk halaman parkiran. Sehingga dalamnya bisa dikatakan minimalis sekali. Mungkin ada sekitar 5x7 meter untuk gedungnya sendiri.
__ADS_1
Lilia berharap dapat secepatnya membalikkan modal. Karena hanya hal itulah yang dapat membuat hatinya senang. Ia mencari kesibukan agar bisa melupakan rasa sakitnya. Ia pun sudah memblokir semua jaringan yang terhubung dengan Alexander. Lilia tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Pikirannya sudah cukup lelah untuk menanti.
Bukan Lilia jika tidak tangguh. Karena menurutnya jika tidak kuat menghadapi cobaan, maka akan mati. Maka dari itu ia selalu bersemangat menjalani hari. Sekalipun baru terluka dan sakit hati. Lilia percaya jika semua akan berlalu seiring dengan waktu.
"Ketemu!" Tak lama kemudian ia melihat jasa pemasangan iklan murah. Lilia pun segera menghubungi nomor yang tertera.
Kembali ke persidangan...
__ADS_1
Dua jam berlalu akhirnya para hakim menemukan titik temu. Pihak yang berlawanan juga saling mengajukan banding atas sidang perceraian ini. Tampak Lea yang tak percaya saat Jake menyerang balik dirinya. Jake membeberkan semua bukti yang dimilikinya. Jake pun meminta keadilan kepada para hakim. Tentang siapa yang seharusnya disalahkan?
Jake berdiri di tengah-tengah persidangan. "Jika pihak penggugat menggugat saya dengan alasan mengapa tidak memberikan nafkah batin, maka saya akan menjawabnya sekarang." Jake mengambil kaset hitam dari atas meja. "Ini adalah bukti mengapa saya enggan memberikan nafkah batin kepada pihak penggugat. Karena di malam pengantin saja, dia masih bisa tidur dengan pria lain. Kira-kira bagaimana tanggapan Tuan-tuan jika berada di posisi saya?" Jake menunjukkan kaset hitamnya.