
Lilia ternyata benar-benar memenuhi ucapannya. Jake pun mengusap lembut rambut Lilia lalu menghirupnya. Ia rasakan harum lembut rambut itu dan tidak ingin kembali kehilangannya.
Lilia, kau telah memenuhi janjimu.
Bertambahlah rasa sayang Jake kepada Lilia. Teringat kembali perkataan Lilia saat Jake banyak menanyakan hal padanya. Yang mana Lilia berkata ingin berbakti kepada suaminya. Dan ia akan bekerja jika memang dibutuhkan. Lilia pun tidak akan mengambil pekerjaan terdahulu untuk menjaga perasaan suaminya. Sekalipun dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Dan kini Lilia membuktikannya. Ia lebih memilih menjadi penjual kue dibanding kembali ke pekerjaannya dulu. Dan Jake menghargai hal itu.
"Jake ... kau baik-baik saja?" Lilia mendengar tarikan napas yang begitu berat dari prianya.
Jake tidak pernah menangis. Jake juga tidak peduli dengan perasaan orang lain terhadapnya. Ia begitu tegas, kejam dan arogan kepada siapapun. Tapi di hadapan Lilia, ia bisa lemah dan menghamba. Jake menyadari jika dirinya memang benar-benar mencintai Lilia. Hanya Lilia seseorang, tidak ada yang lainnya.
Jake terus memeluk Lilia. "Sejujurnya ... aku lebih suka kau menjajakan kue daripada menjajakan dirimu, Lilia. Cukup hanya aku saja yang memilikimu. Jangan sampai ada yang lainnya." Jake berkata dengan suara yang pelan.
Lilia mengangguk di pelukan Jake. "Kau pria pertama bagiku, Jake." Lilia menegaskannya.
Jake mengambil napas dalam-dalam. Ia teringat dengan malam pertamanya bersama Lilia. "Maafkan aku. Tapi ketahuilah, aku tidak akan melakukannya jika tidak tertarik padamu." Jake berkata jujur.
__ADS_1
Lilia melepaskan pelukan Jake. "Jadi, kau tertarik padaku?" Lilia meminta kepastian.
Jake mengangguk. "Awalnya aku memang merasa risih. Tapi entah mengapa sejak kau mengatakan hal itu, aku jadi yakin." Jake berterus terang.
"Kata-kata yang mana?" Lilia amat penasaran.
Jake tersenyum. Ia tampak malu mengatakannya. Kenangan akan sikap acuh tak acuhnya teringat kembali.
"Sudahlah. Lupakan saja. Lagipula aku sudah melamarmu sekarang." Jake tidak ingin mengatakannya lagi.
Jake memandangi paras Lilia sambil tersenyum. Jake tahu jika Lilia begitu cantik. Jake juga tahu jika pekerjaan Lilia dulu hanya sebatas profesi yang harus dijalani untuk bertahan hidup.
"Babe, sudah ya. Nanti kugigit." Jake meminta Lilia untuk tidak mengingatkannya lagi.
"Eh?!" Lilia pun terkejut.
__ADS_1
"Aku ... aku sudah lama menahannya. Jangan pancing aku dengan wajah imutmu," kata Jake kembali.
"Hah ...." Lilia mengembuskan napasnya. "Hasratmu terlalu besar, Jake." Ia pun berlalu meninggalkan Jake.
"Lilia!" Jake pun kesal karena ditinggalkan lagi.
Lilia tak peduli. Ia bersikap acuh tak acuh kepada Jake.
Babe, kau seperti aku di masa lalu.
Jake merasa jika Lilia adalah biasan dirinya di masa lalu. Yang mana tidak peduli terhadap panggilan atau perasaan Lilia. Ia kini merasakan apa yang Lilia rasakan waktu itu. Ia menuai apa yang ditanamnya.
Babe, aku mencintaimu.
Seorang CEO arogan akhirnya berubah menjadi budak cinta penggodanya. Ia pun harus mengakui jika lemah di hadapan wanitanya. Sisi arogannya runtuh, seakan tak bersisa. Jake harus mengakui jika hanya Lilia lah yang bertahta. Jake berharap Lilia dapat setia dan mendukung usahanya. Jake memercayakannya kepada Lilia. Kepada seorang wanita yang pernah ia sakiti hatinya. Namun, kini telah dilamarnya.
__ADS_1
Jake dan Lilia. Perjalanan cinta keduanya pun kembali dimulai malam ini. Bintang di langit menjadi saksi akan cinta yang tidak mengenal gengsi.