PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Remember


__ADS_3

"Bian? Anda tahu dari mana rumah ini?" tanya Helen yang heran.


Bian tersenyum. "Em, maaf. Aku sedang berkunjung ke desa ini lalu ingin mencari buket bunga hidup. Aku bertanya kepada warga sekitar lalu mereka menunjukkan rumah ini padaku. Aku harap Nyonya bisa membantu. Karena buket itu akan kuberikan kepada orang paling spesial dalam hidupku." Bian berharap penuh.


Helen mengerti. Ia mengangguk mendengar penjelasan sang tamu. "Mari, kita langsung ke belakang saja. Nona bisa memilihnya sendiri." Helen pun mengizinkan Bian untuk memilih bunganya sendiri.


Tamu wanita yang datang sore ini ke rumah mantan istri dari Smith itu memang benar adalah Bian. Ia datang bukan tanpa alasan, melainkan untuk satu tujuan yang sudah direncanakan. Tak lain tak bukan karena perintah Jake seorang. Bian pun melihat-melihat keadaan rumah ibu Alexander ini. Ia tampak terpukau dengan tanaman hias yang Helen miliki. Hingga akhirnya ia bergumam sendiri.


Tuan Jake memintaku datang untuk merelaksasikan pikiran. Tapi sepertinya aku tertarik untuk mempunyai usaha ini. Lilia, kau sungguh beruntung diperebutkan dua pria kaya sekaligus. Harusnya aku bisa belajar darimu.


Keduanya melangkahkan kaki menuju kebun yang ada di belakang rumah. Tak lama Helen pun mempersilakan Bian memasuki kebunnya. Helen membiarkan Bian memilih sendiri bunga lily seperti apa yang diinginkan. Bian pun mulai melancarkan tujuannya. Ia diminta oleh Jake untuk menjalankan misi.

__ADS_1


Sementara itu...


Jake menghadiri sebuah undangan pertemuan penting dengan pejabat kota. Ia berjalan menuju ruangan pertemuan seorang diri. Tampak di sepanjang koridor terlihat beberapa pengusaha yang berbincang. Tapi Jake memilih untuk berjalan sendirian. Hingga akhirnya ia sampai di belokan koridor gedung. Saat itu juga ia bertemu seorang pengusaha kelas menengah kota ini.


"Tuan Jake?" Pengusaha itu tampak semringah lalu mengajak berjabat tangan.


"Hah, ya." Jake hanya berkata seperti itu.


"Baik." Keduanya berjalan bersama menuju ruang pertemuan.


"Tuan Jake, bisakah ajari aku agar cepat kaya? Aku ingin sekali seperti Tuan." Pengusaha itu tampak berbasa-basi.

__ADS_1


Jake melirik sekilas. "Kau sudah tahu jawabannya. Tak perlu bertanya lagi." Jake tampak malas menanggapi.


Pengusaha itu tersenyum. Ia tahu jika suasana hati Jake kurang bagus untuk diajak bercanda saat ini. "Tuan, bagaimana jika nanti malam kita datang ke kasino. Mungkin Tuan bisa mengajariku di sana. Kita juga bisa menyewa penari untuk menghibur." Pengusaha itu menawarkan.


Saat itu juga Jake menghentikan langkah kakinya. Pengusaha itu pun terdiam melihat Jake berhenti melangkah. Ia merasa heran dengan sikap Jake yang tiba-tiba berubah. Ia juga menjadi tak enak sendiri dengan ucapannya. Ia khawatir ucapannya menyinggung Jake.


"Tuan. Maaf." Pengusaha itupun segera meminta maaf.


Jake berhenti melangkah bukan karena perkataan orang itu. Melainkan teringat dengan seorang wanita yang pernah menemaninya bermain judi. Dan wanita itu adalah Lilia. Saat itu juga ia mengepalkan tangannya. Jake merasa bersalah karena pernah mengekspos Lilia di hadapan para bos besar lainnya. Ia membenci dirinya sendiri.


Lilia ....

__ADS_1


Hatinya tidak dapat berbohong walaupun pikirannya dipenuhi kearogansian. Masih teringat jelas bagaimana dirinya yang meminta Lilia untuk memakai pakaian seksi nan terbuka lalu menari di hadapan para temannya. Saat itu juga matanya berkedut seolah memberi tanda. Jake menyesal telah melakukan semua itu kepada Lilia.


__ADS_2