
Kembali ke Burj Khalifa, Dubai...
Lilin-lilin merah menyala dengan indah. Meja makan tertata rapi menjadi saksi kedua insan yang sedang berpelukan seraya memandangi perkotaan. Keduanya tampak mesra saat sang pria mencium wanitanya dari belakang. Sang wanita pun tampak tersenyum padanya.
Pelukan hangat itu mampu menepiskan kegelisahan yang melanda. Pelukan hangat itu juga mampu memunculkan hormon kebahagiaan agar menyelimuti hati mereka. Baik Alexander maupun Lilia menikmati momen indah ini bersama. Karena malam ini adalah malam terakhir mereka di Dubai.
"Tidak terasa sudah satu bulan saja." Kedua tangan Alexander yang melingkar di perut Lilia menjadi saksi perbincangan mesra malam ini.
"Aku juga masih tak percaya, Dear." Lilia pun menanggapinya.
Alexander membenamkan kepalanya di bahu Lilia yang harum dan lembut. Ia hirup dalam-dalam udara yang begitu menyejukkan dari wanitanya. Kedua tangannya pun memeluk Lilia dengan erat. Seolah tidak ingin jauh dan lepas dari wanitanya. Harus Alexander akui jika Lilia adalah udaranya. Udara yang amat dibutuhkan di setiap hela napasnya.
__ADS_1
"Nanti kita ingin punya anak berapa, Honey?" Alexander tiba-tiba bertanya seraya mengusap perut Lilia.
"Em ...," Saat itu juga Lilia terkejut dengan pertanyaan prianya. "Maunya berapa?" tanya Lilia seraya menoleh ke prianya.
Alexander berpikir sejenak. "Sepasang saja ya." Ia mencium pipi Lilia kembali.
"Bagaimana jika dapatnya lelaki atau perempuan semua?" tanya Lilia menanggapi.
"Ya ... pokoknya sampai dapat sepasang. Hahahaha." Alexander pun tertawa di sisi wanitanya.
Lilia pun menarik ujung hidung Alexander. Ia merasa gemas dengan jawaban prianya. Ia pun membalikkan badan, menghadap Alexander. Saat itu juga Alexander tersenyum manis sekali. Lilia pun menatap dalam wajah prianya. Ia masih tak menyangka jika akan melangkah sejauh ini bersama seorang pria yang dulu ia abaikan. Lilia kini mencintainya sepenuh hati.
__ADS_1
Lantas tanpa banyak bicara, Lilia pun merebahkan kepalanya di dada bidang Alexander. Melingkarkan kedua tangannya seraya mendengarkan detak jantung seorang pria yang berhasil membuatnya bangkit dari keterpurukan. Saat itu juga ia merasa detak jantungnya beresonansi bersama. Lilia merasa cintanya direstui semesta.
Dear, aku ingin kebahagian ini selalu menyertai. Jangan pernah kecewakan aku ya. Apapun masalah yang kita hadapi, kita selesaikan bersama dengan suka cita.
Alexander pun tidak ingin tinggal diam. Ia membalas pelukan wanitanya lalu mengusap rambut Lilia yang panjang. Usapan yang lembut dan begitu berarti dari dirinya. Saat itu juga Lilia pasrah terhadap apa yang akan Alexander lakukan. Ia menyerahkan dirinya malam ini.
"Lilia." Alexander pun memanggil. Panggilan yang terdengar begitu syahdu. "Aku ... mencintaimu," katanya seraya menatap dalam wajah Lilia.
Sinar bening bola mata biru itu seolah meminta Lilia untuk memejamkan mata dan membiarkan Alexander menciumnya. Lilia pun seperti terikat dan tidak bisa menolaknya. Alam bawah sadarnya memberi tanda jika cinta itu sudah sepenuhnya. Kepada seorang pria yang dahulunya ia abaikan, Alexander Smith.
"Aku juga mencintaimu, Dear." Lilia pun mengucapkan kata itu tanpa ragu ataupun malu.
__ADS_1
Alexander tersenyum. Ia kemudian menempelkan dahinya ke dahi Lilia. Saat itu juga hangat napas keduanya saling berpadu, di tengah angin malam yang berembus mengenai mereka.
Alexander lalu merendahkan tubuhnya. Ia memiringkan sedikit kepalanya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Lilia. Perlahan tapi pasti ia pun mengecup bibir Lilia dengan lembut. Kecupan yang begitu terasa hingga merasuk ke relung jiwanya. Lilia pun tidak dapat menolaknya. Ia biarkan bibir itu bertemu di tengah suasana cinta yang syahdu.