
Esok harinya, menjelang jam makan siang di kantor GOC...
Susana kantor tampak sibuk saat pria berambut pirang itu datang. Di sana, di dalam ruang kerja sang bos besar juga tampak Jake yang sedang merapikan meja kerjanya. Ia menyimpan dokumen-dokumen penting ke dalam berangkas pribadinya. Ia tampak sibuk sebelum keberangkatannya ke Malaysia. Ya, Jake akan terbang ke Malaysia sore ini. Ia akan menemui Lilia di sana.
Pintu terketuk. "Masuk!"
Jake pun mempersilakan masuk seseorang yang datang. Namun, saat pintu terbuka, saat itu juga ia terkejut. Ternyata Alexander sudah berdiri di depan ruang kerjanya.
"Kau?" Jake tampak terheran dengan kedatangan Alexander kali ini.
"Ada hal yang ingin kubicarakan. Apakah bisa meluangkan waktu sebentar?" tanya Alexander dengan tatapan tajam.
Baru kali ini keduanya bertemu kembali. Jake pun mengancungi jempol atas keberanian Alexander datang ke kantornya. Ia menyambut baik kedatangan pria berambut pirang tersebut.
"Ada urusan apa?" tanya Jake segera. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak.
Alexander terlihat tegas kali ini. Tatapannya bak singa yang siap bertarung untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya.
__ADS_1
"Kedatanganku kali ini bukan sebagai seorang pengusaha atau rekan bisnis. Melainkan sebagai seorang pria yang ingin menanyakan di mana keberadaan wanitanya," tutur Alexander dengan tegas.
Jake mengernyitkan dahinya. "Jadi kau ingin menanyakan Lilia kepadaku?" Jake berdiri. Ia tampak berpikir mengenai hal ini.
"Ya, tentu saja," jawab Alexander segera. "Berita perceraianmu sudah tersebar. Tentunya kepergian Lilia juga berhubungan denganmu. Bukankah kau terbiasa melakukan rekayasa dari balik layar?" tanya Alexander kepada Jake.
"Hahahaha." Saat itu juga Jake tertawa. "Kau masih terlalu dini untuk mengerti dunia ini, Tuan Alexander. Lagipula di mana keberadaan Lilia, aku juga tidak tahu. Seharusnya kau tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa Lilia sampai pergi. Bukan bertanya padaku." Jake berbicara ketus.
"Kau!" Alexander pun mengepalkan tangannya.
"Kau telah merusak tanaman orang. Aku sudah bersusah payah untuk menanam bunga, sedang kau seenaknya saja memetik. Harusnya kau berpikir ulang akan tindakanmu. Apakah merugikan orang lain atau tidak." Jake menyindir Alexander.
Jarak keduanya sekitar lima meter saja. Apapun bisa terjadi saat mereka bicara. Karena keduanya sama-sama menyembunyikan pistol di belakang.
Jake tersenyum sinis. "Jika dia mencintaimu, maka dia tidak akan pergi. Baiknya kau berkaca dahulu." Jake tampak menabuhkan genderang perang dengan Alexander.
Alexander semakin geram. "Aku tidak akan tinggal diam jika Lilia bersamamu." Alexander memberi peringatan.
__ADS_1
Jake mengangkat bahunya, tak peduli. "Silakan saja. Aku juga tidak masalah." Jake begitu santai menanggapinya.
"Tuan." Tiba-tiba Lara datang dan membuka pintu. Keduanya pun terhenti sejenak beradu kata.
"Ada apa?" tanya Jake segera.
"Tuan, ada tamu." Lara melirik ke arah Alexander.
"Persilakan masuk." Jake pun mengerti.
Lara mengangguk. "Silakan, Tuan." Tamu itu pun dipersilakan masuk ke dalam ruang kerja Jake.
Ayah?!
Saat itu juga Alexander terkejut melihat siapa yang datang. Ternyata ayahnya sendiri yang datang ke kantor Jake siang ini. Alexander tak menyangka akan bertemu dengan ayahnya di sini.
Hah ... sepertinya Smith sangat mengkhawatirkan putranya.
__ADS_1
Jake sendiri tampak santai melihat kedatangan orang tua dari pria yang mengajaknya beradu kata. Padahal Smith datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu kepada Jake.