PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Come On, Babe


__ADS_3

"Astaga!" Lilia pun menepuk jidatnya sendiri. Ia tidak tahu harus bagaimana.


Pembuat roti akan datang pada pukul tujuh. Sedang ini sudah jam enam lewat lima puluh. Jake, kau ingin membuatku malu?!


Lilia bergumam dalam hatinya.


Karena kesal, ia akhirnya tidak menghiraukan Jake lagi. Ia berniat pergi dan membalikkan badannya menuju lantai satu. Namun, saat itu juga Jake menarik tangannya. Sontak Lilia terjatuh di atas tubuhnya.


"J-jake ...?" Lilia jatuh begitu cepat di atas perut Jake.


"Lilia ...." Jake pun menyambut pagi dengan melihat wajah cantik Lilia.


"Jake ... bangun. Nanti pembuat roti terburu datang." Lilia mengingatkan.


"Sudah bangun," jawab Jake singkat sambil tetap menatap paras cantik itu.


Lilia pun beranjak bangun. Namun, tangannya di tahan oleh Jake. "Jake?"


"Lilia, apakah kau teringat dengan posisi ini?" tanya Jake yang mulai mengingat kenangannya bersama Lilia.

__ADS_1


"Di apartemen?" Lilia memastikan.


"He-em." Jake mengangguk.


"Jake, kita tidak punya waktu untuk mengingat kejadian itu. Ayo, cepat bangun! Pembuat roti akan datang!" Lilia memperingatkannya.


Jake menggelengkan kepala. "Tidak mau, sebelum kau cium aku sama seperti waktu itu." Jake berubah. Bukan lagi seperti dirinya.


"Jake ...?" Lilia merasa bingung menghadapi Jake yang seperti ini.


Jake diam. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memajukan bibirnya di hadapan Lilia. Ia minta dicium. Saat itu juga Lilia memerhatikan siapa pria yang ada di depan matanya.


Benarkah dia Jake? Kenapa aku merasa dia begitu berbeda?


Lama sekali. Apa perlu aku yang menciumnya?


Jake pun mulai kesal karena menunggu lama. Sementara Lilia memerhatikannya. Bola mata Lilia bergerak memerhatikan pria yang ada di hadapannya. Kenangan saat di apartemen itu pun terlintas di benaknya. Bagaimana Jake yang diam saja saat diciumnya.


"Jake, aku tidak mau menciummu. Kau belum mandi," kata Lilia yang sontak mengembalikan raut wajah Jake menjadi muram.

__ADS_1


Dia ini!


Jake kemudian mendorong Lilia. Lilia pun hampir jatuh karenanya. "Baiklah. Pergi sana!" Jake mengusir Lilia. Ia beranjak berdiri.


"Eh?!" Lilia pun terkejut dengan pengusiran Jake. Ini tokoku. Kenapa dia yang mengusirku?


Jake meneguk botol mineral yang ada di sampingnya. "Kau terlalu banyak alasan, Lilia. Tidak cepat bergerak." Jake mengejek Lilia.


"Jake!" Lilia pun ikut berdiri lalu segera menarik tangan Jake. "Kau bilang apa tadi?" Wajah keduanya pun berdekatan.


Jake sengaja melakukan hal ini agar Lilia dekat dengannya. Ia pun menatap wajah Lilia yang mulai kesal padanya. Saat itu juga getaran di hatinya muncul dan mendominasi pikirannya. Jake meraih pinggang Lilia. Ia membawa Lilia ke dekapannya.


"Jake ...."


Saat itu juga Lilia tahu apa yang akan terjadi. Jake pun memiringkan wajahnya. Ia ingin meraih sesuatu yang terpoles lipstik merah.


Tidak. Jangan. Lilia ingin menolaknya.


"Permisi!" Tiba-tiba saja suara bel terdengar bersamaan dengan suara orang yang berteriak kencang. Seketika itu juga Lilia dan Jake tersadarkan.

__ADS_1


Lilia segera menjauh dari Jake. "Tu kan benar, sudah datang. Cepat mandi!" Lilia pun meminta Jake segera mandi.


Lilia lekas pergi ke lantai satu untuk membukakan pintu tokonya. Sedang Jake, ia tinggal begitu saja. Ia tidak lagi memedulikan kemauan Jake yang ingin menciumnya. Lilia hanya fokus ke aktivitasnya saja. Jake sendiri tampak gundah-gulana. Sesuatu di bawah sana sudah mencari lawannya.


__ADS_2