
Beberapa menit kemudian...
Semilir angin mengantarkan seorang pria bermantel hitam masuk ke dalam toko Lilia. Pria itu mengenakan topi hitamnya agar tidak terlalu terlihat oleh orang yang lalu-lalang. Ia pun membuka pintu toko dengan pelan. Sedang detak jantungnya melaju kencang bukan kepalang. Ia khawatir kehadirannya ditolak sang pemilik toko. Tapi ia meyakinkan hati jika semuanya akan baik-baik saja.
"Selamat datang!"
Suara semringah nan ceria itu menyambutnya. Ia pun menujukan pandangannya kepada seseorang yang sedang mencuci tangannya di ujung sana. Terlihat seorang wanita yang begitu dirindukannya. Ia ingin sekali segera memeluknya.
Detak jantung itu semakin cepat tak terkendali. Harap-harap cemas kehadirannya tak diinginkan lagi. Ia pun berulang kali menarik napas dalam dan panjang. Mencoba menormalkan suasana hati yang mulai kacau. Seseorang di sana pun tampak cepat-cepat membasuh tangannya. Bersamaan dengan detak jantung yang kian ingin melompat.
Ialah Jake Thompson yang masuk ke dalam toko Lilia. Ia memberanikan diri untuk menemui Lilia sekarang. Saat itu juga ia melihat di mana keberadaan wanita yang akhir-akhir ini mengganggu alam pikirannya. Jake melihat Lilia sedang mencuci tangannya di sana. Hatinya bergetar, jantungnya pun berdegup kencang. Alam pikirannya dipenuhi perasaan. Jake merindukan seseorang yang ada di sana.
__ADS_1
Eh? Tidak ada suara?
Sementara itu, Lilia yang masih mencuci tangannya tampak terheran karena tidak ada suara setelah ada yang membuka pintu tokonya. Ia pun lekas-lekas mengelap tangannya lalu segera berbalik untuk menyambut kedatangan pembelinya. Namun, saat itu juga ia terdiam di tempat. Langkah kakinya terasa begitu berat. Lilia melihat sendiri siapa yang datang ke tokonya.
Jake ...? K-k-kau kah itu?
Hatinya tak percaya melihat pria bermantel hitam tengah berdiri di ujung sana. Pria itu melepaskan topinya. Tampak pandangan pria itu seperti mulai berlinangan air mata. Lilia pun ingin lebih memastikannya.
Suara berat itu mulai terdengar pelan sekali. Nyaris tidak terdengar oleh Lilia. Untung saja suasana toko sedang sepi pagi ini. Sehingga bisa menghantarkan suara itu ke telinganya. Lilia pun bertanya-tanya. Ia masih tak percaya jika Jake datang ke tokonya.
"Jake ...?"
__ADS_1
Mereka berdiri dengan jarak yang cukup jauh. Saling melihat satu sama lain dengan detak jantung yang tak menentu. Keduanya akhirnya bertemu setelah lama tak berjumpa. Rasa haru pun mulai menyelimuti alam pikiran mereka. Dada itu terasa sesak dan ingin segera menumpahkan air mata.
"Lilia ... aku datang ...."
Benarlah jika Jake yang datang. Lilia pun mencoba menggelengkan kepalanya. Ia mencubit pipinya. Masih tak percaya jika Jake benar-benar datang ke tokonya. Sedang lidahnya seakan berkeluh, tidak bisa berkata apa-apa. Jake pun sama. Raut wajahnya menahan linangan air mata yang akan segera tumpah.
Dia datang? Bagaimana ini? Apakah aku harus pergi?
Lilia ingin pergi, tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Ia sudah kepergok Jake berada di sini. Tidak mungkin ia lari. Hanya ada satu cara agar dapat menjalani semuanya dengan tenang. Yaitu menghadapinya.
Jake menarik napas dalam. "Aku Jake, Lilia. Aku datang untuk menjemputmu," kata Jake lagi.
__ADS_1
Pandangan Jake berubah, tidak seperti biasanya. Pria berwajah muram itu kini tampak sendu saat melihat Lilia. Lilia pun mencoba mendekatinya. Namun, langkah kakinya masih terasa berat, entah mengapa.