PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
I am So Sorry


__ADS_3

"Tak apa. Aku ingin mencari udara segar," pinta Jake lagi.


Lilia pun mengerti keinginan Jake. "Baiklah. Aku ganti baju dulu, ya?" Lilia ingin mengganti bajunya lebih dulu.


Jake mengangguk. Lilia pun segera ke lantai dua untuk mengganti pakaian. Sedang Jake menghampiri master kue yang ia sewa. Ia ingin meninggalkan pesan kepada master kue tersebut. Jake juga ingin makan siang di luar bersama Lilia.


Makan siang di teras atap sebuah kedai...


Jake membawa Lilia ke teras atap sebuah kedai cepat saji. Ia menyewa atap teras tersebut untuk makan siang bersama dan berbicara empat mata dengan Lilia. Lilia pun tampak menikmati santap siangnya sambil melihat keadaan sekitar.


"Aku sedang dalam proses perceraian dengan Lea." Jake membuka pembicaraan.


Saat itu juga Lilia hampir tersedak makanannya sendiri. Ia cepat-cepat meminum airnya. "Hah? Kau serius?" Lilia tak percaya.


Jake mengangguk. "Sudah dua kali sidang. Minggu besok keputusan finalnya," kata Jake lagi.


Entah mengapa Lilia jadi kurang berselera makan. "Jangan bilang karena aku." Lilia tidak enak hati.

__ADS_1


Jake tersenyum. "Apapun alasannya, aku dan Lea memang tidak pernah saling mencintai. Seperti kataku waktu itu. Pernikahan kami hanya sebatas hubungan bisnis." Jake mengingatkan kembali akan perkataannya.


Lilia terdiam. Ia tatap pria yang duduk di hadapannya. "Aku tidak bisa banyak berkomentar. Kau pasti lebih tahu apa yang terbaik." Lilia no coment terhadap sidang perceraian Jake.


"Aku mengerti." Jake pun mengangguk.


Suasana teras atap tampak berubah kala Lilia memutuskan untuk tidak berkomentar tentang sidang perceraian Jake. Ia merasa hal itu bukanlah ranahnya. Sehingga ia tidak berani ikut campur. Walau ia tahu maksud Jake mengatakan hal itu padanya.


"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman waktu itu, Lilia. Maukah kau mendengarnya?" Jake bertanya lebih dulu.


"Tentang Bian," jawab Jake cepat.


Saat itu juga Lilia teringat kembali dengan hal yang amat menyakitkan hatinya.


"Lilia, kau mendengarkanku?" Jake menahan tangan Lilia agar tidak pergi.


Lilia menelan ludahnya. "Kau ingin membuka bekas luka di hatiku?" Lilia tampak berubah roman wajah. Ia terlihat dingin seketika.

__ADS_1


Jake menggelengkan kepalanya. "Tidak, Lilia. Aku ingin kau tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku tidak ingin kau terus-terusan salah paham. Dengarkan aku, ya? Sebentar saja," pinta Jake lagi.


Lilia menarik napas dalam-dalam. Ia merasa tidak perlu mengingat kembali hal yang menyesakkan dada. Sedang Jake tampak ingin menjelaskan semua. Ia tidak ingin Lilia berlarut-larut dalam kesalahpahaman.


"Pertama, tentang kedatangan Lea ke Sky Grup." Jake mulai menjelaskan.


Lilia diam. Ia meneguk air minumnya. Ia akan mendengarkan apa yang ingin Jake katakan. Karena ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Walau nyatanya, ia sudah tidak ingin mengingat-ingatnya lagi.


Jake menarik napas dalam. "Aku sungguh tidak tahu jika Lea akan datang ke Sky Grup hari itu. Jika tahu, mungkin aku bisa mencegahnya." Jake menerangkan.


Lilia diam. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Aku juga harus meninggalkanmu di rumah sakit untuk mencari tahu apa yang terjadi. Hari itu juga aku mengeksekusi," terang Jake kepada Lilia.


Lilia menelan ludahnya. "Kau terlalu sibuk, Jake." Lilia hanya bisa berkata seperti itu.


Jake mengerti. "Maafkan aku, Lilia. Banyak urusan yang harus kuselesaikan hingga tak sempat menemanimu di rumah sakit. Saat itu juga aku belum bisa mengontrol emosiku. Aku tidak bisa menerima kenyataan bilamana telah kehilangan anakku." Jake mengatakannya seraya mengalihkan pandangan dari Lilia. Ia tidak sanggup melihat Lilia secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2