PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Go On


__ADS_3

Dear ... lembut sekali ....


Cinta itu sudah merasuk ke relung jiwa keduanya. Perjalanan rumit berhasil mereka lalui bersama. Alexander datang di saat Lilia membutuhkan sandaran. Ia datang membawa cinta dan ketulusan. Lantas wanita mana yang sanggup menolaknya?


Selama ini Alexander menantikan Lilia. Pertemuan pertama mereka menjadi titik tolak akan cinta yang diidamkan. Lilia pun akhirnya memercayakan sepenuhnya kepada Alexander tentang masa depannya. Alexander mampu memberikan Lilia kebahagiaan.


Alexander menarik tubuh Lilia agar lebih mendekat dengannya. Ciuman itu terasa semakin lembut dan memberikan arti bagi Lilia. Alexander menekan lembut bibir Lilia dengan bibirnya, sedang tangan kanannya mendekap pinggang Lilia. Sementara tangan kirinya memegangi tengkuk leher Lilia agar tidak bergeser dari ciumannya. Lilia pun menikmatinya.


Dear, entah mengapa tenagaku seperti terserap olehmu.


Lilia pasrah. Ia nikmati ciuman yang begitu lembut ini. Lambat laun ciuman itupun memunculkan sensasi tersendiri. Napas keduanya semakin lama semakin terdengar berat, seperti menahan hasrat yang tengah bergejolak. Alexander pun menyudahi ciumannya. Ia menempelkan dahinya ke dahi Lilia seraya memegang kedua tangan Lilia dengan erat.

__ADS_1


"Lilia, temani masa tuaku," pinta Alexander dengan suara tertahan.


"Dear ...."


"Aku tidak peduli dengan perbedaan di antara kita. Aku begitu membutuhkanmu. Jadilah ibu dari anak-anakku." Ia memohon kepada Lilia.


Saat itu juga Lilia begitu terharu mendengar perkataan prianya. Ia lalu segera berjinjit untuk meraih bibir Alexander. Kali ini Lilia yang menciumnya, berusaha memberikan jawaban melalui ciuman. Perlahan Lilia pun mengalungkan kedua tangannya di leher Alexander. Ia menyandarkan tubuhnya di tubuh pria itu. Alexander pun menerimanya dengan senang hati.


Lilia pun berusaha mendominasi ciuman itu. Ia tidak malu-malu lagi. Lilia sudah menerima takdirnya. Ia mencintainya, mencintai Alexander seorang.


Esok harinya...

__ADS_1


Waktu terus berlalu. Sepasang insan sedang memasuki pesawat keberangkatan mereka menuju tanah air. Di mana seribu kisah ada di sana. Tentang seorang anak yatim piatu yang berusaha bertahan hidup dari kerasnya dunia. Tapi kini ia terlihat semringah di pelukan seorang pria berambut pirang. Ialah Lilia dan Alexander yang sudah siap kembali ke dalam negerinya.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam lewat delapan menit. Tim Alexander pun ikut pulang ke tanah air dengan duduk di kursi kelas bisnis. Mereka antusias pulang dengan membawa pundi-pundi uang. Tentunya setelah tambang emas itu selesai dikerjakan. Mereka kini bisa bernapas lega dan membawa kebahagiaan.


Alexander berhasil ikut andil dalam sebuah proyek besar di pesisir Laut Dubai. Yang mana imbalan dari proyek itu tidaklah sedikit. Bahkan Alexander dapat membangun kantor cabang yang besar. Ia juga bisa membeli rumah di kawasan perumahan elit. Alexander menunjukkan jika ia mampu berdikari tanpa bantuan sang ayah. Ia adalah seorang pria yang berkompeten dalam bidangnya. Hingga akhirnya Lilia tidak lagi meragukan masa depannya. Alexander memenuhi janjinya.


"Kau sudah siap untuk kembali ke tanah air, Honey?" tanya Alexander kepada wanita di sampingnya.


"Sudah, Dear. Aku juga sudah siap untuk dipinang olehmu." Lilia menjawabnya.


Alexander terperanjat. Ia kemudian tertawa manis sekali. Betapa senang hatinya saat mendapat jawaban yang membahagiakan dari Lilia. Wanitanya itu kini telah mendarah daging dalam jiwanya. Alexander amat menyayangi Lilia. Perasaan di dalam hatinya pun semakin merekah indah.

__ADS_1


__ADS_2