
Waktu itu di malam pesta perayaan pernikahan...
"Tuan, tunggu aku!" Wanita berdres hitam itu tampak mengikuti seorang pria berwajah muram yang menghindarinya. "Tuan!" Panggilan wanita itu pun menarik perhatian Alexander yang sedang berbincang dengan seorang pengusaha besar ibu kota.
"Kau lihat wanita itu?" tanya pria paruh baya yang sedang bercengkrama dengannya.
Alexander memerhatikannya. "Apakah dia kekasih dari pria itu?" tanya Alexander kepada pria paruh baya yang ternyata adalah Biden.
"Dia asisten pribadi Jake. Dia cantik sekali." Biden memuji Lilia.
Alexander termenung sejenak selepas melihat kepergian Lilia dari pandangan matanya. Biden pun memerhatikan Alexander.
"Kau bisa mendapatkannya. Dia masih sendiri. Hanya saja kini sedang terikat kontrak dengan istri dari pria itu." Biden menjelaskan.
"Maksud Anda?" Alexander tak mengerti.
__ADS_1
Biden hanya tersenyum lalu meneguk gelas minumannya. Keramaian para tamu undangan tak membuatnya menghentikan percakapan tentang Lilia.
"Kau nanti akan tahu sendiri. Tapi cobalah untuk mendekatinya. Ya, sekedar ingin tahu saja." Biden membujuk Alexander.
Saat itu juga Alexander berpikir mengenai kata-kata Biden. Ia mencoba menelaah perkataan pengusaha besar tersebut.
.........
Alexander tersenyum mengingat pertama kali dirinya melihat Lilia. Ia pun menarikkan selimut untuk Lilia lalu membiarkannya terlelap di dalam kamar.
Aku mencintaimu, Lilia. Sangat mencintaimu.
Pagi harinya...
Suara keran air menyadarkan Lilia jika tengah ada yang mandi. Namun, Lilia merasa malas untuk membuka mata dan menyambut hari. Ia masih mengantuk sekali setelah semalam ikut lembut bersama Alexander. Lilia ingin tidur lagi.
__ADS_1
Lilia menemani Alexander merancang bagian lantai dua gedung yang akan dibangun. Tentunya ia juga tidak berdiam diri. Lilia membantu menyusun proposal rancangan bangunan lantai satu yang telah dikerjakan. Dan hal itu melelahkan sekali. Walaupun hanya sekedar membantu menyusunnya.
Benar memang tidak ada pekerjaan yang tidak melelahkan. Lilia pun dengan sepenuh hati membantu Alexander sampai rasa kantuk itu tak bisa lagi tertahan. Pada akhirnya ia pun merebahkan diri di sofa, berniat untuk tidur sebentar. Namun nyatanya, pagi ini ia masih mengantuk dan ingin tidur lagi.
"Hoaaam..."
Kasur empuk, dua bantal guling berbulu tebal seolah mengikatnya agar tidak beranjak bangun. Namun, tak lama terdengar suara pintu yang terbuka. Lilia pun mengintip siapa gerangan yang membuka pintu tersebut. Dan ternyata, pria berambut pirang lah yang masuk ke dalam kamar. Lilia lalu menyadari jika tidur di kamar yang salah.
Astaga?!
Lilia terperanjat saat menyadari jika kamar yang ditidurinya adalah kamar Alexander. Ia pun mengintip apa yang Alexander lakukan setelah masuk ke dalam kamar. Namun, saat itu juga Lilia menelan ludahnya.
Ya Tuhan?!
Alexander melepas handuknya. Ia mengenakan pakaian di depan Lilia yang masih tertidur di atas kasur. Alexander tidak menyadari jika Lilia sudah bangun. Jadi ia begitu santai melepas handuknya.
__ADS_1
Ini godaan atau ujian bagiku?
Lilia pun mau tak mau menikmati pemandangan itu. Pemandangan lekuk tubuh kekar seorang pria yang telah melamarnya. Betapa roti sobek itu begitu menggugah selera. Lilia pun ingin beranjak bangun lalu mendekatinya. Tapi saat itu juga ia menepiskan keinginannya. Lilia malu jika harus memulainya lebih dulu.