
Pagi ini Lilia sedang melihat-lihat katalog peralatan kue yang ingin dibelinya. Ia mendapatkan katalog tersebut dari seorang pedagang yang lewat. Lilia pun tertarik untuk membuat kuenya sendiri. Ia mempunyai keahlian di bidang itu.
Dulunya Lilia seringkali kelaparan, sehingga jika ada bahan sisa, Lilia mengolahnya sendiri. Alhasil jalan hidup yang pahit membuatnya mempunyai keahlian di bidang perkuean.
"Harganya lumayan mahal. Kira-kira berapa lama modal bisa kembali ya?" Lilia memikirkan kembali jika membeli peralatan kue tersebut.
"Permisi." Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang datang.
"Selamat datang." Lilia pun segera berdiri. Ia menyambut dengan senyum semringah pembeli pertamanya.
"Bibi, aku ingin membeli kue rasa cokelat. Apakah ada?" tanya anak lelaki berusia sekitar tujuh tahun.
"Oh, ada. Silakan dipilih kuenya."
Lilia keluar dari area kasir lalu menunjukkan kue jajanan miliknya. Lilia pun mendampingi anak kecil tersebut. Ia begitu ramah terhadap pembeli di tokonya.
"Bibi, boleh aku borong semua kuenya?" tanya anak kecil itu.
"Hah? Kau serius?" Lilia tampak tak percaya.
Anak kecil itu mengangguk. "Tentu, Bibi." Ia begitu yakin dapat membeli semua kue Lilia.
__ADS_1
Lilia tampak berpikir. "Nanti ayah dan ibumu marah karena banyak membeli kue." Lilia mengingatkan. Ia khawatir ayah ibu anak kecil itu marah.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. "Tenang saja, Bibi. Paman sudah memberiku banyak uang. Ini." Anak itu pun memberi semua uang yang ia punya.
Astaga ...?!
Saat itu juga Lilia kaget karena anak kecil itu ternyata membawa banyak lembaran uang nominal terbesar. Sekitar lima lembar uang seratus ribuan.
"Tolong dibungkus ya, Bi. Teman-temanku sudah menunggu," tutur anak kecil itu lagi.
Lilia mengangguk. Ia seperti tidak dapat berkata apa-apa. Tak habis pikir anak sekecil itu sudah mempunyai banyak uang. Alhasil Lilia pun menghitung semua pembelian kue anak kecil tersebut. Sementara anak kecil itu melihat-lihat isi toko kue milik Lilia.
"Terima kasih, Bibi. Bibi cantik sekali." Anak itu pun memuji Lilia.
Lilia tersenyum. "Terima kasih kembali. Hati-hati di jalan." Lilia berpesan sebelum anak kecil itu pergi.
Anak kecil itupun mengangguk. Ia membalikkan badannya menuju pintu keluar. Lilia pun memerhatikannya.
"Bibi." Tiba-tiba langkah kakinya terhenti.
"Ya?" Lilia pun dengan antusias menanggapi.
__ADS_1
Anak kecil itu kemudian berbalik lagi menghadap Lilia. "Bibi, aku diminta mengantarkan surat ini kepadamu," kata anak kecil itu seraya mengeluarkan selembar surat dari bajunya.
"Eh?!" Lilia tampak terheran.
"Tapi bacanya saat aku sudah pergi saja ya. Sampai jumpa kembali." Anak kecil itupun berpamitan.
Lilia menjadi semakin bingung. "Surat? Surat apa?"
Lilia pun menerima selembar surat tersebut. Sedang anak kecil itu melambaikan tangannya kepada Lilia. Ia berjalan menyeberangi jalan di pertokoan Lilia.
"Hah ... ada-ada saja."
Lilia pun tidak segera menggubrisnya. Ia kembali ke meja kasirnya. Sementara anak itu segera mendatangi seseorang yang tengah menunggunya.
Anak kecil itu masuk ke dalam mobil. Ia menemui seseorang di dalam sana. "Paman, aku sudah mengantarkan suratnya. Ini kuenya. Mana upah untukku?" tanya anak kecil itu.
Seseorang di dalam mobil itupun tersenyum. Ia kemudian mengeluarkan lima lembar uang pecahan terbesar. "Ini untukmu." Ia memberikan uang tersebut ke anak kecil itu.
"Wah, Paman! Banyak sekali?!" Anak itu pun tak menyangka akan diberi uang sebanyak ini.
"Ini kuenya. Ambil saja dan bagikan ke teman-temanmu," tutur pria itu lagi.
__ADS_1