
Pukul 8.30 malam di pelabuhan kota...
Jake mengajak Lilia makan seafood di pinggir pelabuhan. Malam berbintang menjadi saksi betapa bahagia hati seseorang. Di sisi lain sang wanita tampak enggan menyantap hidangan yang telah disajikan. Jake pun menahan tawa kala melihat wajah Lilia yang lucu. Ia merasa gemas sekali.
Ini adalah makan malam pertama mereka di tempat yang romantis. Lilin-lilin merah menyala dengan indah bak lentera yang memancarkan sinarnya. Gelas-gelas kaca melindunginya dari angin pelabuhan yang kencang. Jake pun memerhatikan Lilia. Betapa wajah itu begitu dirindukannya.
Babe, kau terlihat begitu indah di mataku. Kau cantik, lucu dan juga ....
Jake tertawa sendiri. Ia tak mampu melanjutkan kata-kata di dalam hatinya. Ia merasa geli saat mengingat tingkah laku Lilia yang menggodanya. Karena kini wanita itu berada di hadapannya.
Sementara itu, Lilia hanya mampu memegang sendok dan garpunya. Ia masih enggan untuk menyantap hidangan seafood yang telah disajikan. Bagaimana tidak, satu porsinya seharga setengah juta. Lilia merasa kebingungan harus membayar dari mana. Sedang tiga pesanan kuenya saja tidak sampai sebesar itu.
Harganya mahal. Kira-kira kalau tidak jadi memakannya, disuruh bayar tidak, ya?
__ADS_1
Lilia memikirkan pembayaran seafoodnya. Ia merasa berat mengeluarkan uang banyak hanya untuk satu porsi seafood. Sedang Jake tampak tersenyum-senyum sendiri di hadapannya.
Semenjak memutuskan untuk menjalankan usaha, Lilia harus memperhitungkan masak-masak sebelum mengeluarkan uangnya. Ia harus memikirkan bagaimana cara agar modal bisa kembali dengan cepat. Ia merasakan benar bagaimana sulitnya hidup di perantauan. Apalagi membuka usaha tanpa bantuan. Sehingga semaksimal mungkin ia memanfaatkan uang tabungannya.
"Masih tidak ingin makan?" Jake tampak menyantap udang krispi yang telah disajikan.
Lilia menelan ludahnya. Ia juga lapar. Tapi ia menahannya karena uangnya tidak cukup untuk membayar. Sedang Jake...
"Astaga ...," Ia menepuk dahinya sendiri. "Makanlah, Babe. Jangan pikirkan bagaimana cara membayarnya. Makan ya." Jake pun mengambilkan udang krispi ke piring Lilia yang masih kosong.
"Aku yang bayar. A-ku-yang-ba-yar." Jake mengeja kata-katanya. Ia gemas sekali kepada Lilia.
Lilia akhirnya tersenyum. "Kenapa tidak bilang dari tadi." Ia memasang wajah cemberutnya. Dengan tanpa merasa berdosa ia pun segera mengambil satu per satu hidangan yang telah disajikan.
__ADS_1
Dasar!
Saat itu juga Jake tertawa. Ia menutupi mulut dengan tangannya. Ia merasa bahagia. Tatapannya penuh cinta ke Lilia. Malam ini Jake akan mengutarakan perasaannya. Ia pun berharap Lilia mau menerimanya.
Selepas makan malam...
Keduanya duduk di pinggir pelabuhan bak menantang angin yang kencang. Jake pun segera melepas jaketnya lalu dipakaikan kepada Lilia. Ia ingin mengobrol sebentar sebelum kembali pulang. Jake tidak bisa berlama-lama di Malaysia.
"Sudah lama kita tidak bersantai seperti ini." Jake membuka percakapannya.
Lilia menoleh ke arah Jake yang duduk di sisinya. "Udara dingin. Kau tidak merokok?" tanya Lilia yang tampak heran karena Jake tidak lagi merokok di hadapannya.
Jake tersenyum, tertunduk, lalu melihat ke lautan yang begitu luas. "Aku pelan-pelan berhenti merokok. Sekarang lebih banyak menyusu," kata Jake yang membuat Lilia terkejut.
__ADS_1
Menyusu? Dia memancingku?
Entah mengapa pikiran Lilia jadi yang tidak-tidak saat Jake mengatakan hal seperti itu. Jake pun tampak memerhatikan sikap Lilia yang menelan ludahnya setelah ia bicara. Jake tertawa. Ia tertawa kecil lalu menarik Lilia agar merebahkan kepala di bahunya.