PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
One Reason


__ADS_3

"Yang semangat kerjanya." Lilia memberi semangat kepada Alexander.


Alexander mengangguk. Ia pun segera mengambil tas kerjanya. Ia sudah siap untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Lilia pun mengantarkannya sampai ke depan pintu. Ia melepas kepergian calon suaminya seraya tersenyum.


"Hati-hati, Dear!"


Bak seorang istri, Lilia melihat kepergian Alexander sampai hilang dari pandangan mata. Alexander pun tersenyum kepadanya seraya melambaikan tangan. Pria itu kemudian lekas berjalan menuju lift. Saat itu juga Lilia melihat punggung kekar Alexander yang kokoh. Ia merasa Alexander dapat menjadi sandaran hidupnya. Ia berharap penuh kepada prianya.


Dear, terima kasih telah memberikan kebahagiaan untukku.


Bahagia, itulah yang Lilia rasakan saat ini. Ia berharap penantiannya akan berujung membahagiakan. Lilia memercayakan hidupnya kepada Alexander, seorang pria yang telah melamarnya di malam itu.


Lantas setelah mengantarkan Alexander pergi bekerja di pagi ini, Lilia pun kembali masuk ke dalam apartemennya untuk beres-beres terlebih dahulu. Ia berencana akan berkeliling kota hari ini. Dan juga mengunjungi rumah penerimaan naskah novelnya.

__ADS_1


Sementara itu...


Mobil BMW mewah berwarna hitam tiba di sebuah kawasan klub yang ada di pesisir pantai. Tampak seorang pria berjas abu-abu datang ke tempat itu. Ia tidak datang sendiri, melainkan bersama supirnya yang amat dipercayai. Namun, sang supir diminta menunggunya di dalam mobil, sedangkan ia melangkahkan kaki masuk ke dalam klub. Ia ingin menemui seseorang di sana.


"Selamat datang, Tuan."


Seorang pelayan wanita pun menyapanya. Pelayan itu tampak berbusana seksi. Namun, pria itu tidak mengindahkannya.


"Dengan Tuan siapa?" tanya pelayan wanita yang berada di dalam area kasir.


"Jake." Pria itu pun menjawab singkat.


"Baik. Mohon tunggu sebentar, Tuan Jake." Pelayan itupun segera menelepon orang yang bersangkutan.

__ADS_1


Pria yang datang itu memang benar adalah Jake. Hari ini ia menyempatkan diri datang ke klub temannya, Paul Lemos. Bukan tanpa alasan, melainkan karena sebuah urusan. Dan urusannya itu berhubungan dengan wanita yang akhir-akhir ini menghantuinya, Lilia Hana.


"Tuan, ada yang ingin menemui Anda." Pelayan wanita itupun tersambung dengan yang orang bersangkutan. "Namanya Tuan Jake," katanya lagi.


Jake masih menunggu. Ia lihat seisi klub yang masih tampak sepi. Maklum, hari masih pagi. Jam di dinding baru menunjukkan pukul sembilan waktu pesisir pantai dan sekitarnya. Sedang klub ramainya memang malam.


"Baik, Tuan." Tak lama pelayan wanita itupun menyudahi sambungan teleponnya. "Tuan Jake, silakan ke belakang. Tuan Paul sudah menunggu." Pelayan wanita itu beralih kepada Jake.


Seorang wanita cantik nan seksi pun datang menghampiri Jake. "Mari Tuan, saya antar." Ia seperti guide seksi yang menggoda pandangan.


Busana para pelayan wanita di klub ini memang seksi sekali. Bagaimana tidak, mereka mengenakan rok mini dan bikini di atasnya dengan rambut yang dibiarkan tergerai panjang. Benar-benar menggoda pandangan. Namun, hal itu tidak berpengaruh bagi Jake. Ia tampak biasa saja saat melihat wanita-wanita seksi di hadapannya. Jake tidak tertarik.


Keduanya kemudian menuju pintu yang ada di ujung sana. Jake berjalan di belakang wanita tersebut. Wanita itu pun terlihat menghentakkan kakinya hingga membuat pinggulnya naik-turun saat berjalan. Jake pun mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin melihat wanita tersebut.

__ADS_1


__ADS_2