
Alexander menoleh ke belakang. "Kita bertemu di kafe saja. Tak jauh dari sini." Alexander pun mengajak Lilia ke kafe bandara.
Lilia mengangguk. Mereka pun akhirnya sampai di pintu keluar. Namun, saat itu juga keduanya dikejutkan dengan kedatangan orang-orang berjas hitam dan berbadan tegap. Mereka mengenakan kaca mata hitam dengan earphone penghubung di telinganya. Orang-orang itu pun segera mengelilingi Alexander dan Lilia.
"Siapa kalian?!" Alexander segera melindungi Lilia.
"Dear ...." Lilia terlihat cemas melihat kedatangan orang-orang tersebut.
Salah satu dari mereka melepas kaca mata hitamnya. "Maafkan kami, Tuan Muda." Saat itu juga Alexander tahu siapa orang-orang yang datang.
"Kalian?" Alexander merasa bingung.
"Hormat kami kepada Tuan Muda." Mereka membungkukkan badannya di hadapan Alexander.
Astaga ....
__ADS_1
Lilia akhirnya melihat sendiri bagaimana perlakuan orang-orang tersebut kepada Alexander. Ia menoleh ke arah prianya yang tampak enggan menerima kedatangan orang-orang itu.
"Bersikap biasa saja. Jangan terlalu mencolok." Alexander meminta kepada mereka.
"Baik, Tuan Muda." Orang-orang itupun menurut padanya.
"Beri aku jalan," pinta Alexander lagi.
"Baik."
Orang-orang itu adalah anak buah dari Smith, ayah Alexander sendiri. Mereka menunggu kedatangan Alexander di bandara bukan tanpa alasan. Melainkan karena diperintah oleh bos besar mereka. Alexander pun mengerti maksud dari kedatangan anak buah ayahnya. Tak lain dan tak bukan karena ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan.
Alexander menjaga situasi agar Lilia tidak merasa takut atau resah bersamanya. Ia menggenggam erat tangan Lilia di sepanjang jalan menuju parkiran bandara. Hingga akhirnya sebuah mobil Lexus hitam telah menanti kedatangan keduanya.
Setengah jam kemudian...
__ADS_1
Lilia tampak cemas. Raut wajahnya menyiratkan ketakutan atas apa yang terjadi. Ia sedari tadi menggandeng lengan Alexander, seolah tidak ingin jauh-jauh dari pria berambut pirang tersebut. Alexander pun memahami kerisauan yang melanda hati Lilia. Ia mengusap-usap lengan Lilia agar tidak merasa cemas lagi. Ia tahu jika kedatangan orang-orang ayahnya mengejutkan wanitanya.
Kini keduanya sedang berada di dalam perjalanan menuju pesisir pantai terdekat dengan bandara. Alexander diminta untuk menemui ayahnya segera. Yang mana ternyata ayahnya itu sudah belasan kali menelepon Alexander. Tetapi Alexander tidak mengindahkannya.
Tidak sulit bagi Smith untuk mencari tahu di mana keberadaan putranya. Tapi ia juga tidak ingin menjemput secara paksa. Ia menunggu Alexander pulang lebih dulu. Dan kini tibalah saat yang tepat untuk menjemput putranya. Sehingga ia meminta orang-orangnya untuk menjemput Alexander. Yang mana ternyata kedatangan anak buahnya mengagetkan hati calon menantunya, Lilia Hana.
"Tenang, Lilia. Semuanya akan baik-baik saja." Alexander terus menenangkan.
Tak berapa lama mobil yang ditumpangi mereka memasuki kawasan pesisir pantai. Mobil Lexus hitam itupun masuk lalu menuju sebuah pondok yang berada di ujung sana. Lilia pun menelan ludahnya berulang kali. Ia takut diinterogasi.
"Tuan Muda, Tuan diminta untuk menemui Tuan Besar sendiri." Supir mobil itu bicara kepada Alexander.
"Kau keluar dari mobil. Biarkan wanitaku di dalam. Dan buka kaca jendelanya." Alexander meminta sebelum memenuhi panggilan ayahnya.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Sang supir pun menurut. Ia segera membuka kaca mobil lalu keluar dari mobil tersebut. Ia membiarkan Lilia berada di dalam mobil sendirian.