
Sebuah proyektor menyorot langit restoran malam ini. Di mana proyektor itu menghasilkan sebuah gambar tiga dimensi berupa kotak cincin. Kotak cincin itupun perlahan-lahan terbuka lalu mengeluarkan cincinnya. Sesaat kemudian kotak itu berubah menjadi jari tangan yang indah. Cincin itupun masuk ke jari manis tangan tersebut. Lilia pun terpana dibuatnya. Ia mengerti akan maksudnya.
Jake, jadi hal ini yang telah kau persiapkan untukku?
Lilia menoleh ke arah Jake yang berdiri di sampingnya. Tapi, saat itu juga ia sudah tidak menemukan Jake berada lagi di sana. Ia kebingungan mencari Jake ada di mana.
"Jake!"
Lilia terpukau melihat gambar tiga dimensi hingga tak lagi menyadari di mana keberadaan prianya. Lilia pun memutar tubuhnya mencari di mana keberadaan pria yang tadi bersamanya. Lilia berusaha mencarinya.
"Jake, kau di mana?!"
__ADS_1
Lilia berteriak. Ia mencari-cari Jake. Ia kemudian berlari ke arah restoran itu. Namun, tak lama terdengar suara helikopter yang mendekat. Dan ternyata benar, ada sebuah helikopter yang datang dan ingin melintas di atasnya. Lilia pun melihat ke arah helikopter itu sebelum sempat sampai ke restoran. Saat itu juga ia melihat Jake tengah menggantung di atas sana. Di tangga helikopter yang dibiarkan terjulur ke bawah. Jake membawa banyak bunga mawar di tangannya.
"Jake ...."
Betapa haru Lilia saat helikopter itu perlahan-lahan menurunkan Jake. Lengan kekar Jake seolah membuktikan jika ia mampu melakukan segala hal yang tak mungkin. Baling-baling helikopter itu pun membuat keadaan sekeliling Lilia bak terkena angin kencang. Rambut Lilia yang dibiarkan tergerai, melayang-layang terembus anginnya. Jake pun segera turun lalu mendekati Lilia sambil membawa seikat bunga mawar merah yang besar. Jake berjalan mendekati Lilia.
"Ini untukmu, Babe." Jake menyerahkan seikat bunga mawar kepada Lilia.
"Jake?" Lilia terpana dibuatnya.
Lilia tersentuh. Ia tidak tahu harus berkata apa. Menerima bunga mawar sebanyak ini pun tidak pernah terlintas di benaknya.
__ADS_1
Jake kemudian duduk berlutut. Ia menekuk satu kakinya di hadapan Lilia. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Lilia, will you marry me?" tanya Jake yang membuat hati Lilia kembang-kempis seketika.
"Jake ... ini ...?"
Lilia tak percaya. Di hadapannya kini sudah ada sepasang cincin yang sama. Lilia pun menelan ludahnya, berulang kali karena tak percaya.
"Aku penuhi keinginanmu, Babe. Maka penuhilah keinginanku. Menikahlah denganku," kata Jake yang meminta Lilia menerimanya. Ia pun tidak beranjak dari duduknya. Ia bak pengemis cinta kepada Lilia.
Detak jantung itupun seakan melambat. Bunga-bunga cinta bersemi kembali dengan cepat. Lilia begitu terharu dengan apa yang Jake lakukan untuknya malam ini. Sementara Jake masih menunggu jawaban darinya. Ia berharap Lilia dapat menerimanya.
__ADS_1
Jake, aku ... tidak bisa berkata apa-apa.
Helikopter yang masih berada di atas mereka pun seolah menjadi saksi akan detak jantung yang kian melambat karena rasa bahagia menyelimuti hati. Hampir-hampir saja air mata itu ikut tumpah menampakkan kebahagiaannya. Lilia sendiri tidak bisa berkata apa-apa selain hanya mengangguk kepada Jake. Dadanya dipenuhi gemuruh cinta yang tak mampu terbendung lagi. Kini cinta pertamanya itu telah memberikan apa yang ia inginkan. Lilia bahagia sekali.