PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Impossible


__ADS_3

"Paman sungguhan?" Anak kecil itu tidak percaya.


Pria itu mengangguk. "Kau sudah membantuku memberikan surat itu. Anggap saja ini rasa terima kasihku," kata pria itu lagi.


Anak kecil itu pun mengangguk-angguk. "Terima kasih banyak, Paman. Aku doakan semoga bibi di sana segera membaca suratnya dan menemui Paman." Anak kecil itu mendoakan.


Pria itupun mengangguk seraya tersenyum.


"Kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa kembali." Anak kecil itu berpamitan.


"Hati-hati," pesan pria itu.


Anak kecil itupun segera keluar dari mobil dengan membawa satu kantong plastik ukuran besar berisi kue. Ia pun pergi dengan hati yang riang gembira. Tak menyangka akan ketimpa rezeki yang berlimpah.


Lilia, bacalah surat itu. Aku menunggu.


Pria itu adalah Jake, ia sengaja meminta bantuan seorang anak kecil untuk menyampaikan suratnya. Jake masih ragu untuk menemui Lilia. Ia harap-harap cemas kehadirannya ditolak oleh sang wanita. Sehingga ia menggunakan cara lain agar kehadirannya bisa diterima. Ia pun menunggu di dalam mobilnya.


Belasan menit kemudian...


Lilia senang hati kala roti kemasan kecilnya terjual habis dalam beberapa menit saja. Ia pun segera menelepon pihak produsen roti dan memesannya kembali. Lilia menggunakan nomor bisnisnya untuk usaha kali ini. Sehingga pantas saja jika tidak ada yang bisa menghubunginya sekalipun Jake sendiri.

__ADS_1


"Saya pesan lima puluh lagi. Dua puluh lima cokelat, lima belas vanila dan sepuluh keju." Begitulah isi pembicaraan Lilia di telepon.


"Baik. Saya tunggu hari ini. Terima kasih." Lilia pun mengakhiri percakapan teleponnya.


Lilia tersenyum senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari kemarin. Tanpa ia sadari jika ada Jake dibaliknya. Lilia pun teringat dengan anak kecil yang memborong semua rotinya.


"Siapa ya anak kecil tadi?" Lilia teringat kembali.


Di tengah ingatannya, tiba-tiba saja matanya tertuju pada selembar surat yang diberikan anak kecil tersebut. Lilia pun mengambil surat itu lalu membacanya. Ia duduk di kursi kasiran sambil menunggu pembeli yang datang. Namun, ia tersentak saat membaca isi surat tersebut.


.........


Ada seorang pria arogan penuh dengan penyesalan.


Pria itu datang ingin meminta maaf atas semua kesalahan.


Tapi apakah mungkin pintu maaf masih dibukakan?


Dia jauh-jauh datang untuk menjemput impian.


Perpisahan membuat dirinya tersadar dari kesalahan.

__ADS_1


Dia pun menyadari perasaannya sendiri.


Dia ingin kembali bersama dalam menjalani hari.


Tapi apakah mungkin masih ada ruang untuknya di hati?


.........


Begitulah isi surat yang Lilia baca. Sontak ia merasa terkejut dengan kata-kata yang ada di dalam surat itu. Pikirannya tertuju cepat kepada sosok pengirim surat. Tak lain tak bukan adalah Jake seorang.


Jake ...? Kaukah itu ...?


Jantung Lilia berdegup kencang. Ingatan akan pria itu kembali terlintas di benaknya. Bagaimana paras Jake yang kejam, misterius dan penuh teka-teki. Bagaimana kesombongannya dalam memperlakukan seseorang. Lilia teringat kembali dengan itu.


Tidak. Tidak mungkin.


Lilia menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak mungkin Jake akan datang menemuinya. Lilia pun segera memasukkan kembali surat tersebut. Ia bergegas ke wastafel untuk mencuci tangannya. Ia harus tetap bersih selama menjalani usahanya. Namun, seseorang di luar sana tampak menunggunya.


Kau sudah membacanya?


Seseorang itupun menarik napas panjang sebelum keluar dari mobil. Ia melangkahkan kakinya menuju toko Lilia yang ada di seberang sana. Ia akan menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2