
"Lilia." Alexander menegur kekasihnya.
"Ya?"
"Kau cantik," kata Alexander yang membuat Lilia merona malu seketika.
Dear, jangan begitu. Aku belum pernah dirayu, tahu!
Tak dapat Lilia pungkiri jika dansa malam ini begitu berbeda dari dansa-dansa yang pernah ia lakukan sebelumnya. Getaran di dalam hatinya begitu kuat hingga membuat detak jantung itu berdegup dengan kencang. Bola mata biru yang dimiliki Alexander seolah meluluhkan hatinya.
Setiap gerakan dari langkah kaki itu begitu dinikmati oleh mereka. Harum tubuh masing-masing seolah mendominasi udara di sekitarnya. Kedekatan di antara keduanya semakin lama semakin dalam hingga mampu menepiskan kasta yang ada. Alexander memperlakukan Lilia bak permaisurinya. Lalu wanita mana yang mampu menolaknya?
Lilia merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari Alexander. Pria berambut pirang itu mendominasi dunianya malam ini. Dengan cinta dan bukti yang Lilia inginkan sejak dulu. Hatinya pun bahagia tak terkira.
"Dear ... aku malu." Lilia mencoba jujur kepada Alexander.
__ADS_1
"Malu? Malu kenapa? Kan sudah mandi?" Alexander bertanya seraya terus berdansa pelan bersama Lilia.
Bait demi bait lagu Perfect dari Ed Sheeran itu terasa masuk ke relung hatinya. Lilia tidak tahu harus berkata apa selain menunjukkan hal yang dirasakannya dengan bersikap manja. Ya, Lilia manja kepada Alexander dengan memeluknya. Merebahkan kepala di dada bidang pria bertubuh tinggi itu.
"Aku belum pernah dirayu tahu, Dear!" Lilia tidak berani menatap wajah Alexander saat mengatakannya.
Alexander tersenyum. Ia kemudian memeluk Lilia lebih erat. "Tuan Putri malu karena dipuji oleh pangerannya?" Alexander semakin menjadi-jadi. Tapi ia melakukannya untuk menyenangkan hati Lilia.
Damai, tenang dan nyaman. Itulah yang dirasakan Lilia saat ini. Jendela teras yang dibiarkan terbuka pun seolah mempersilakan angin malam untuk berembus melewati mereka. Baik Alexander maupun Lilia menikmati dansa romantis mereka malam ini.
Alexander memberatkan kepalanya di kepala Lilia. "Itu ... terjadi begitu saja." Alexander mengingat ciuman mereka di dekat perapian rumahnya waktu itu.
Lilia mendongakkan kepala. Wajahnya begitu dekat dengan Alexander. "Dear, kau tidak menginginkannya?" tanya Lilia ingin tahu.
Alexander tertawa kecil di hadapan Lilia. "Mana mungkin tidak mau, Honey. Aku hanya menahan diri dari seorang putri yang sedang menggodaku," katanya, yang membuat Lilia gemas sekaligus merona malu.
__ADS_1
"Ih, dasar!" Lilia pun mencubitnya tanpa ragu.
"Aw!"
Alexander memasang wajah kesakitan. Dansa itu pun dihentikan sejenak oleh mereka. Ia pura-pura sakit karena dicubit Lilia. Padahal cubitan Lilia tidaklah menyakitkan. Lilia pun memasang wajah cemberutnya. Yang mana membuat Alexander semakin menyukainya. Ia menyayangi Lilia.
"Baiklah. Aku mengerti. Kalau begitu bolehkah aku—"
Belum sempat meneruskan kata-kata, tiba-tiba ponsel Alexander berdering dengan kencang. Ia pun segera tersadar jika ada panggilan masuk untuknya.
"Lilia, sebentar ya." Alexander meminta Lilia menunggu.
Pria itu sangat sibuk. Bahkan di jam sepuluh malam pun masih ada yang meneleponnya. Lilia mau tak mau harus sabar menunggu.
"Ya, halo?" Alexander mengangkat telepon itu di dekat jendela teras. "Besok kami libur, Tuan. Senin akan kami lanjutkan lagi. Belum lama ini juga kami melakukan perjalanan jauh. Jadi kami meminta keringanan atas waktunya." Alexander berkata seperti itu kepada seseorang yang meneleponnya.
__ADS_1