
Jinny mengangguk. "Baik, Tuan." Ia pun mengerti.
"Bagus. Kalau begitu tetaplah di sini. Aku harus menggantikan tuan Petrus bertemu beberapa orang hari ini. Jaga dirimu." Jake segera pergi.
Jake masih mempunyai urusan yang membuatnya tidak lagi sempat untuk bersantai. Hari ini pun ia harus menggantikan Petrus menemui beberapa relasi perkebunan kelapa sawitnya. Jake harus ikut menangani pekerjaan Petrus bilamana dibutuhkan. Karena Petrus telah memercayakan semuanya kepada Jake.
Pantang bagi Jake untuk mengkhianati Petrus. Karena kepercayaan dalam hubungan bisnis adalah segalanya. Lebih mahal dari apapun juga. Dan Jake akan menjaganya dengan sebaik mungkin. Ia pria berkomitmen tinggi dalam bidangnya.
Sementara itu...
Taksi Lilia berhenti di depan restoran Angelina. Ia duduk di kursi belakang sambil memandangi restoran sahabatnya. Lilia ingin sekali bertemu dengan Angelina. Tapi, tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya. Sedang sang pria yang ingin menikahinya, belum juga menghubunginya. Alexander hilang bak ditelan bumi tanpa ada kabar berita. Membuat Lilia menderita dengan kepastian yang ditunggunya.
Angelina sedang sibuk tidak, ya?
Lilia gundah. Ia ragu untuk masuk ke dalam restoran Angelina. Sedang koper dan tas sudah dibawanya untuk pergi jauh dari ibu kota. Lilia ingin berpamitan, tapi di hatinya masih ada perasaan berat untuk meninggalkan. Ia dilanda dilema hatinya.
__ADS_1
Lilia mencoba memosisikan logika di atas perasaannya. Ia tidak mungkin membiarkan dirinya terus berada di dalam penantian. Ia harus bergerak untuk menggapai masa depan.
Sudahlah. Aku langsung ke bandara saja.
Lilia pun akhirnya membuat keputusan. Ia tidak jadi mendatangi Angelina di restorannya.
Kenangan bersama Alexander tentulah tidak sedikit. Apalagi keduanya pernah tinggal bersama di Dubai selama satu bulan lamanya. Tentu banyak canda tawa yang tercipta. Namun, semenjak pulang ke desa, semuanya jadi berubah. Alexander seperti menjauh darinya. Lilia pun kehilangan semangat hidupnya.
Dua kali menjalin cinta, dua kali juga terluka. Waktu yang telah berlalu seolah menjadi saksi betapa hati itu terombang-ambing dalam penantian. Namun, kini Lilia harus segera mengambil tindakan untuk menentukan langkah hidupnya. Ia pun mengambil keputusan untuk pergi ke luar negeri. Ia ingin memulai kehidupan baru di sana. Lalu apakah Jake akan mengejarnya?
Lea tampak sibuk bermain kartu dengan para sosialita lainnya. Mereka mempertaruhkan emas dan cincin dalam permainan kartu kali ini. Gelas-gelas anggur pun mewarnai permainan mereka. Hingga akhirnya Lea harus berhenti sejenak dari permainannya. Sebuah telepon masuk diterima olehnya.
"Halo?" Lea pun segera mengangkat telepon tersebut. "Apa?! Ke Singapura?!" Lea terkejut mendengar informasi yang didapatkannya.
"Baik." Ia pun segera mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Hei, ada apa?" Teman-teman sosialitanya segera bertanya.
Lea memasang wajah kesal. Ia menahan amarah. "Aku harus pergi sekarang. Kita lanjutkan nanti." Lea memutuskan.
"Apa kau akan menemui suamimu?" tanya seorang temannya.
"Tidak. Ini lebih penting." Lea pun segera berkemas.
"Hah, baiklah. Ayo kita pergi!" Temannya itupun mengajak teman-teman lainnya untuk segera pergi dari rumah Lea.
Menjelang siang ini Lea mendapatkan kabar jika Bian pergi ke Singapura. Tentu saja hal itu membuatnya geram bukan kepalang. Bian diam-diam pergi tanpa sepengetahuan dirinya. Lea pun ingin menemui Bian di sana.
Wanita sialan! Berani-beraninya kau pergi ke luar negeri tanpa sepengetahuanku!
Lea pun dengan segera meninggalkan rumahnya. Ia menuju ke suatu tempat untuk melaporkan hal ini kepada seseorang. Lea ingin meminta pendapat.
__ADS_1