
"Babe, kau baik-baik saja?" tanya Jake perhatian.
Lilia melirik tajam ke arah Jake. "Aku akan lebih baik-baik saja jika kau segera mandi. Cepat mandi! Aku akan mengantarkan kuenya!" Lilia galak kepada Jake.
Jake tertegun. Bukannya marah, ia malah merasa senang dengan sisi lain dari Lilia ini. Jake merasa tertantang untuk menaklukannya.
"Temani ya?" Ia pun mulai melancarkan aksi nakalnya.
Lilia segera berdiri. "Aku sudah tahu akal bulusmu. Sekarang cepat mandi atau kutinggal pergi!" Lilia pun bergegas pergi.
"E-eh? Tung-tunggu!"
Jake pun seperti tidak berdaya. Ia menurut saja kepada Lilia. Ia merasa amat lemah di hadapan wanitanya.
Mengapa aku bisa seperti ini? Obat apa yang telah dia masukkan ke mulutku?
Seorang CEO arogan akhirnya takluk oleh seorang wanita penggoda. Yang mana wanita itu mencuri hatinya sampai ke bagian terdalam. Bak tidak mempunyai kekuatan, Jake menurut saja. Ia seperti suami yang takut pada istri. Lilia pun begitu senang karenanya.
Entah mengapa aku begitu senang melihatnya lemah di hadapanku. Apakah aku sudah gila?
Lilia pun tersenyum-senyum sendiri di sana. Ia merasa menang telak dari Jake. Bunga-bunga cinta itu pun kembali bermekaran di hatinya. Pelan tapi pasti Lilia menginginkan kebersamaan ini selamanya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian...
Satu, dua, tiga pesanan telah diantar ke empunya. Dan kini Lilia duduk di kursi mobil dengan hati yang riang gembira. Ia lelah, tapi merasa senang. Karena akhirnya usahanya membuahkan hasil yang memuaskan. Tentunya berkat bantuan dari Jake juga.
"Malam ini aku akan menraktirmu. Kita makan ya?" Lilia mengajak Jake makan malam bersama.
"Benarkah?" Jake tak percaya.
"Kau mau makan apa?" tanya Lilia senang.
Jake tampak berpikir. "Em ... aku ingin makan seafood di pinggir pelabuhan. Bagaimana?" Jake mengajak Lilia untuk makan seafood bersama.
"Apa? Seafood?" Lilia menelan ludahnya.
Saat itu juga Lilia melihat isi tasnya. Ia melihat uang hasil penjualan kue pesanannya. Raut wajahnya berubah drastis kala Jake mengajaknya makan bersama. Lilia pun menelan ludahnya.
Lucu sekali wajahnya.
Sementara itu Jake terlihat senang karena berhasil mengerjai Lilia. Ia tahu jika penjualan tiga kue pesanan tidaklah banyak. Tapi ia sengaja meminta makan di tempat mahal untuk mengerjai wanitanya.
"Jake, em ... uangnya ... uangnya tidak cukup." Dengan raut wajah bingung Lilia menunjukkan uang hasil penjualan kuenya.
__ADS_1
Jake menahan tawa. Ia menutupi mulut dengan tangannya. Pemandangan wajah imut yang tampak pasrah bercampur bingung itu membuatnya geli sendiri. Jake sudah lama merindukan momen seperti ini. Ia pun terus mengerjai Lilia.
"Jangan tarik kembali ucapanmu. Tadi sudah bilang ingin menraktirku. Jadi, mari kita pergi ke sana." Jake pun menarik pedal gigi mobilnya. Ia segera melaju.
"Jake ...."
Saat itu juga Lilia jadi menyesali tindakannya yang ingin menraktir Jake malam ini. Ia ingin mencabut kembali ucapannya. Sementara Jake terlihat tersenyum-senyum sendiri sambil memegang kendali mobilnya.
Rasakan!
Jake begitu senang karena dapat mengerjai Lilia. Lilia pun tidak menyadari apa yang dilakukannya.
Malam ini akhirnya mengantarkan keduanya menuju restoran yang ada di pelabuhan kota. Jake ingin mengajak Lilia ke sana karena sudah mempersiapkan sesuatu sebelumnya. Entah apa, Jake berharap Lilia mau menerimanya.
.........
...Jake...
...Lilia...
__ADS_1