
Kembali ke percakapan Lilia dan Jake...
"Bagaimana jika kau membuat kue sendiri? Mungkin punya inovasi untuk diperkenalkan ke khalayak ramai." Jake menyarankan.
Lilia merasa pesimis. "Aku tidak punya cukup modal untuk itu. Aku harus bisa menggunakan uang dan mengiritnya sebisa mungkin," terang Lilia.
Jake pun menahan tawa mendengarnya. "Baik-baik. Aku mengerti." Jake kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu di ponsel pintarnya itu.
Lilia terdiam. Ia merasa bingung harus berkata apa jika tidak ditanya. Ia hanya sesekali melirik ke arah Jake sampai Jake mengajaknya bicara.
"Tunggu satu jam dari sekarang. Kita akan melihat perubahannya." Jake bak memberi angin segar kepada Lilia.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lilia ingin tahu.
Jake tersenyum seraya menatap bola mata hitam Lilia. "Aku sedang tidak ingin membicarakannya. Aku ingin fokus membantumu saja," kata Jake, bak serangan balik untuk Lilia.
__ADS_1
Dia ini. Dasar pendendam!
Lilia pun cemberut karenanya. Ia merasa kata-katanya dibalikkan oleh Jake. Jake pun tertawa saat melihat bibir merah itu mengerucut karenanya.
"Sini, berikan padaku apa yang kau butuhkan. Kau benar-benar bisa membuat kue, bukan?" tanya Jake memastikan.
Lilia pun dengan malas menanggapi Jake. "Lihat saja nanti," jawabnya ketus.
Jake semakin gemas kepada Lilia. Babe, kau ingin kulahap saat ini? Oh, tidak. Jangan pancing aku.
"Jangan membuatku menarik kembali ucapanku. Mau kubantu tidak?" Jake mengancam Lilia sambil menahan tawanya.
Lilia tampak malu-malu. "Iya-iya." Ia akhirnya mengalah, memberikan katalog yang sudah ditandainya.
Jake pun mengambil katalog peralatan kue itu. Ia segera memesannya. "Sudah. Sebentar lagi dikirim," kata Jake kepada Lilia.
__ADS_1
Seketika Lilia senang mendengarnya. "Benarkah? Wah! Terima kasih." Lilia pun segera memeluk Jake tanpa ragu. Hatinya senang sekali.
Jake tersenyum. Ia merasa lucu dengan tingkah laku Lilia. Ia pun membalas pelukan itu dengan membenamkan wajahnya di bahu Lilia.
Kau tidak perlu sesenang itu, Babe. Aku yang seharusnya senang karena kau tidak mengusirku. Terima kasih telah memberi kesempatan untukku.
Jake pun ingin terus memeluk Lilia, tapi Lilia segera melepaskannya karena khawatir terbawa suasana. Bagaimanapun ia tidak dapat membohongi hatinya jika Jake adalah cinta pertamanya. Begitu juga dengan Jake, ia harus mengakui jika Lilia adalah wanita pertamanya. Yang tahu segala sesuatu di balik wajah muramnya. Keduanya telah menyatu di malam itu dan tidak akan pernah bisa saling melupakan. Rasa cinta pun mengiringi kisah mereka. Berharap semesta ikut merestuinya.
Satu jam kemudian...
Jam makan siang harus terlewatkan karena Lilia kedatangan perlengkapan dan peralatan kuenya. Lilia juga harus disibukkan dengan dekorasi baru tokonya. Ia juga harus menerima pesanan yang mulai masuk ke ponselnya. Jake benar-benar membantunya dalam memajukan usaha yang sedang dirintisnya.
Senang, gembira, menjadi satu di dalam hatinya. Itulah yang Lilia rasakan saat ini. Jake pun ikut menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu mendekorasi ulang toko Lilia. Hari ini mereka habiskan waktu bersama sampai petang tiba. Hingga akhirnya semua sudah selesai dan terlihat cantik sekali.
"Wow ... luar biasa ...." Lilia memuji tampilan tokonya sendiri.
__ADS_1