PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
See You


__ADS_3

Tiba-tiba saja di tengah lamunannya, ia melihat jari tangan Petrus bergerak. Saat itu juga Jinny lebih mendekat. "Tuan?" Jinny memanggil nama pria tua itu.


"Jinny ...." Petrus ingin bicara.


Jinny mengerti. Ia kemudian menghidupkan recorder ponselnya untuk merekam pembicaraan Petrus. "Tuan, bagaimana keadaan Anda?" tanya Jinny yang sudah mulai terekam.


Perlahan-lahan Petrus membuka kedua matanya. Ia menoleh ke arah Jinny. "Jinny, bantu aku ... mencari bayi itu. Aku ... berutang budi pada ayahnya." Petrus mengatakan dengan suara yang lemah dan terbata.


"Bayi? Bayi yang mana, Tuan?" tanya Jinny yang merasa bingung.


"Aku ... aku menitipkannya di panti asuhan. Dia ... mempunyai tanda lahir di telapak kaki bagian dalam," tutur Petrus lagi.


Jinny bertambah bingung. Ia ingin bertanya lagi. Namun, sebelum sempat menanyakan, Petrus tiba-tiba saja mengalami sesak napas.

__ADS_1


"Tuan? Tuan!" Ia pun segera memanggil-manggil nama Petrus. "Dokter!" Jinny segera menekan bel darurat lalu keluar dari ruangan. "Dokter!!!" Ia histeris memanggil dokter.


Ada sebuah rahasia yang belum terungkap. Ada sebuah utang budi yang belum terbayarkan. Petrus seperti ingin menceritakan sesuatu kepada Jinny. Namun, rasa sesak tiba-tiba melanda dadanya. Ia seperti terkena penyakit asma. Petrus bak kehilangan udara.


Di waktu bersamaan...


Lilia tiba di sebuah bandara internasional seorang diri. Ia berjalan sambil melihat-lihat keadaan sekitar bandara. Hari ini adalah hari baru baginya. Hari tanpa cinta dan janji manis seorang pria.


"Sepertinya aku harus ke money changer terlebih dahulu."


Mata uang yang berbeda membuat Lilia menargetkan tujuan utamanya untuk menukarkan mata uang terlebih dulu. Ia pun melihat penginapan termurah di katalog kota. Dan pada akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah motel kecil yang ada di pinggir kota. Lilia pun menuliskan target selanjutnya.


Wanita cantik bertubuh sintal itu memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang negeri yang baru saja dikunjunginya. Ia beranjak menuju sebuah kedai yang ada di seberang bandara. Dan ya, sambil membawa koper dan tasnya, Lilia melangkahkan kakinya ke sana.

__ADS_1


Ia begitu percaya diri walaupun berpergian sendiri. Ia adalah wanita kuat dan tak pantang menyerah. Baginya kebahagiaan itu datangnya dari hati. Bukan dari orang lain. Ia pun akan menciptakan kebahagiaannya sendiri.


Aku harus semangat! Aku tidak bisa mengandalkan siapapun selain diriku sendiri. Aku pasti bisa melalui semua ini.


Sementara itu...


Alexander baru saja kembali ke apartemennya. Wajahnya terlihat lelah sekali. "Lilia, kau di mana?" Ia lihat sekeliling apartemen yang begitu gelap dan sepi. Alexander pun menghidupkan lampunya.


Alexander sedang mencoba mengembalikan keadaan perusahaan yang turun pesat dari sebelumnya. Dan saat ini pekerjaannya itu baru saja selesai dikerjakan. Namun sayang, saat pekerjaannya selesai, saat itu juga ia harus kehilangan. Lilia sudah pergi dari apartemennya.


"Lilia?!"


Alexander pun menuju kamar Lilia lalu membuka pintunya. Namun sayang, sang wanita sudah tidak berada di sana. Lilia hanya meninggalkan sepucuk surat yang ada di atas meja. Alexander pun mengambilnya.

__ADS_1


__ADS_2