
Jake mengembalikan ponsel milik Jinny. Ia baru saja mengirimkan semua foto dan video yang Jinny dapat ke ponselnya. Jake menyimpannya sebagai bukti.
"Kita bicarakan lagi nanti. Aku masih ada urusan." Jake beranjak pergi.
Jinny menghela napas panjang. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk meminta Jake membebaskannya. Jake pun pergi dari hadapannya setelah mendapatkan bukti. Ia tampak tak berhati nurani sekalipun Jinny sudah berlinang air mata. Di hadapan orang lain Jake seperti tidak berperasaan sama sekali.
Tuan, sampai kapan kau menaruh aku di lingkaran setan ini? Dia sungguh kejam, Tuan. Aku takut dia mengetahui perjanjian kita. Aku dan keluargaku bisa berada di dalam bahaya.
Jinny mempunyai utang besar kepada Jake. Yang mana Jake menghabiskan bermiliar-miliar untuk membayar segala kebutuhan rumah sakit ayah dari Jinny. Tentu saja Jake tidak memberikannya dengan percuma. Jinny terikat olehnya dengan sebuah perjanjian yang tak bisa ditolak ataupun dibantah. Dan Jinny mau tak mau harus melakoni pekerjaannya. Itu semua demi melunasi utangnya kepada Jake.
__ADS_1
Jake sendiri tampak tidak tergugah dengan permohonan Jinny. Ia menolak Jinny pergi dari sisi Petrus karena masih membutuhkannya. Jake juga menolak pelunasan utang dari Jinny karena ia masih memerlukan Jinny untuk membantunya. Jinny pun tidak dapat membantahnya. Ia hanya bisa bersedih di tengah peran yang sedang dimainkan. Hatinya menginginkan kebebasan.
Pertemuan siang ini seolah tidak menghasilkan apa-apa bagi Jinny yang berada di dalam kerisauan. Jinny merasa risau bilamana perjanjiannya bersama Jake diketahui seseorang. Yang mana seseorang itu masih berstatus sebagai istri dari Jake sendiri, Lea Kenandra. Ia cukup tahu bagaimana Lea yang sesungguhnya.
Siang ini menjadi saksi seorang wanita untuk kembali menjalani perjanjian yang telah disepakatinya. Ia beranjak pergi dari teras atap kafe tersebut. Ia akan kembali menjalani pekerjaannya. Entah sampai kapan, ia berharap kebebasan itu segera didapatkan.
Sore harinya...
Ia adalah Helen, mantan istri dari seorang pengusaha terkaya ke tiga di ibu kota. Ia memilih hidup di pedesaan dan menjalani aktivitas barunya sebagai seorang florist. Ia mengisi hari-harinya dengan berkebun dan merangkai bunga menjadi buket. Tak lain untuk mengisi kekosongan dan kesepian hatinya.
__ADS_1
Kini ibu dari tiga anak itu sedang duduk menyeruput teh hijau di dekat perapian sambil membaca beberapa majalah wanita. Namun, sepertinya aktivitas itu harus terhenti kala bel rumahnya berbunyi. Bel rumahnya berbunyi sampai tiga kali. Seolah ada kepentingan mendesak yang harus segera ia urusi.
"Siapa ya?"
Wanita berblus hitam itupun beranjak untuk membukakan pintu. Sore hari yang mendung menemani dirinya menerima tamu. Dan ternyata tamunya itu adalah seorang wanita.
"Selamat sore. Apakah benar ini rumah Nyonya Helen?" Wanita berambut panjang itu berada di depan pintu rumahnya. Ia mengenakan pakaian yang glamor, membuat Helen berpikir ulang mengenai tamunya.
"Em, ya. Benar. Anda siapa ya?" tanya Helen kepada tamu itu.
__ADS_1
Tamu wanita itu tersenyum. Terlihat tas yang disampirkan di pundak kirinya adalah tas bermerek yang Helen tahu pasti berapa harganya. Helen pun tampak memerhatikan wanita itu.
Wanita itu mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan. "Nyonya, perkenalkan. Namaku Bian. Kedatanganku ke sini untuk memesan tiga buket bunga lily. Maaf tidak mengabarimu sebelumnya karena aku terburu-buru." Wanita itu mengatakan.