
...Smith...
.........
"Alex! Kau tidak bisa mendapatkannya tanpa bantuan dari ayah!" Smith memberi peringatan kepada putranya.
Alexander berhenti melangkah. Ia berbalik melihat ayahnya. "Jake hanya masa lalunya. Sedang masa depannya adalah bersamaku. Aku menerima keadaannya dan segala kekurangannya," terang Alexander kepada Smith. "Dan satu lagi, dia bukan peliharaan. Dia adalah kekasihku. Ayah harus tahu itu." Alexander pun pergi dari hadapan Smith.
Alex ....
Saat itu juga Smith menyadari kekerasan hati putranya. Ia mengetahui bagaimana perasaan Alexander yang sesungguhnya. Ia telah salah prasangka.
Aku pikir dia hanya main-main. Ternyata dia serius dengan wanita itu.
__ADS_1
Alexander pun melangkah pergi dari pondokan menuju mobil Lexus hitam yang menunggunya. Alexander masuk ke dalam mobil dengan hati yang bergemuruh. Sang supir juga ikut masuk ke dalamnya.
"Dear ...."
Sesampainya di dalam mobil, Lilia pun segera menyapanya. Namun, Alexander hanya tersenyum kepada Lilia.
"Aku tidak apa-apa." Ia mengusap pipi Lilia.
Lilia mengangguk. Bersamaan dengan itu supirnya bertanya, "Kita mau ke mana, Tuan Muda?" tanya sang supir dari depan.
"Ke rumah ibu," jawab Alexander singkat.
Hari ini Alexander menolak mentah-mentah tawaran ayahnya kembali. Padahal Smith telah meyakinkan Alexander jika tidak bisa melawan Jake sendiri. Tapi Alexander dengan kukuh menolaknya lagi. Ia merasa tidak perlu khawatir terhadap segala tindak-tanduk Jake ke depannya. Karena ia yakin hati Lilia sudah dimilikinya.
Setelah apa yang terjadi dan dilewati bersama, Alexander semakin yakin dengan hubungannya bersama Lilia. Ia tidak akan ragu melangkah. Karena bagi Alexander, Lilia adalah segalanya.
__ADS_1
Lilia sendiri tampak menyadari apa yang terjadi pada prianya. Ia mendengar detak jantung itu begitu bergemuruh di dalam sana. Namun, Lilia menenangkannya. Ia bersandar di dada bidang Alexander sambil terus mengusapnya. Alexander pun memeluk Lilia dengan eratnya.
Sang supir yang merupakan anak buah dari sang ayah hanya bisa sesekali melirik pemandangan itu dari kaca tengah mobil. Setelahnya ia kembali fokus menyetir menuju pedesaan. Ia tidak berani banyak berkomentar atas apa yang dilihatnya. Karena ia tahu Alexander adalah putra bosnya.
Mereka akhirnya melaju bersama menuju ke pedesaan. Entah bagaimana tanggapan ibu Alexander nantinya. Apakah ia dapat menerima Lilia sebagai menantunya?
Beberapa jam kemudian...
Rumah bercat putih itu sudah berada di depan mata. Alexander pun segera mengajak Lilia keluar dari mobil begitu sampai di depannya. Ia berkata kepada sang supir untuk meninggalkannya. Tapi, sang supir itu menolaknya.
"Tuan, saya diminta oleh tuan besar untuk mengantarkan ke mana Tuan pergi." Supir itu menjalankan apa yang diperintahkan bosnya.
"Nanti aku beli mobil. Pulanglah. Sampaikan pada ayah, terima kasih atas tumpangannya." Alexander berpesan.
Supir itupun merasa tidak dibutuhkan lagi. "Baik, Tuan." Ia akhirnya menurut pada Alexander.
__ADS_1
Supir yang merupakan anak buah dari Smith itu segera masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu melaju pergi dari rumah mantan istri bos besarnya. Namun, ia tidak segera kembali ke kota, melainkan singgah sejenak di tepi jalan yang tak jauh dari rumah tersebut. Ia harus melaporkan semua peristiwa kepada bos besarnya.
"Halo, Tuan. Tuan Muda tidak ingin ditunggu." Ia mengabarkan kepada Smith. "Baik. Saya akan mengawasinya dari jauh." Tak lama ia pun memutuskan sambungan teleponnya.