PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Broken


__ADS_3

Helen beranjak ke kamarnya. Ia menutup pintu dari dalam. Sedang Alexander tampak termenung memikirkan hal ini. Perasaannya mengatakan jika ada seseorang yang telah menghasut ibunya. Sampai ibunya bisa bersikap seperti ini. Namun, ia belum bisa membuktikannya.


Lilia, maafkan ibuku.


Lantas ia pun segera keluar dari rumah. Ia tutup pintu rumah kembali. Lilia yang menunggunya pun segera beranjak menemuinya.


"Dear ...." Lilia tampak bersedih hati.


Alexander menarik napas dalam. "Maafkan ibuku, Lilia. Kita kembali ke kota saja ya." Alexander mengambil jalan tengah.


Lilia mengangguk dengan sendu. Tak banyak yang dapat ia lakukan setelah hal yang terjadi tadi. Harapannya saat ini hanya Alexander seorang.


Dua jam kemudian, di apartemen Alexander...

__ADS_1


Alexander kembali ke apartemennya di ibu kota. Dan kini baru saja tiba setelah menaiki taksi online. Baru kali ini keduanya menaiki taksi online. Yang mana hal itu menjadi momen tersendiri bagi mereka. Dan ya, Alexander tampak bimbang dengan ucapan ibunya.


Lilia mengambilkan segelas air minum untuk Alexander. Ia juga meneguk air minumnya. Keduanya duduk di ruang tamu sambil memikirkan hal yang terjadi. Alexander pun tak enak hati kepada Lilia.


"Aku yakin pasti ada yang menghasut ibu hingga bisa seperti ini." Alexander mengungkapkan pemikirannya.


Lilia diam, wajahnya terlihat sendu. Ia seperti tidak tahu harus berkata apa.


"Ayah sebelumnya sudah memperingatkan hal ini. Tapi aku mengabaikannya. Dan ternyata memang benar, ibu berubah semenjak kita tinggal. Sepertinya ayah telah berbuat sesuatu dengan menyuruh anak buahnya menemui ibu." Alexander memaparkan pemikirannya lagi.


Lilia terlihat lemah. Nada bicaranya juga pelan. Seperti tidak mempunyai gairah hidup lagi. Harus ia akui, jika kecewa dengan sikap ibu prianya. Namun, ia tidak ingin menuduh orang lain, apalagi ayah Alexander sendiri.


"Aku tidak menuduh, Honey. Itu masih sebatas dugaanku saja." Alexander menjelaskan kembali.

__ADS_1


Lilia mengangguk dalam rasa kecewa. Namun, ia berusaha memakluminya. "Dear, ibu tidak merestui hubungan kita. Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau juga akan meninggalkanku?" tanya Lilia yang mulai terbawa perasaan.


Alexander menelan ludahnya. Ia segera memeluk Lilia. "Aku mencintaimu, Lilia. Aku akan membicarakan hal ini baik-baik kepada ibu. Sabarlah menunggu," pinta Alexander kepada wanitanya.


Lilia mengangguk dengan air mata yang hampir keluar dari persembunyiannya. Ia merasa sedih sekali. Namun, ia tidak mampu melawan kehendak takdir. Ia juga tidak mampu memaksakan kehendak pada ibu prianya. Lilia tidak mempunyai kuasa itu.


Malam harinya...


Alexander dan Lilia makan malam bersama di restoran terdekat apartemen. Mereka makan di dekat jendela yang mengarah ke luar. Tampak keduanya berbincang dengan mesra seperti tidak pernah terjadi masalah.


"Besok aku akan menemui ibu dan membicarakan hal ini baik-baik padanya. Kau bisa menungguku di apartemen." Alexander berkata kepada Lilia.


"Bagaimana jika Jake tiba-tiba datang?" Lilia merasa khawatir Jake akan datang.

__ADS_1


Alexander menghela napasnya. "Jangan khawatir. Khusus esok aku akan meminta bantuan ayah untuk menjagamu. Beberapa orang dari ayah akan menjagamu dari pintu masuk gedung sampai pintu apartemen. Kau hanya perlu menungguku saja," kata Alexander lagi.


Lilia mengangguk. "Aku berharap ibu dapat menerima masa laluku." Lilia mengungkapkan isi hati kecilnya.


__ADS_2