
Paul pun mulai serius menanggapi permasalahan temannya. "Maaf." Ia pun segera meminta maaf.
Jake bukanlah orang yang suka menyia-nyiakan waktu dengan hal tak berguna. Kehidupannya begitu padat, pekerjaannya juga amat menyita waktu. Bahkan ia sampai tidak sempat untuk memikirkan dirinya sendiri. Ia adalah seorang pria berkomitmen tinggi yang memegang teguh prinsip hidupnya.
"Aku butuh teman untuk bertukar pikiran. Tapi tidak punya orang yang bisa dipercaya. Lagipula apa kata mereka saat tahu ceritaku ini. Pastinya mereka akan mengejekku. Dan aku tidak mau hal itu terjadi." Jake panjang lebar memaparkan.
Paul mengangguk. "Baik. Sekarang aku akan mendengarkan ceritamu. Ceritakan selengkapnya tentang permasalahan yang kau alami. Kau bisa percaya padaku." Paul berjanji.
Jake menghisap rokoknya. "Namanya Lilia..."
Jake pun mulai menceritakan seorang wanita yang mengganggu pikirannya. Tak lain adalah Lilia Hana. Wanita yang akhir-akhir ini menghantuinya dengan kerinduan yang mendalam.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian...
Angin pantai menerpa keduanya yang sedang berbincang. Burung-burung di lautan tampak berkejaran meramaikan suasana pagi. Ombak pun seakan menjadi saksi atas hal yang diceritakan Jake kepada temannya. Temannya pun tampak mengerti permasalahan yang melanda. Ia turut prihatin atas situasi yang terjadi.
Jake duduk merenung di kursi teras setelah menceritakan permasalahanya kepada Paul. Paul pun mencoba memberi saran padanya.
"Aku rasa ... kau harus meminta maaf, Jake." Akhirnya temannya itu bicara setelah mendengarkan cerita dari Jake.
Paul tampak prihatin dengan situasi yang melanda temannya. Ia ingin membantu tapi tidak mempunyai alasan yang kuat untuk ikut campur urusan rumah tangga orang. Ia hanya bisa memberikan sarannya.
"Hah ...," Paul mengembuskan napasnya. "Mendengar ceritamu, aku tak menyangka jika kau akan terjebak dalam kisah ini. Aku mengerti posisimu. Perjanjianmu dengan tuan Petrus membuatmu tidak bisa berbuat banyak. Aku jadi hanya bisa berharap tuan Petrus membatalkan perjanjian kalian. Itu saja." Paul mengambil sebatang rokok milik Jake lalu menghidupkannya.
__ADS_1
Jake terdiam sejenak. "Aku ... aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi aku ingin sekali bertemu dengannya." Jake mengungkapkan perasaannya.
Paul mengangguk. Ia mengerti. "Tapi situasi kalian sedang tidak memungkinkan, Jake. Terlebih putra Smith itu tidak akan melepaskan Lilia begitu saja." Paul menghisap batang rokoknya.
"Setidaknya bisa melihat dia baik-baik saja. Itu sudah cukup." Jake menarik napas panjang sambil mengusap wajahnya.
Paul mengembuskan asap rokoknya. "Kau jatuh cinta dengan pecinta. Tapi kau beruntung karena dicintai olehnya juga. Dia benar-benar mencintaimu, Jake. Tapi dia juga membutuhkan kepastian darimu." Paul menuturkan.
Jake diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa merenungi hal yang terjadi saat ini. Logikanya sedang tidak berfungsi.
"Mungkin kau menemukan sesuatu pada dirinya yang tidak didapatkan selama ini. Sehingga hatimu amat condong kepadanya. Ya, dibandingkan dengan Lea yang hanya menginginkan hartamu, lebih baik memang Lilia." Paul menuturkan.
__ADS_1
Jake menelan ludahnya. Senyum Lilia terbayang di benaknya. "Dia begitu indah," kata Jake yang membuat Paul menoleh seketika.
Paul menyadari jika temannya itu sedang jatuh cinta. Tapi Paul juga memaklumi jika Jake tidak mau mengakuinya. Ia cukup tahu bagaimana sifat Jake selama ini. Karena bukan hitungan tahun lagi mereka berteman, melainkan sudah dua puluh tahun mengenal pribadi masing-masing.