PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
You are Beautiful


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Sejuk, itulah yang Lilia rasakan. Terlihat dirinya masih tidur di atas sofa tanpa sadar sudah jam berapa sekarang. Perlahan-lahan ia pun mendengar suara bel apartemen yang berbunyi. Lama kelamaan suara bel itu semakin membesar saja. Lilia pun segera tersadar dari alam mimpinya.


Dear?


Ia kemudian beranjak bangun seraya mengucek matanya. Melihat ponsel dan menemukan ada enam panggilan tak terjawab. Ia pun segera melihat siapa gerangan yang meneleponnya. Dan ternyata, Alexander lah yang meneleponnya. Lilia pun segera menelepon balik pria berambut pirang tersebut.


"Dear?"


"Lilia, aku di depan." Suara dari seberang segera menjawab teleponnya.


"Astaga!" Saat itu juga Lilia tersadar jika sudah terlelap hingga tak lagi mendengar suara bel apartemennya yang berbunyi. "Tunggu, aku bukakan pintu."


Lekas-lekas Lilia menuju pintu. Ia pun segera membukakannya dengan wajah masih acak-acakan. Lilia baru saja bangun tidur dan belum sempat berdandan. Saat membuka pintu pun saat itu juga ia melihat Alexander tengah menunggunya. Pria berambut pirang itu menjinjing tas belanja yang entah apa isinya. Lilia pun dengan malu menyapanya.

__ADS_1


"Dear, maaf," katanya kepada Alexander.


Alexander tampak tersenyum. Pria berkemeja hitam itu menatap Lilia dengan cinta. "Putri sedang tidur? Pangeran sudah menunggu lama di sini," kata Alexander yang membuat Lilia tersipu.


"Dear ...." Saat itu juga Lilia merasa amat disayangi oleh pria berambut pirang tersebut.


Alexander menahan tawanya kala melihat Lilia tersipu dengan wajah begitu polos sehabis bangun tidur. "Tak apa. Ayo kita masuk." Ia mengajak masuk sambil mengusap kepala Lilia.


Sungguh damai hati Lilia saat mendapat perlakuan lembut dari Alexander. Pria yang belajar dicintainya itu kini mampu membuat hatinya luluh sepenuhnya. Alexander menunjukkan kasih sayangnya sampai-sampai Lilia terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Lilia merasa begitu disayangi olehnya.


Lilia pun segera menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Ia lekas beranjak mengambilkan air minum untuk Alexander. Namun, saat itu juga Alexander menahannya.


"Tidak perlu, Lilia." Alexander ingin tetap Lilia berada di sisinya.


"Dear?" Lilia pun bingung.

__ADS_1


"Aku sudah membawakan makan malam beserta minumnya. Kita dinner di teras ya?" Alexander menunjukkan tas belanjanya.


Sungguh tak disangka Alexander akan mengajak Lilia dinner di teras apartemen malam ini. Lilia pun melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia merasa waktu makan malam sudah terlewatkan.


Lilia mengangguk. "Em, baiklah. Tapi aku mandi dulu ya. Tunggu aku."


Lilia pun setuju dengan ajakan Alexander untuk makan bersama malam ini. Walaupun nyatanya waktunya sudah lewat. Ia menghargai ajakan dari pria berambut pirang itu.


"Ya, aku tunggu. Aku akan menyiapkan makan malamnya. Dandan yang cantik ya." Alexander pun mencandai Lilia.


Dear ....


Saat itu juga Lilia tersipu malu. Entah mengapa ia merasa malu dipesankan seperti itu oleh Alexander. Lilia pun mengangguk lalu lekas pergi dari hadapan Alexander untuk segera mandi. Lilia ingin berdandan rapi untuk prianya malam ini. Lilia tidak ingin mengecewakan Alexander.


Wajah yang tanpa make up saja sudah membuatku jatuh hati.

__ADS_1


Alexander sendiri tersenyum senang melihat wanitanya. Ia merasa beruntung karena dapat memiliki Lilia. Ia tidak membutuhkan wanita yang lainnya. Karena di dalam hati Alexander hanya ada Lilia seorang.


__ADS_2