PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
For You


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian...


Lilia sudah mandi dan mengenakan gaun krim kecokelatan yang cantik sekali. Entah mengapa dirinya ingin sekali mengenakan gaun itu malam ini. Rambut panjangnya pun dikuncir satu sehingga terlihat imut sekali. Sedang make up-nya menggunakan polesan yang ceria. Lipglos berwarna peach kemerahan melapisi bibir ranumnya. Ia juga tidak lupa untuk menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Lilia ingin tampil sempurna di hadapan Alexander malam ini.


Kamar di dalam apartemen Alexander ada dua. Satu kamar Lilia dan satu kamar Alexander sendiri. Mereka memang sengaja terpisah kamar untuk menjaga privasi. Terlebih Alexander mempunyai banyak berkas yang tidak diketahui Lilia penting atau tidak. Sehingga saat Lilia membesihkan kamarnya, ia harus ekstra hati-hati. Karena banyak sekali dokumen yang berada di dalam kamar Alexander.


Alexander sendiri memercayakan sepenuhnya semua kebutuhan harian maupun mingguan kepada Lilia. Pria berambut pirang itu memberi Lilia uang saku untuk belanja dan kebutuhan pribadi Lilia. Sedang Alexander tidak memiliki banyak keperluan. Ia hanya menitip seperlunya saja. Sehingga sisa uang yang diberi Alexander, Lilia masukkan ke dalam tabungannya.


Selama berada di Dubai, Alexander tidak pernah mengekang Lilia untuk bekerja di luar. Tapi pria itu lebih menyarankan agar Lilia tetap berada di apartemen dan tinggal dengan nyaman. Alexander tidak ingin calon istrinya bekerja keras karena ia merasa masih mampu untuk mencukupi. Sehingga Lilia tinggal duduk, diam, tenang menunggunya pulang ke rumah. Ia bak pria idaman banyak wanita.


"Baiklah. Sudah cantik."


Setelah selesai berdandan, Lilia melangkahkan kaki menuju teras luar apartemen. Dan ternyata, saat keluar dari kamarnya, semua lampu sudah dimatikan oleh Alexander. Putra dari Smith itu seperti ingin memberi kejutan kepada Lilia. Entah apa bentuknya.

__ADS_1


"Dear?"


Lilia pun melihat pria berkemeja hitam itu tengah menatap perkotaan dari teras apartemen. Ia pun segera berjalan mendekatinya.


Astaga! Ya Tuhan?!


Namun, betapa terkejutnya Lilia saat melihat teras apartemen yang sudah ditata sedemikian cantiknya. Alexander ternyata menghidupkan lilin-lilin merah di atas meja terasnya. Semua hidangan pun telah disajikan dan ditata sedemikian cantiknya. Lilia jadi terharu dengan kejutan yang diberikan prianya itu.


Alexander menyadari kehadiran Lilia. Ia berbalik menghadap ke wanitanya. "Lilia, sudah selesai?" tanyanya dengan senyum yang mengembang.


Alexander menjulurkan tangannya. "Mari duduk." Ia mengajak Lilia duduk.


Alexander menarikkan satu kursi untuk Lilia. Ia kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Lilia langsung. Meja teras yang ditata sedemikian cantiknya ini menjadi saksi akan makan malam yang intens sekali. Hati Lilia pun dibuat tak karuan karenanya. Alexander begitu romantis memperlakukan dirinya.

__ADS_1


"Lilia." Alexander menyapa Lilia dengan wajah yang semringah. "Aku punya kabar gembira untukmu," katanya yang membuat Lilia senang hati.


"Apa?" tanya Lilia penasaran.


Alexander kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Terimalah." Ia memberi Lilia sebuah kotak berwarna merah.


Lilia tampak terkejut. Tak biasanya Alexander memberinya hadiah seperti ini. Ia pun jadi ragu untuk membukanya. Tapi mau tak mau ia harus melakukannya. Dengan pelan-pelan Lilia pun membuka isi kotak merah tersebut. Jantungnya berdebar menantikan hal apa yang akan dilihatnya. Dan ternyata isinya adalah...


...Lilia...



...Alexander...

__ADS_1



__ADS_2