
Malam harinya...
Cuaca malam ini terasa panas tidak seperti biasanya. Lilia pun mengenakan daster merah tanpa lengan untuk menghilangkan rasa gerah yang dirasakannya. Rambut ia biarkan tergerai karena masih basah. Baru setengah jam yang lalu ia mandi dan menyegarkan diri. Dan kini ia sedang menonton berita di televisi. Lilia ingin mengetahui berita terkini.
"Kenapa dia belum pulang ya?"
Sudah jam sepuluh malam pria yang melamar Lilia itu belum pulang. Ia juga tidak memberi kabar kepada Lilia mengapa belum pulang ke rumah. Lilia pun mengambil ponsel untuk meneleponnya. Tapi, bersamaan dengan itu bel apartemennya berbunyi. Lilia pun segera membukakan pintunya.
"Dear?!"
Betapa terkejutnya Lilia saat melihat Alexander tengah dipapah oleh kedua orang karyawannya. Alexander tampak mabuk dan tidak kuat berjalan. Lilia pun terkejut melihatnya.
"Astaga!" Lilia lekas-lekas melebarkan pintu agar Alexander dapat dibawa masuk.
"Nona, Tuan mabuk. Kami segera membawanya ke sini sebelum terjadi apa-apa lagi." Dua orang karyawan Alexander itu bergegas membawa bosnya masuk.
"Bagaimana dia bisa mabuk?" Lilia tampak tak percaya.
__ADS_1
Alexander direbahkan di atas sofa. "Klien dari luar negeri datang dan mengajak kami bersulang. Tuan tidak enak menolaknya. Dan baru beberapa teguk saja, tuan sudah mabuk." Salah satu karyawannya menjelaskan.
"Astaga ...." Lilia pun segera mengambilkan air untuk prianya.
"Nona, kami izin pulang terlebih dahulu. Sudah malam. Besok pagi-pagi juga kami harus ke kantor." Dua orang karyawan Alexander itu berpamitan pada Lilia.
Lilia mengangguk. "Kalau begitu terima kasih." Ia pun mengucapkan terima kasih kepada karyawan Alexander.
Lilia mengantarkan keduanya sampai ke depan pintu. Ia pun segera masuk kembali lalu menutup pintunya dari dalam. Ia bergegas menemui Alexander yang tengah tidak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya?"
Beberapa menit kemudian...
"Dear ... sadarlah ...."
Alexander masih tidak siuman. Pria itu tertidur di sofa dengan kemeja yang sudah Lilia buka kancingnya. Lilia pun duduk di samping Alexander lalu mengompres dahinya. Membersihkan wajah prianya setelah lelah bekerja.
__ADS_1
Dear, sadarlah.
Alexander terlihat benar-benar mabuk. Aroma alkohol itu tercium sampai ke hidung Lilia. Lilia pun mencoba mengganti kemeja yang dikenakan Alexander dengan kaus biasa. Namun, saat ingin menggantinya, saat itu juga Lilia terpana. Bagaimana roti sobek itu begitu menggodanya.
Dear, kau sempurna.
Harus Lilia akui jika Alexander memiliki tubuh kekar nan maskulin yang tak jauh berbeda dari masa lalunya. Namun, getaran saat bersama Alexander terasa begitu berbeda. Lilia yang tergoda untuk memulainya. Sedang Alexander tampak biasa-biasa saja.
Lantas ia celupkan handuk kecil ke dalam baskom berisi air hangat lalu memerasnya. Setelah itu ia usapkan ke wajah dan juga dada Alexander. Lilia berharap semoga dengan cara ini Alexander bisa segera tersadarkan. Lilia sangat mengkhawatirkannya.
Dear, mabuk pun kau terlihat seksi.
Postur tubuh Alexander seolah membius pandangan matanya. Lengan kekarnya, dada bidangnya, perut kotak-kotaknya, membuat Lilia ingin menghakiminya. Tapi sebagai wanita, Lilia tidak ingin memulainya. Ia menunggu inisiatif dari Alexander sendiri.
"Lilia ...."
Tak berapa lama Alexander pun tersadarkan. Ia menyebut nama kekasihnya. Saat itu juga Lilia dengan sigap mendekatkan dirinya.
__ADS_1
"Dear, aku di sini." Lilia memberitahukan keberadaannya kepada Alexander.