
Esok harinya...
Embusan angin menyadarkan seorang wanita dari alam mimpi yang indah. Ia terbangun di samping pria berambut pirang yang kelelahan semalam. Pria itu tertidur lelap di sampingnya. Sweter rajutan pun menjadi saksi malam yang mereka lalui bersama.
Ialah Lilia yang sedang tidur bersama prianya. Tapi mereka tidak melakukan hubungan intim. Hanya sebatas berpelukan setelah permainan kecil yang mereka buat. Alexander pun terlihat masih terlelap dalam mimpinya.
Dear, kau kelelahan rupanya.
Lantas saja Lilia beranjak bangun dari sisi prianya. Ia duduk di atas kasur sambil menggulung rambutnya yang panjang. Ia pun bergegas ke kamar mandi lalu membuatkan sarapan. Bak seorang istri idaman, Lilia bangun pagi sekali. Jam di dinding pun menjadi saksi pengabdian cintanya kepada Alexander.
Waktu baru saja menunjukkan pukul empat pagi. Tapi Lilia sudah sibuk saat ini. Sehabis dari kamar mandi, ia lekas-lekas membuatkan sarapan. Nasi goreng spesial yang diracik olehnya sendiri. Menit demi menit dilalui. Akhirnya, nasi gorengnya pun jadi.
Tak lama kemudian Alexander pun menghampiri Lilia yang sedang berada di dapur. Dengan mata sembab sehabis bangun tidur, ia menyapa Lilia seraya tersenyum. Senyuman setelah malam mereka lalui bersama. Ia pun merangkul mesra pinggang Lilia pagi ini.
__ADS_1
"Dear?" Lilia pun terkejut karena tidak punya persiapan.
Alexander tersenyum kepada Lilia. "Terima kasih ya." Ia kemudian memeluk wanitanya.
Alexander terbangun saat mencium aroma sedap dari masakan Lilia. Tepat pukul setengah lima pagi, ia menghampiri Lilia yang berada di dapur. Mereka pun bercanda sebentar sebelum melanjutkan aktivitas. Tentunya pelukan pagi ini membuat mereka semakin bersemangat menjalani hari. Lilia pun meminta prianya untuk segera mandi.
"Sudah sana mandi. Nanti telat kerja," kata Lilia pada Alexander.
Alexander melepas pelukan lalu mencium kening Lilia. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Pagi-pagi ini Alexander akan berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lilia pun membantu mempersiapkannya.
Lilia sedang mengikatkan dasi prianya. Alexander pun menatap Lilia tanpa jemu. Ia merasa terenyuh dilayani seperti ini.
"Nanti aku pulang agak larut. Jika ingin berkeliling kota, tak apa." Alexander mengizinkan Lilia untuk keluar apartemen sendiri.
__ADS_1
"Yang benar, Dear? Tapi aku inginnya bersamamu." Lilia akhirnya sudah selesai memakaikan dasi Alexander.
Alexander tersenyum. "Aku tidak mengekangmu selama memberikan kabar, Honey." Alexander pun mencubit hidung Lilia.
"Ih, sakit!" Lilia pun pura-pura kesakitan karenanya.
Alexander memutar tubuh Lilia agar menghadap ke arah cermin bersamanya. "Beberapa minggu lagi pekerjaanku akan selesai. Nanti kita prawedding di pantai ya." Ia menjanjikan kepada Lilia.
"Apa?! Kau serius, Dear?" tanya Lilia tak percaya. Ia berbalik menghadap prianya.
Alexander mengangguk. "Ya. Kita akan prawedding di sini. Kita segera kembali ke desa untuk meminta restu ibu. Bagaimana?" Alexander mengabarkan sesuatu yang Lilia tunggu.
Tanpa banyak bicara Lilia pun segera menghambur ke pelukannya. Ia merasa bahagia mendengar kabar dari prianya.
__ADS_1
"Ya, sudah. Aku berangkat, ya. Kabari saja jika mau jalan-jalan. Aktifkan GPS agar aku bisa melacakmu." Alexander mencolek hidung Lilia.
Lilia pun mengangguk. Ia kemudian mencium pipi Alexander. Tentu saja ciuman itu membuat prianya tersenyum. Alexander pun menarik Lilia ke dalam pelukannya. Ia lalu mencium kening kekasihnya. Pagi ini ia salurkan perasaan yang ada.