PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Be My Wife


__ADS_3

Sungguh tak bisa ia percaya jika hari ini akan bertemu dengan Jake. Setelah rasa sakit begitu menyesakkan dada, Jake datang dan mengatakan ingin menjemputnya. Lilia pun menarik napas dalam-dalam.


"Jake, apakah benar ini dirimu?" tanya Lilia yang masih tak percaya.


Jake menganggukkan kepala di tengah rasa sedih yang ia rasakan. Dadanya sesak, napasnya mulai tak beraturan. Ia ingin sekali memeluk Lilia dengan segera. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Sedang Lilia merasa bingung harus melakukan apa. Hari ini seperti mimpi saja.


Kenangan akan hal indah itu pun teringat kembali di benak Lilia. Bagaimana hari-hari indah bersama Jake dilaluinya. Saat itu juga Jake mengatakan hal yang sangat mengejutkannya.


"Aku datang untuk memperistrimu, Lilia. Kemarilah dan sambut aku," kata Jake yang membuat Lilia tidak bisa berkata apa-apa.


"Jake ...?!" Lilia tak percaya.


Jake mengangguk. Terlihat linangan air mata mulai menggenangi bola mata birunya. Ia pun merentangkan kedua tangannya. Berharap Lilia menyambutnya.


"Kemarilah, Lilia. Sambut aku," kata Jake yang membuat langkah kaki Lilia terasa lebih ringan untuk mendekatinya.


"Jake ...."

__ADS_1


Pada akhirnya Lilia berjalan cepat mendekati sosok pria yang baru saja datang ke tokonya. Lilia menghambur ke pelukan Jake dengan hati yang gembira. Kalimat demi kalimat yang Jake katakan mampu membuat Lilia tersadar jika Jake memang datang hanya untuk menemuinya.


"Jake!"


Kedua tangan Lilia melingkar begitu saja di leher Jake. Jake pun kembali merasakan betapa hangat tubuh yang ia rindukan itu. Dengan air mata yang hampir tumpah, Jake membalas pelukan Lilia. Ia peluk seorang wanita yang pernah mengisi harinya dengan canda dan tawa. Ia adalah Lilia Hana.


"Kau baru datang, Jake. Ke mana saja selama ini?"


Entah mengapa Lilia bertanya seperti itu kepada Jake. Seolah ia juga ikut menantikan kehadiran Jake. Sedang Jake tampak menahan air matanya.


"Kau jahat, Jake. Kau jahat!"


Lilia menangis. Tentu saja ia menangis karena akhirnya Jake menemuinya. Pria itu adalah cinta pertamanya. Hatinya tidak bisa berbohong jika begitu senang saat bertemu dengan Jake kembali. Begitu juga dengan Jake. Ia memeluk Lilia dengan curahan kasih sayangnya.


"Kau tadi bilang ingin memperistriku. Apakah kau sedang berbohong?" tanya Lilia sambil menahan suara tangisnya.


Jake menggelengkan kepalanya di bahu Lilia. "Tidak. Aku bersungguh-sungguh kali ini." Jake meyakinkan Lilia.

__ADS_1


Lilia merasa begitu terharu. Ia usap air matanya lalu melepaskan pelukan. Ia pastikan jika di hadapannya ini memang benar Jake Thompson. Pria yang berhasil mendapatkan segala apa yang ia punya. Lilia pun berusaha tersenyum kepada Jake.


"Ini seperti mimpi, Jake. Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Lilia kepada Jake.


Jake menahan air mata yang hampir membasahi pipinya. Sebisa mungkin menguatkan hatinya agar tidak terlihat lemah di hadapan Lilia. Tapi tetap saja linangan air mata itu menggenangi bola mata birunya.


"Ini nyata, Lilia. Ini nyata." Jake pun mencubit pipi Lilia.


"Aw!" Lilia merasa sakit.


"Benar kan nyata?" tanyanya lagi dengan intonasi amat lembut.


Lilia mengangguk. Ia menatap dalam pria di hadapannya. Ia pun memegang wajah Jake. "Ini asli, Jake." Lilia pun mengusap wajah itu.


Jake tertawa di tengah air mata yang ingin tumpah. Ia pun menarik tubuh Lilia kembali ke dalam pelukannya. Ia ingin terus merasakan kehangatan itu.


"Tidak ada kepalsuan di antara perasaan ini, Lilia. Aku benar-benar datang untuk memperistrimu," terang Jake dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2