
Lima menit kemudian...
Ombak berkejaran menjadi saksi seorang bos besar perusahaan konstruksi terkemuka yang sedang duduk menyandar di kursi teras belakang sebuah klub pesisir pantai. Raut wajahnya menyiratkan kebimbangan akan suasana hatinya. Sang teman yang bernama Paul pun tampak menyadari hal yang tengah terjadi. Ia segera membuka perbincangan pagi ini.
"Untung saja kau menghubungiku saat aku berada di sini." Paul membuka pembicaraan.
Ialah Jake Thompson yang sedang ingin berbincang bersama teman terdekatnya. Ia merasa membutuhkan tempat bertukar pikiran akan hal yang dialaminya. Jake tidak bisa memendamnya sendirian. Terlebih banyak pekerjaan yang amat menyita waktunya.
Dua botol tequila menjadi saksi perbincangan yang akan segera terjadi. Keduanya pun duduk bersampingan dengan meja pantai yang memisahkan. Jake menghidupkan sebatang rokoknya untuk menemani perbincangan pagi ini.
"Aku sangat sibuk. Waktuku begitu padat. Bahkan untuk kembali ke apartemen saja terkadang lewat pertengahan malam. Rutinitasku tidak dapat diajak bicara." Jake mengutarakan kehidupannya.
Paul memahami. "Kau menjalankan tugas dengan sangat baik, Jake. Maka dari itu tuan Petrus amat memercayaimu." Paul mengungkapkan.
__ADS_1
Jake menghela napasnya. "Tapi karena itu juga aku tidak sempat memikirkan diriku sendiri." Jake mengingat kembali akan kebutuhan yang tidak bisa sembarang orang memenuhinya.
"Hah ... ya. Itu risiko sebagai seorang pimpinan besar. Maka dari itu aku tidak mau menjadi sepertimu. Bagiku kebebasan adalah segalanya." Paul menimpali.
Jake mengembuskan asap rokoknya. Ia menatap langit cerah pagi ini. "Aku sedang dilanda dilema tentang pekerjaan dan juga perasaan." Jake mengatakan.
Seketika Paul terkejut. "Perasaan?!" Ia tampak tak percaya.
"Ya." Jake menatap langit luas yang terbentang di angkasa. "Seorang wanita telah membuatku kesal akhir-akhir ini. Dia tidak dapat mengerti aku sama sekali. Malah kini dia pergi bersama pria lain," tutur Jake, mencurahkan isi hatinya.
"Bukan dia." Jake segera menyela. "Tapi pekerja Lea. Dia wanita suruhan Lea untuk menjebakku. Tapi nyatanya kami sama-sama terjebak dalam sebuah perasaan yang sulit untuk diungkapkan." Jake merasa bingung mengatakannya.
Paul menghela napasnya. "Jangan bilang kau jatuh cinta pada wanita suruhan istrimu." Paul menyandarkan punggung di kursi teras. Kedua tangannya menopang di belakang kepala.
__ADS_1
Jake terdiam sejenak. Ia tampak ragu dengan perasaannya.
"Sudah lama kalian menjalin hubungan?" Paul segera menanyakannya.
"Mungkin sekitar dua bulan." Jake menjawabnya.
Paul tertawa. Ia merasa lucu dengan sikap temannya. "Hahahaha. Kau seperti anak ABG saja, Jake. Sudahlah, masih banyak yang lain. Banyak wanita cantik dan seksi yang bisa kau dapatkan dalam waktu semalam. Lupakan saja dirinya." Paul berkata lagi.
Jake mematikan puntung rokoknya. Ia menatap tajam ke arah temannya. Saat itu juga Paul menyadari jika Jake amat serius bicara. Raut wajah Jake pun tampak kesal di pandangan matanya.
"Em ...." Paul jadi tidak enak sendiri. Ia segera duduk tegak di hadapan Jake.
Paul adalah teman Jake semasa SMA. Mereka dekat dalam banyak hal karena pernah berjuang bersama. Namun, akhirnya Paul memilih jalan yang berbeda dari Jake. Sesuatu membuat Paul lebih memilih kebebasan daripada terikat dengan pekerjaan. Dan kini Paul memiliki klub sendiri di pesisir pantai. Yang mana klub itu merupakan klub terbuka bagi semua pengunjung. Baik dari dalam maupun dari luar.
__ADS_1
"Jika aku bisa melupakannya, maka aku tidak akan datang ke sini." Jake mempertegas kedatangannya.