PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Again


__ADS_3

"Dear, geli."


Alexander menciumi dada Lilia sambil memejamkan mata. Bersamaan dengan itu, tubuh Alexander bergetar sampai membuat Lilia merasakannya. Permainan pun mencapai puncaknya.


"Hah ... hah ...."


Alexander memeluk erat wanitanya dengan wajah yang dibenamkan di dada. Getaran dari tubuh Alexander meyakinkan jika Lilia adalah wanita pertama baginya. Dan Lilia merasa beruntung karena menjadi wanita pertama dalam hidup prianya.


"Dear, kau baik-baik saja?"


Lilia mencoba bertanya kepada Alexander, sedang mata Alexander masih terpejam. Bibirnya juga bergetar karena merasakan sensasi yang luar biasa. Alexander melepaskan hasrat terpendamnya di depan calon istrinya sendiri.


"Dear ...."


Lilia pegang wajah itu lalu menatap dalam apa yang ada di sana. Ia pun mengusap pelan wajah Alexander lalu mengecup bibirnya kembali. Alexander pun membalasnya walau sambil terengah-engah.


"Lilia ... aku tidak peduli. Hanya ... hanya dirimu yang aku butuhkan." Alexander terbata mengucapkannya.

__ADS_1


Saat itu juga Lilia merasa senang sekali. Lilia pun segera memeluk prianya. Ia sandarkan kepala Alexander di dadanya. Ia biarkan Alexander menikmati lembut dadanya. Lilia terhanyut dengan suasana yang terjadi.


"Aku menyayangimu, Lilia. Aku mencintaimu," kata Alexander, menutup malam yang indah ini.


Mereka kemudian berpelukan, meredakan hasrat yang telah terlampiaskan. Akhirnya keduanya dapat saling menikmati keintiman yang terjadi. Lilia pun merasa senang sekali. Ia merasa sudah dimiliki. Sedang Alexander tampak lemah tak berdaya setelah Lilia berhasil mendapatkan dirinya. Alexander begitu mencintai Lilia.


Sementara itu...


Di sebuah ruangan tertutup, tampak seorang pria berwajah muram sedang rapat bersama orang-orangnya. Ia terlihat serius kala membagi tugas ke anak buahnya tersebut. Botol-botol bir mewah terlihat berada di dekatnya. Namun sayang, ia tanpa sengaja memecahkan botol bir tersebut.


"Tuan?!"


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Orang-orangnya pun segera bertanya.


Ialah Jake Thompson yang bersama orang-orangnya sedang melakukan rapat tersembunyi di sebuah pulau terpencil di selatan kota. Dini hari telah datang, tapi ia masih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Sampai-sampai ia harus merelakan waktu istirahat untuk menyusun strategi berikutnya. Jake tengah merencanakan strategi untuk memenangkan peperangan.


Jake segera tersadarkan dari apa yang terjadi. Terlihat botol birnya yang pecah berkeping-keping di atas lantai.

__ADS_1


Ada apa ini? Apakah aku sudah tidak boleh minum lagi?


Tentu saja anak buahnya dengan sigap membersihkan pecahan dari botol itu. Jake pun terdiam sejenak dan membisu.


"Aku tidak punya anggur."


Saat itu juga ia teringat dengan seorang wanita yang pernah mengatakan hal seperti itu. Seorang wanita yang akhir-akhir ini menghantuinya dengan kerinduan yang mendalam.


Lilia ....


Jake teringat dengan Lilia. Kembali ia teringat dengan wanita yang pernah merasakan setiap belaian lembut darinya.


"Tuan, apakah kita harus menunda rapatnya?" tanya salah seorang anak buahnya.


Jake segera tersadarkan. "Tidak. Tidak perlu. Kita lanjutkan rapat ini." Jake pun tidak mengindahkan tanda yang diberikan alam untuknya.


Bukan tanpa alasan botol itu jatuh. Walaupun tak sengaja menyenggolnya, terlintas di benak Jake jika ada sesuatu yang tengah terjadi saat ini. Yang mana hal itu berhubungan dengan dirinya. Tapi, Jake tidak ingin memusingkannya. Ia fokus saja dengan semua rencananya. Peperangan sudah dimulai dan Jake harus menang di medan perang.

__ADS_1


Jake tidak boleh kalah karena bahaya akan mengancam banyak orang. Jake harus tetap memprioritaskan tujuan utamanya.


__ADS_2