PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Lovely


__ADS_3

Angin pantai yang berembus menjelang siang ini menyapu helaian rambut Lilia. Alexander pun sesekali merapikannya dengan belaian lembut darinya. Mereka kemudian berpelukan dengan mesra. Cinta keduanya bak tak terpisahkan. Tapi benarkah akan demikian?


Pukul dua siang waktu Dubai dan sekitarnya...


Sesi pemotretan hari ini berjalan dengan lancar. Keduanya pun baru sampai di apartemen setelah membeli beberapa cemilan. Besok malam juga keduanya akan segera kembali ke tanah air untuk meminta restu ibunda. Baik Alexander maupun Lilia amat menantikannya.


"Perhitungannya sudah saya kirimkan, Tuan. Bisa dilihat di slide selanjutnya. Untuk ketebalan dinding sudah disesuaikan dengan arah angin dan tekanan udara saat cuaca panas atau lembab. Saya rasa sudah mendekati sempurna," kata Alexander saat menerima teleponnya.


Alexander masih sibuk dengan telepon masuknya. Padahal ia dan tim sudah menyelesaikan pekerjaannya. Lilia pun memakluminya. Ia sudah terbiasa dengan jadwal Alexander yang tak terduga.


"Ya. Terima kasih. Jika ada yang kurang bisa dikirimkan via email. Senang bekerja sama dengan Anda." Tak lama Alexander pun mengakhiri teleponnya.


Lilia datang mengantarkan minuman. Ia kemudian duduk di samping Alexander. "Siapa?" Ia bertanya siapa gerangan yang menelepon prianya.


"Developer. Tapi tak ada masalah. Semua baik-baik saja." Alexander mengusap kepala Lilia.


Lilia mengangguk. Alexander pun segera menuangkan minuman bersodanya ke dalam gelas. Keduanya duduk di sofa sambil beristirahat sejenak. Lilia pun tanpa segan bermanja pada prianya.


"Dear, sebenarnya ada sesuatu yang aku khawatirkan." Lilia memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Tentang apa?" Alexander segera meneguk minuman bersodanya.


"Tentang ibu." Lilia mulai menceritakan keluh kesahnya.


"Ibu? Memangnya—"


Belum sempat pembicaraan itu diteruskan, tiba-tiba saja ponsel Alexander kembali berdering. Memecah obrolan yang baru saja terjadi.


"Bentar ya." Alexander pun meminta izin untuk menerima telepon.


Ada hal yang Lilia risaukan sesampainya di tanah air nanti. Namun, ia belum sempat mengutarakannya kepada Alexander. Alexander masih sibuk dengan telepon masuknya. Lilia pun berusaha menunggunya.


"Siapa?" tanya Lilia datar.


"Timku. Mereka memesan tiket bisnis untuk keberangkatan esok malam. Sedang aku telah memesan tiket eksklusif. Kemungkinan kita akan berbeda penerbangan atau tempat duduk." Alexander menerangkan.


"Oh ...." Lilia pun mengerti.


Alexander mendekatkan dirinya. "Sekarang beristirahat ya. Nanti malam kita akan ke air mancur." Alexander memberi tahu.

__ADS_1


"Air mancur?"


"He-em. Beristirahatlah. Atau mau kutemani?" Alexander menggoda Lilia.


"Ih, dasar!" Lilia pun memukul sayang prianya.


"Kau pasti lelah, Honey. Aku juga ingin tidur sebentar. Jadi mari kita tidur siang." Alexander mengajak Lilia beristirahat.


"Bersama?" tanya Lilia dengan polosnya.


Alexander menahan tawanya. "Aku inginnya seperti itu. Tapi aku khawatir mabuk lagi." Ia merasa malu kala mengingat kejadian malam itu.


Lilia menaikkan satu alisnya. "Dasar! Ya sudah, aku tidur ya. Jangan lupa kunci pintu." Lilia mengingatkan prianya.


Alexander mengangguk. Ia pun melihat Lilia masuk ke dalam kamarnya. Wanita bertubuh sintal itu meninggalkan Alexander di ruang tamu sendiri. Saat itu juga Alexander bergumam di dalam hatinya.


Lilia, kukuhkan hatimu untukku. Jangan lagi mengingatnya.


Alexander menahan diri dari pesona yang Lilia miliki. Walaupun tidak dapat dipungkiri jika keinginan itu ada padanya. Namun, sebisa mungkin ia menjaga Lilia hingga tiba waktunya. Tapi apakah benar takdir akan berpihak padanya?

__ADS_1


__ADS_2