PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Surprise


__ADS_3

Angin pelabuhan menjadi saksi dua insan yang sedang duduk berdekatan. Perasaan di hati pun semakin bersemi seiring dengan waktu berjalan. Tak dapat Lilia pungkiri jika ia tidak dapat menolak pesona Jake. Tak dapat juga Lilia bohongi hatinya jika masih terukir nama Jake di dalam sana. Jake adalah cinta pertama Lilia.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku hanya suka satu merek." Jake mengatakannya seraya memegang tangan Lilia.


Keduanya telah dewasa. Percintaan yang mereka jalani juga bukan seperti ABG yang beranjak dewasa. Drama itu minim terjadi. Tapi memang memilukan hati. Selebihnya mereka saling mengerti dan memahami pasangannya. Tidak lagi ngambek-ngambekan atau sampai melontarkan cemoohan. Jika suka katakan suka, jika tidak katakan tidak. Semua frontal begitu saja.


Lilia tersenyum-senyum sendiri. Jake, kau bisa saja. Lilia pun merasa senang karenanya.


"Babe."


"Hm?"


Jake menoleh ke arah Lilia. Tangannya mulai merangkul pinggang wanita itu. Lilia pun melihat tangan Jake yang merangkul pinggangnya.


"Aku tahu kau masih mencintaiku," kata Jake yang membuat Lilia mengangkat kepalanya.


"Dari mana kau tahu?" Lilia merasa heran. Ia bak menghadapi dukun sakti.

__ADS_1


Jake menoleh. "Aku tahu semuanya tentangmu. Bahkan sampai ke bagian terdalam." Jake melihat ke arah pinggul Lilia.


"Dasar mesum!"


Saat itu juga Lilia memukul Jake. Namun, saat itu juga Jake menahan tangan Lilia. Kedua pasang bola mata itu akhirnya bertatapan dengan dekat.


"Aku bisa merasakannya. Kau masih mencintaiku, bukan?" Jake menatap dalam Lilia.


Kontak mata yang terjadi seolah membuktikan jika rasa cinta itu memang benar masih ada. Lilia pun mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin mengakuinya. Baginya, ia masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka.


"Aku serius denganmu, Babe. Kali ini aku akan membuktikannya." Jake berkata serius.


Jake mengerti. Ia mengerti keinginan Lilia yang sampai detik ini belum juga terpenuhi. Ia kemudian mengajak Lilia berdiri.


"Baiklah. Sekarang hadapkan wajahmu ke arah restoran itu," pinta Jake kepada Lilia.


Lilia pun melihat ke arah restoran seafood yang berada beberapa ratus meter darinya. "Tidak ada apa-apa." Lilia tidak melihat apapun di sana selain bintang yang berkelap-kelip di angkasa.

__ADS_1


"Sebentar lagi." Jake meminta Lilia untuk menunggu.


Lilia pun mengangguk. Ia akan menunggu ada apa di restoran itu. Sedang Jake mengirim pesan ke seseorang. Menit demi menit pun dilalui oleh mereka.


"Jake, ada apa? Lama!" Lilia pun mulai sebal karena menunggu.


Jake tahu jika Lilia tidak sabaran. "Baiklah. Pejamkan matamu." Ia kemudian meminta Lilia untuk memejamkan mata.


Lilia menurut. Tak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Ia memejamkan matanya. Jake pun memutar tubuhnya menghadap ke arah restoran.


"Sekarang buka matamu." Jake meminta Lilia untuk membuka matanya.


Lilia menurut. Ia kembali membuka matanya. Saat itu juga Lilia melihat sinar berwarna-warni menyorot langit gelap dari arah restoran. Lilia pun menoleh ke arah Jake yang berdiri di sampingnya.


"Hanya ini?" Lilia benar-benar tidak sabaran.


Jake merasa gemas dengan wanitanya. "Tunggu saja." Tak lama kemudian sesuatu pun terlihat di sana.

__ADS_1


"Jake ...???" Saat itu juga Lilia terpana.


__ADS_2