PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
I am Sorry


__ADS_3

Jalan raya menjadi saksi penyesalan Jake atas perbuatannya yang telah lalu. Ia amat menyesali betapa bodoh dan kejam dirinya kepada seorang wanita yang tengah mengandung anaknya. Dan kini buah hati itu telah gugur tanpa sempat menatapnya. Jake membenci dirinya sendiri.


Lilia ....


Lampu hijau menyala. Mobil yang dikendarai oleh supir Jake pun mulai melaju. Deru kendaraan yang bising ternyata tidak mempengaruhi suasana hatinya. Jake tidak menghiraukan keadaan sekitarnya.


Dadanya mulai terasa sesak kala mengingat apa yang sudah terjadi. Logikanya pun kandas saat mengingat janin yang tak berdosa harus menjadi korban peperangannya. Jake tidak sanggup menahan kesedihannya.


Jake tidak dapat membohongi hatinya kala mengingat perlakuannya terhadap Lilia. Begitu besar dosa yang ia lakukan terhadap wanita yang pernah mengandung anaknya. Jake menyesali dirinya sendiri. Mengapa semua bisa sampai seperti ini. Ia tidak menduga jika sebegitu kejamnya terhadap Lilia.


Lilia, apakah kau masih bisa memaafkan kesalahanku dulu?


Rasa perih karena penyesalan itu kini menyelimuti hatinya. Jake ingin kembali memutar waktu dan memperbaiki semuanya. Namun sayang, hal itu hanya sebatas angan semata. Karena nyatanya, Lilia kini sudah bahagia bersama Alexander di sana. Di Dubai, di salah satu kota metropolitan yang ada di Timur Tengah.

__ADS_1


Menyesal kini tak ada gunanya. Wajah mungil akan harapan masa depan itu tidak bisa ia lihat selamanya. Gugur sebelum berkembang, mati sebelum sempat melihat ayahnya. Jake merasa amat bersalah.


Waktu itu di rumah sakit...


"Tuan, nona Lilia mengalami pendarahan. Janinnya gugur dan tidak bisa terselamatkan." Dokter yang menangani Lilia mengabarkan.


"Apa?!" Jake tidak percaya. "Tidak. Tidak mungkin. Kalian pasti salah. Coba diperiksa lagi." Jake ingin dokter lebih memastikan.


Saat itu juga Jake seperti tidak bisa berkata apa-apa. Dunianya seolah runtuh, harapannya seakan sirna. Ia tak menyangka akan mendengar kabar ini langsung dari dokter yang menangani Lilia. Jake kehilangan sebagian dirinya dalam waktu sekejap saja.


"Kami turut berduka atas pendarahan yang dialami nona Lilia. Tuan harap bersabar." Sang dokter berusaha menenangkan dirinya.


.........

__ADS_1


Kenangan itu masih teringat jelas di benak Jake. Bagaimana ia melihat janin yang masih berbentuk gumpalan darah itu mulai menghitam. Saat itu juga ia merasa amat bersalah. Ia kehilangan jiwanya.


Ya Tuhan ....


Jake menarik napas dalam-dalam, mencoba mengambil udara yang seakan kian menjauh darinya. Sang supir pun menyadari apa yang terjadi pada bosnya.


"Tuan, Anda baik-baik saja?" Sang supir menanyakan perihal yang terjadi kepada Jake.


Dari kaca tengah mobil itu sang supir bisa melihat wajah Jake yang mulai memerah. Ia juga melihat bos besarnya mulai berlinangan air mata. Tak pernah sebelumnya melihat Jake seperti ini. Apalagi sampai menitikan air mata. Selama ini Jake dipandangnya begitu kuat dan tak terkalahkan. Tapi saat ini ia melihat bosnya begitu berbeda. Jake juga terlihat berulang kali menelan ludahnya.


"Aku baik-baik saja." Jake pun menjawabnya sambil menahan sesak di dada. "Naikkan pembatasnya. Aku ingin tidur sebentar." Ia meminta kepada supir.


Sang supir pun mengerti. Ia menaikkan pembatas yang ada di tengah-tengah mobil. Jake pun mulai menyandarkan punggungnya. Ia mengusap kepalanya sendiri. Jake menyesali apa yang telah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2