PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Headache


__ADS_3

Banyak pekerja yang membantu mereka. Alhasil pekerjaan jadi lebih mudah diselesaikan. Jake juga meminta pembuat roti ternama untuk mengajari Lilia membuat kue dan roti selama satu minggu ke depan. Lilia pun lebih percaya diri menerima pesanan. Hingga ia lupa dengan Jake yang sedari tadi belum makan.


"Akhirnya selesai juga." Lilia tampak takjub melihat dekorasi toko kuenya sekarang.


Jake memegang perutnya. Ia ingin makan. "Lilia, apakah kau mempunyai sesuatu untuk kumakan?" tanya Jake yang kelaparan.


Suasana toko tampak sepi menjelang malam karena semua perlengkapan telah diselesaikan. Dan kini hanya ada Lilia dan Jake di sana. Lilia tampak masih bersemangat walau malam sebentar lagi datang. Sedang Jake sudah tidak karuan. Ia kelaparan.


Lilia menoleh ke arah Jake. "Kau ingin makan apa?" tanya Lilia kepada Jake.


"Apa saja. Apa tidak ada roti lagi di sini?" Jake memerhatikan keadaan sekitarnya. Yang mana semua roti sudah diberikan kepada para pekerja.


"Tidak ada. Ada juga roti yang lain. Mau?" tanya Lilia lalu menutup holding gate tokonya.


Jake tampak berpikir. Staminanya sudah menurun hingga tidak mengerti apa yang Lilia maksudkan. Lilia pun segera mendekati Jake yang sudah pucat pasi karena kelaparan.


"Kau ingin kue atau roti yang kenyal?" Lilia mulai membuka kancing bajunya.

__ADS_1


Saat itu juga Jake menelan ludahnya. Ia bingung harus berbuat apa. Ia benar-benar kelaparan.


"Babe ...?"


Namun, Lilia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jake. Ia kemudian berbisik lembut di telinga Jake.


"Aku tahu apa yang kau inginkan," kata Lilia dengan suara yang menggairahkan.


Jake pun mulai keringatan. Ia bingung harus memfungsikan otak bagian atas atau bawahnya.


Lilia menahan tawa. Ia tahu benar bagaimana Jake yang sesungguhnya. "Cepat ikut aku! Kita makan bersama." Lilia pun menarik Jake ke suatu tempat.


Aku milikmu, Babe. Lakukan sesukamu.


Jake pun pergi dengan badan yang keringatan. Ia memacu semangatnya demi makan malam bersama Lilia. Ia berkhayal yang enak-enak di alam pikirannya.


Dua puluh menit kemudian...

__ADS_1


Jake pikir akan mendapatkan pelayanan istimewa. Tapi ternyata, Lilia malah mengajaknya makan sate lontong di pinggir jalan. Mereka melewati pintu belakang toko yang tidak pernah terbuka. Jake pun hanya bisa menelan ludahnya.


"Sudah, cepat disantap. Ini enak!" Lilia pun tanpa malu menyantap dengan lahap sate yang telah dipesannya. Sedang Jake jadi kurang berselera.


Aku pikir dia benar-benar memberikannya.Tapi ternyata, dia menipuku. Lilia, kenapa kau suka sekali menyiksaku?!


Jake pun lemas menyantap satenya. Sedang Lilia memerhatikan Jake yang duduk di sampingnya. Lilia tahu apa yang Jake pikirkan. Tapi ia berusaha tidak menghiraukannya. Ia malah memesan sate kembali.


"Pak! Minta tiga porsi lagi. Dia yang bayar!" Lilia menunjuk Jake yang duduk di sampingnya.


"Hah?!" Jake pun terbelalak seketika.


"Sudah jangan banyak mengeluh. Terima saja!"


Lilia pun bersikap acuh tak acuh. Ia seperti ingin membalas dendam kepada Jake. Jake sendiri tampak menurut padanya. Ia tak berdaya melawan Lilia. Seakan-akan tidak bisa berbuat apa-apa.


Bersabarlah Jake.

__ADS_1


Jake pun menghela napas dalam-dalam. Ia begitu gemas kepada wanita yang duduk di sampingnya. Ia ingin sekali memukul pantat Lilia sekarang juga.


__ADS_2