PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Don't Baby


__ADS_3

Apa aku harus memulainya lebih dulu? Tapi aku kan perempuan, gengsiku besar-besaran!


"Lilia, kau tidak mau memberikannya?" Ternyata Alexander masih menunggu Lilia menciumnya.


Sebenarnya Alexander bisa dengan mudah mencium Lilia. Tapi ia sengaja meminta Lilia untuk menciumnya lebih dulu. Sedangkan Lilia masih merasa malu. Apalagi dengan posisi seperti ini. Lilia harus menjaga gengsi.


Debaran di jantungnya semakin kencang tak menentu. Namun, Lilia belum bergerak sama sekali. Alhasil Alexander mulai membalas dendamnya kepada Lilia. Ia ingin mempermainkan hasrat wanitanya. Saat itu juga Alexander mulai menurunkan daster Lilia.


Di-dia sungguhan? Malam ini?


Lilia sendiri tak percaya jika Alexander benar-benar menginginkannya malam ini. Lilia pun menelan ludahnya karena masih harap-harap cemas terhadap apa yang akan terjadi. Namun, Alexander terus menatap Lilia, seolah meyakinkan akan tindakannya malam ini. Lilia pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Alexander. Namun, bukan menciumnya, melainkan memeluknya. Lilia masih gengsi untuk memulainya lebih dulu.


Alexander mengecup bahu Lilia perlahan. Ia hirup aroma tubuh Lilia sehabis mandi. Lilia pun membiarkannya. Lilia menunggu hal apa yang akan Alexander lakukan padanya.

__ADS_1


"Honey, kau pasti merasa aneh denganku malam ini. Tapi percayalah, ini adalah sisi lain diriku yang tersembunyi. Seorang pria yang amat membutuhkanmu," kata Alexander yang membuat Lilia menjauhkan wajahnya dari pria itu.


"Dear, aku ... malu," kata Lilia.


Saat itu juga Alexander tertawa kecil di hadapan kekasihnya. "Baiklah. Berbalik lah agar kita tidak saling bertatapan muka," pinta Alexander.


Lilia menelan ludahnya. Ternyata Alexander serius dengan keinginannya malam ini.


"Dear ...."


Saat itu juga seluruh saraf di tubuh Lilia bereaksi. Rasa geli dan merinding menjadi satu, menjalar cepat ke seluruh tubuh. Harus Lilia akui jika ini adalah awalan yang tak disangka-sangka sebelumnya.


"Lilia ...."

__ADS_1


Alexander pun mulai menyapu punggung Lilia dengan bibirnya. Ia seperti sangat menikmati momen ini. Lilia pun memejamkan mata saat merasakan sapuan dari bibir lembut milik Alexander. Tangannya mencengkeram celana Alexander karena sensasi geli yang ia rasakan. Alexander pun mengerti. Jari-jemarinya masuk ke sela-sela jari Lilia. Mereka berpegangan tangan dengan erat, sedang bibir Alexander terus menyapu punggung kekasihnya.


Oh, Dear ....


Lilia pun menikmati setiap sentuhan dari prianya. Sampai tak ingat lagi siapa dirinya, siapa Alexander. Karena yang Lilia tahu saat ini mereka akan segera menikah. Dan kini saatnya melampiaskan hasrat yang tertunda. Pada akhirnya Lilia pun tak sanggup lagi merasakan sentuhan bibir Alexander yang menyapu permukaan punggungnya. Lilia melenguh di hadapan kekasihnya. Bibir lembut itu pun terus saja mengecup-ngecup tengkuk lehernya.


"Dear ... ahh ...."


Tangan Lilia semakin mencengkram erat tangan Alexander. Alexander pun mengerti apa yang terjadi pada kekasihnya. Ia lantas semakin intens menciumi tengkuk leher Lilia. Membuat Lilia melayang karenanya. Hingga akhirnya Lilia sudah tidak sanggup lagi menahannya.


"Dear, sudah ...."


Lilia meminta kepada Alexander untuk segera menghentikan hal ini. Namun nyatanya, Alexander tidak berhenti juga. Sedang rasa geli itu semakin kuat menjalar di sekujur tubuhnya. Lilia pun tak berdaya. Hingga akhirnya sensasi luar biasa itu ia rasakan dan membuat zat kimia dari dalam tubuhnya keluar dari persembunyiannya. Lilia menuntaskan hasratnya.

__ADS_1


__ADS_2