PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Task


__ADS_3

...Helen, ibu Alexander...



"Ya Tuhan?!" Helen seperti tidak bisa berkata apa-apa.


"Nyonya, ada apa?" Bian pura-pura tidak tahu. Ia bersandiwara untuk meyakinkan Helen.


"Ini ...?" Helen tak menduga jika Lilia yang diceritakan adalah calon menantunya.


Bian memainkan perannya dengan baik. Ia pura-pura tidak tahu dan memancing Helen untuk mengatakan siapa yang dilihatnya. Padahal hal itu dilakukannya hanya untuk membuat Helen tidak menyukai Lilia. Bian berhasil melaksanakan tugas dari Jake Thompson.


Setengah jam kemudian...


Bian akhirnya mendapatkan tiga buket bunga lily hidup. Ia meletakkan buket bunga itu di kursi sampingnya. Sedang dirinya masih menyetir mobil selepas dari rumah Helen, ibu Alexander. Tak berapa lama ia pun berhenti saat ada gerombolan angsa yang sedang menyeberangi jalan pedesaan. Tampak beberapa kendaraan menunggu angsa-angsa tersebut menyeberangi jalan. Saat itulah Bian mengambil ponsel lalu mengirimkan pesan kepada Jake Thompson. Ia memberi kabar gembira untuk sang bos besar.


/Tuan, aku sudah menjalankan perintahmu. Aku menunggu bayaranku./

__ADS_1


Bian menjalankan aksinya bukan atas kemauan sendiri, melainkan diminta oleh Jake untuk mencuci pikiran Helen agar tidak menyukai Lilia. Karena menurutnya, dengan cara itu akan membuat Helen sedikit demi sedikit membenci Lilia. Karena Jake tahu Helen tidak menyukai wanita penggoda.


"Lilia, maafkan aku. Kita sama-sama wanita yang terjebak dalam dunia ini. Tapi aku berharap yang terbaik untukmu."


Bian pun terus menunggu angsa-angsa tersebut menyeberangi jalan pedesaan. Hingga akhirnya ia teringat dengan perbincangannya bersama Jake di kantor. Di mana ia merasa ketakutan karena ancaman dan tekanan yang Jake berikan. Ia berada di situasi terdesak saat itu.


Kemarin di ruang kerja Jake...


"Tuan, bagaimana dengan keselamatanku? Aku takut nyonya Lea mengetahui hal ini."


"Aku akan mengaturnya. Kau tenang saja." Jake berkata seperti itu.


Sejenak Bian terdiam. Pikirannya kalut karena merasa terdesak oleh situasi. Ia serba salah saat itu. Ia juga khawatir salah mengambil keputusan.


"Apakah ada hal yang Lea katakan padamu hingga membuatmu ketakutan seperti ini?"


Jake duduk di pinggir meja kerjanya, menghadap Bian yang masih terduduk di kursi. Bian pun tampak menelan ludahnya di hadapan Jake.

__ADS_1


"Tuan, nyonya bilang dia akan melenyapkan Lilia karena Lilia telah berkhianat padanya. Aku takut jika hal itu terjadi padaku." Bian menceritakan.


Saat itu juga Jake terperanjat kaget. Ia tak percaya jika Lea memang benar demikian. Padahal tadinya Jake hanya menakut-nakuti Bian agar berpihak padanya. Tapi nyatanya Lea memang seperti itu.


"Dia bilang begitu?" Jake antusias menanggapi.


Bian mengangguk. "Nyonya bilang mudah baginya untuk melenyapkan Lilia. Tapi dia masih mempunyai urusan denganmu sehingga dia menundanya. Mungkin setelah urusannya selesai, nyonya akan melakukan hal itu kepada Lilia. Karena Lilia sudah berkhianat padanya." Bian mengungkapkan.


Jake beranjak berdiri lalu menuju jendela ruangannya. Ia tatap kekejauhan seraya mendengus kesal. Tentu saja ia tidak terima jika hal itu sampai terjadi pada Lilia.


"Laksanakan saja apa yang aku perintahkan. Selebihnya biar aku yang mengurusnya." Jake berjanji, Bian pun merasa tenang dengan janji tersebut.


.........


...Bian...


__ADS_1


__ADS_2