PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Damn


__ADS_3

Setengah jam kemudian...


Jake datang ke bandara ibu kota. Ia berjalan cepat memasuki lobi bandara. Sedang sang supir menemaninya. Ia ingin menemui Lilia di sana. Tim yang dibuatnya untuk menjaga Lilia pun segera menghadapnya begitu tiba.


"Bagaimana?" tanya Jake segera kepada timnya.


"Tuan, pesawat sudah lepas landas. Kita tidak bisa membatalkan penerbangannya," terang salah seorang timnya.


"Apa?!"


Saat itu juga langit bak runtuh. Jake kecewa. Ia merasa sia-sia datang ke bandara. Ia tidak bisa menemui Lilia.


"Tuan, saat kita meminta pembatalan penerbangan, pesawat sedang lepas landas dan tidak bisa menerima pemberitahuan. Hanya menara pusat yang bisa terhubung dengan pilotnya," terang timnya lagi.

__ADS_1


"Astaga ...." Jake tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa frustrasi kali ini. "Berikan aku kabar terkini tentangnya. Segera!" Jake pun lekas kembali ke mobilnya.


Jake berusaha mengejar Lilia. Ia ingin sekali bertemu dengan Lilia. Tapi sayang, takdir berkata lain mereka. Sedang dirinya merasa ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat Lilia pergi ke luar negeri seorang diri. Jake ingin memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dan menjelaskan semuanya.


Jake masuk ke dalam mobilnya. Ia mengambil napas kuat-kuat karena kesal tidak berhasil menemui Lilia. Sedang sang supir pun ikut masuk lalu menghidupkan AC mobilnya. Ia mencoba mendinginkan suasana hati Jake yang kecewa.


Lilia, ternyata sulit sekali untuk bertemu denganmu.


Tak lama berselang ponselnya kembali berdering. Ternyata telepon itu dari Lara. Jake pun segera mengangkatnya. "Halo?" Dengan perasaan kecewa ia harus kembali bersikap sebagai seorang bos besar perusahaan terkemuka.


Jake memijat pelipis kepalanya. "Baik. Minta bantuan karyawan kafetaria untuk mendapatkan rekaman CCTV dan audio booknya." Jake meminta.


"Baik, Tuan." Lara pun mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Jake menarik napas panjang dan dalam. Masalah satu belum selesai, sudah datang masalah lainnya. Ia merasa kewalahan karena tidak memiliki sandaran. Ia ingin mempunyai seseorang yang bisa menjadi tempat berbagi suka dukanya.


Lilia, kenapa kau pergi? Kenapa tidak menemuiku lebih dulu?


Jake pun meminta kepada supirnya untuk segera melaju ke GOC. Ia harus menyelesaikan pekerjaan sebelum malam datang. Ia begitu sibuk hingga tidak lagi sempat memikirkan dirinya. Terlebih hatinya kini begitu ingin menemui Lilia. Logika dan perasaannya sedang tidak seimbang. Lantas apa yang akan Jake lakukan?


Sementara itu di rumah sakit...


Jinny dengan setia menunggu Petrus tersadar. Ia diminta oleh Jake untuk tetap berjaga bagaimanapun situasinya. Dan kini Jinny sedang berada di samping Petrus sambil berdoa. Ia berharap Petrus lekas tersadarkan.


Ya Tuhan, tuan Petrus sangat baik. Sembuhkanlah penyakitnya. Dunia masih membutuhkan orang baik sepertinya.


Dua tahun berumah tangga, sekalipun Jinny tidak pernah disentuh olehnya. Selama itu juga Petrus sering mengajak Jinny pergi ke berbagai tempat dan dikenalkan dengan banyak orang. Petrus sering datang ke panti asuhan dan membagi hasil panen kelapa sawitnya. Tak tanggung-tanggung, puluhan panti asuhan didatangi olehnya. Petrus suka sekali menderma.

__ADS_1


Di lain sisi Jinny ingin tahu siapa gerangan foto bayi yang waktu itu dilihat oleh Petrus. Ia merasa akan mendapatkan informasi jika Petrus mau menceritakannya. Namun sayangnya, Petrus belum juga menceritakan siapa bayi di foto tersebut. Jinny pun tidak dapat memaksakannya.


__ADS_2