PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Small Game


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Lilia mengajak Jake masuk ke motel tempatnya tinggal. Jake pun melihat sendiri bagaimana keadaan motel Lilia. Saat itu juga ia segera memesan apartemen terdekat untuk wanitanya. Dan kini keduanya baru saja sampai di apartemen baru Lilia. Jake membayar dimuka untuk tiga bulan ke depan. Ia tidak ingin Lilia susah.


"Aku tak habis pikir kenapa kau mau tinggal di tempat seperti itu." Jake duduk di sofa tamu apartemen baru Lilia. Ia tampak tak percaya dengan keadaan tempat Lilia tinggal.


"Aku harus mengirit uangku, Jake. Aku tidak bisa sembarang mengeluarkan uang." Lilia pun datang membawakan minuman untuk pria berwajah muram itu.


Jake melihat Lilia. Ia tatap wanitanya penuh tanda tanya. Betapa keras hati Lilia untuk tidak menghubunginya. Apalagi sampai menemuinya. Jake pun tersadar jika Lilia memang wanita mandiri dan layak untuk diperistri. Apa-apa serba mengerjakan sendiri.


"Babe, kadang aku kesal padamu." Jake mengutarakan isi pikirannya.


"Kesal?" Lilia pun duduk di sofa seberang Jake. Ia meneguk minuman dinginnya.

__ADS_1


"Ya. Kau terlalu keras hati dan teguh dengan pemikiran sendiri." Jake mengungkapkan pemikirannya tentang Lilia.


Lilia mengembuskan napasnya. Sisi arogan Jake serasa mulai mendominasinya. Jake kembali ke sediakala. Di mana suka sekali mencemooh orang tanpa peduli bagaimana perasaannya.


Lilia meneguk habis minuman dinginnya. Ia tatap pria yang duduk di seberangnya dengan tatapan memburu. Lilia ingin mengerjai Jake malam ini.


"Kau salah sangka terhadapku." Lilia berjalan mendekati Jake. Ia kemudian duduk di samping pria yang baru saja melamarnya.


Jake menaikkan satu alisnya.


Jake memerhatikan wanitanya. Ia tahu jika Lilia adalah seorang wanita penggoda. Dan ia juga tahu jika Lilia pintar memainkan drama. Tapi malam ini sentuhan jari itu seakan mengobarkan hasrat yang telah lama dipendamnya. Hingga akhirnya Jake tidak mampu lagi untuk menahan rasa geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Apa ini akting?" Jake memegang tangan Lilia. Saat itu juga Lilia berhenti bermain-main di atas pusar Jake.

__ADS_1


Lilia menggigit bibirnya. Ia semakin menjadi-jadi. Ia kemudian berbisik lembut di telinga Jake. "Kau pasti merindukannya, Tuan." Tiba-tiba saja Lilia mengingatkan Jake dengan awal pertemuannya.


Jake menatap Lilia. Bisikan lembut itu tentu saja membangkitkan gairahnya. "Aku ingin." Ia kemudian berkata jujur. Melupakan hal apa yang baru saja ia katakan.


Lilia tertawa dalam hati. Ia merasa menang malam ini. "Aku sedang mens," katanya, mematahkan harapan Jake.


"Apa?!" Jake pun tak percaya.


Lilia beranjak berdiri. "Kasihan sekali." Lilia pun mengejek Jake.


"Lilia!" Saat itu juga Jake kesal bukan kepalang. Ternyata Lilia benar-benar mempermainkannya.


Lilia menahan tawa. "Aku lelah sekali. Sampai jumpa esok lagi." Ia pun lekas-lekas masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Sesuatu itu sudah bereaksi. Gejolak di dada bak air mendidih. Namun sayang, Lilia pergi. Ia meninggalkan Jake setelah berhasil membangkitkan hasratnya. Jake pun kesal menjadi-jadi.


Babe, aku berjanji. Setelah waktunya tiba, aku akan membuatmu merintih sampai mengemis meminta berhenti. Aku tidak akan memberimu jeda sama sekali.


__ADS_2