
Dear, kau ternyata seorang pekerja keras.
Mendengar perkataan Alexander di telepon, membuat hati Lilia terenyuh. Alexander ternyata amat sungguh-sungguh untuk mengembalikan keadaan. Pria itu menunjukkan dirinya sebagai seorang pekerja keras yang layak dijadikan suami. Lilia pun tersenyum memandangi pria yang baru saja melamarnya malam ini.
"Ya, baiklah. Senin kami akan sampai sebelum jam lima. Kami usahakan tidak mengecewakan Anda, Tuan." Dia berkata lagi di teleponnya.
Tak lama Alexander pun memutuskan sambungan teleponnya. Ia menghela napas setelah menerima telepon itu. Lilia pun segera mendekatinya.
"Dear, kenapa? Kau diminta bekerja esok hari?" tanya Lilia prihatin.
Alexander mengusap kepala Lilia. "Tak apa. Pemilik gedung ingin semua cepat selesai. Jangan khawatir." Ia menenangkan Lilia.
"Tapi Dear, jika memang tidak bisa berlibur esok hari, tak apa. Aku menunggumu saja di rumah. Atau apa yang bisa kubantu? Aku akan membantunya," kata Lilia lagi.
__ADS_1
Alexander terdiam sejenak. Ia memerhatikan kekasihnya. Tak lama kemudian ia pun menarik Lilia ke dalam pelukannya. "Aku tidak ingin merepotkanmu, Honey. Kau tenang saja di rumah. Semua akan baik-baik saja." Ia berjanji kepada Lilia.
Lilia menggelengkan kepala. "Tidak. Aku ingin membantumu. Malam ini izinkan aku membantumu," pinta Lilia lagi.
Alexander melepaskan pelukannya. "Kau yakin? Kita akan lembur malam ini." Ia mengingatkan Lilia.
Sejenak Lilia terdiam. Kenangan akan lembur bersama Jake dulu pun teringat kembali di benaknya. Namun, ia segera menepiskannya. Lilia tidak ingin mengingatnya lagi.
Alexander tertawa bahagia. Ia akhirnya mengiyakan ajakan Lilia. "Baiklah. Tapi jika lelah, tidur saja ya." Ia mencolek hidung kekasihnya.
Lilia bersemangat. "Tenang saja. Aku terbiasa begadang kok," ungkap wanita cantik bertubuh sintal itu.
"Dasar." Alexander pun mengusap kepala Lilia lagi.
__ADS_1
Malam ini kemesraan mereka akhirnya berakhir di depan meja kerja. Lilia pun membantu pria berambut pirang itu untuk menyusun rancangan bangunan yang telah diselesaikan. Lilia membantu mencetak dan menyusun lembaran demi lembaran rancangan. Hingga akhirnya tak tahu lagi sudah jam berapa.
Beberapa jam kemudian...
Pekerjaan Alexander sudah sampai di pertengahan jalan. Dilihatnya wanita yang menemaninya itu sudah tertidur di atas sofa. Ternyata Lilia tidak kuat menahan kantuknya. Pukul satu pagi ia sudah terlelap dalam mimpi.
Alexander segera beranjak bangun lalu melangkah pelan ke arah wanitanya. Ia angkat tubuh wanita itu ke dalam kamarnya. Ia merebahkan Lilia di kamarnya malam ini. Ia pun menatap wajah Lilia yang sedang tertidur dengan dalam sekali.
"Honey ...," Alexander menggenggam tangan Lilia. "Terima kasih telah bersedia menemaniku lembur malam ini. Secepatnya aku akan mengikatmu dengan seluruh jiwa dan ragaku. Bersabarlah selama di sini. Aku akan menggali bongkahan emas untukmu. Aku akan mempersiapkan segalanya dari hasil kerjaku sendiri."
Alexander tersenyum seraya mengusap wajah Lilia yang cantik. Wajah yang selama ini menariknya untuk terus mendekat dan mendekat lagi. Hingga akhirnya ia dapat melihat wajah itu di sepanjang harinya. Alexander telah mengikat Lilia secara pribadi. Ia pun mengecup kening wanitanya itu setulus hati.
Semua orang bisa bertemu dengan siapa saja, tapi tidak pernah tahu akan jatuh cinta kepada siapa. Begitulah hal yang dialami oleh Alexander. Yang ternyata ia jatuh cinta sungguhan kepada wanita yang dilihatnya di malam pesta.
__ADS_1