
Beberapa jam kemudian, menjelang malam...
Semburat merah telah berganti gelap, menyelimuti langit kota metropolitan di Timur Tengah. Udara pun terasa dingin memasuki malam hari. Namun, sepertinya hal itu tidak berpengaruh bagi kedua insan yang sedang dimabuk asmara. Tampak seorang wanita tengah berdandan ria di dalam kamarnya. Sedang sang pria menunggu di teras luar sambil memandangi keindahan langit malam ini.
Ia adalah Lilia dan Alexander yang akan makan malam bersama di menara tertinggi Kota Dubai. Menikmati hari-hari terakhir karena esok sudah harus kembali ke dalam negeri. Tampak wanita bertubuh sintal itu mengenakan gaun hitam panjangnya. Ia berdandan bak wanita dewasa yang sudah siap dipersunting prianya.
"Baiklah. Saatnya berangkat."
Lipstik merah, blash on pink dan parfum beraroma cokelat pekat menemani langkah kakinya menemui Alexander yang sedang menunggu di teras apartemen. Ia kemudian melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lewat. Ia pun lekas-lekas mendekati pria berjas hitam itu lalu menyapanya.
"Dear."
Lilia berdandan anggun malam ini untuk Alexander. Alexander pun tampak sudah siap dengan setelan jas formalnya. Keduanya akan segera makan malam di Burj Khalifa dan menciptakan momen kebersamaan yang langka. Alexander pun menoleh, melihat wanitanya. Ia tersenyum melihat wanita bergaun hitam tersebut. Ia pun segera melangkahkan kaki, mendekati Lilia sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Lilia, terimalah ini," katanya seraya memberikan setangkai mawar merah kepada Lilia.
__ADS_1
"Dear?" Lilia pun terenyuh karenanya.
"Layaknya bunga ini. Izinkan hanya aku yang memetiknya." Alexander meminta kepada Lilia
Bak seorang pangeran kepada putri, Lilia merasa Alexander tahu benar apa yang ia inginkan. Malam ini Alexander kembali lagi memanjakan Lilia dengan sifat lembutnya. Lilia pun merasa sangat beruntung memilikinya.
"Terima kasih, Dear."
Lilia menerima bunga itu. Alexander pun mengulurkan tangannya, mengajak berpegangan tangan. Mereka kemudian menuju lantai bawah bersama. Menikmati kebersamaan dalam suka dan cita. Berharap kisah ini akan abadi selamanya.
Air mancur di Kota Dubai menyambut kedatangan mereka saat baru tiba di pelataran Burj Khalifa, gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Lilia pun tampak takjub melihat gedung itu. Rancangannya begitu tinggi menjulang ke angkasa. Ia tak percaya jika kini sedang berada di bawahnya.
"Cita-cita terbesarku adalah membangun gedung seperti ini. Bahkan kalau bisa lebih tinggi lagi. Tapi aku ingin kau menemani, Lilia," kata Alexander kepada Lilia.
Lilia menoleh, mengangguk dan mengaminkan harapan prianya. Alexander pun tersenyum padanya.
__ADS_1
"Mari kita ke atas dan makan malam bersama." Alexander mengajak Lilia ke atas gedung.
Bahagia, itulah yang Lilia rasakan. Baru kali ini ia berpergian jauh bersama orang yang dicintainya. Lilia pun mengikuti langkah kaki Alexander yang mengajaknya ke atas. Ia menikmati menit demi menit terakhir di Kota Dubai. Lilia berharap hal ini tidak hanya menjadi kenangan. Namun kenyataan di sepanjang hidupnya.
Dear, sampai detik ini aku merasa bahagia sekali. Terima kasih atas kesempatan yang telah kau beri. Aku ingin bersamamu dan berharap semesta ikut merestui. Aku berharap itu, Dear.
Lantas keduanya melangkahkan kaki menuju lantai teratas Burj Khalifa. Mereka akan makan malam di lantai tertinggi gedung ini. Menikmati indahnya perkotaan sambil menciptakan kebersamaan. Keduanya pun berharap semoga hari ini tidak turun hujan.
.........
...Lilia...
...Alexander...
__ADS_1