PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Sad


__ADS_3

Alexander mengaminkan. Ia tersenyum. "Aku akan berusaha menjelaskannya dengan sebaik mungkin, Honey. Tenanglah." Ia mengusap pelan pipi Lilia.


Lilia ikut tersenyum. Malam ini ia akhirnya dapat tersenyum setelah Alexander meyakinkannya. Sedang di hati Alexander masih menyimpan rasa penasaran yang begitu besar. Tentang apa yang terjadi pada ibunya.


Aku ingin segera menikahinya. Tapi sikap ibu tiba-tiba berubah. Besok aku harus mendapatkan jawaban mengapa ibu bisa sampai seperti itu.


Suasana restoran yang mulai ramai membuat Lilia menatap ke sekelilingnya. Jendela kaca yang ada di sisi mereka pun menjadi saksi makan malam bersama. Tanpa sadar keduanya tengah diperhatikan dari jauh oleh seorang pria. Pria itu tampak menurunkan kaca mobil belakangnya.


Lilia ....


Ialah Jake yang duduk diam di dalam mobilnya saat melihat kemesraan kedua orang yang berada di sana. Saat itu juga Jake hanya bisa menahan kesedihannya.


Masih teringat jelas kenangan demi kenangan yang telah terukir di antara dirinya dan juga Lilia. Namun, Jake hanya bisa memutar kembali kenangan itu di alam bawah sadarnya. Sedang alam sadarnya harus mampu menerima kenyataan jika Lilia tidak lagi bersamanya.

__ADS_1


Jake menelan ludahnya saat melihat pemandangan itu. Betapa Lilia begitu perhatiannya kepada Alexander. Lilia mengusap sudut bibir Alexander dengan tisu di tangannya. Dada Jake pun terasa sesak melihatnya. Ia seperti kehilangan udara di sekitarnya.


Lilia ... tidak seharusnya kau bersamanya.


"Tuan?" Sang supir pun menyapa bos besarnya. Tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


"Kembali ke apartemenku." Jake akhirnya memutuskan.


"Baik, Tuan."


Cahaya lampu perkotaan menyorot Jake yang sedang menyandarkan satu tangannya pada kaca jendela mobil. Raut wajahnya menahan kesedihan setelah melihat apa yang terjadi di restoran. Ia berulang kali mengambil napas dalam. Seakan-akan tidak mampu bernapas dengan normal.


Dadanya terasa sesak saat melihat kemesraan itu. Ia merasa tidak seharusnya Lilia seperti itu kepada pria selain dirinya. Jake cemburu, ia juga kecewa. Tapi ia harus menahan diri demi memenangkan peperangan.

__ADS_1


Lilia ... jagalah dirimu. Tunggu aku ....


Lantas Jake pun berusaha mengembalikan suasana hatinya. Ia mengalihkan pikiran dengan membuka ponselnya. Saat itu juga sebuah pesan masuk diterimanya. Tentang pertemuan yang akan segera terjadi. Jake akan kembali menemui Smith malam ini.


Pukul sembilan malam, waktu ibu kota dan sekitarnya...


Malam masih ramai. Perkotaan juga masih dipadati kendaraan yang lalu-lalang. Seakan-akan tidak melihat jika hari sudah malam. Begitu juga dengan Jake yang masih sibuk dengan urusannya. Ia harus menemui seseorang dengan segera.


Jake melangkah masuk ke sebuah restoran tertutup kelas atas. Ia datang bersama supirnya. Ia tidak membawa pengawalnya. Jake tampak ingin menghadapinya sendiri.


Di balik jas hitam hitamnya, ia menyembunyikan pistol berisi enam butir peluru. Jake juga terhubung dengan seseorang di sana, yang memantau keadaan sekitar. Ia memiliki perlindungan ganda untuk dirinya. Tak ayal ia pun sulit untuk dijatuhkan lawannya.


"Maaf telah membuat menunggu."

__ADS_1


Jake pun masuk ke dalam ruangan. Terlihat seorang pria di dalam sana yang sedang menghisap asap cerutunya.


__ADS_2