PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Sly


__ADS_3

Menjelang petang...


Sebuah kafe tertutup menjadi saksi amarah Lea terhadap sesuatu yang terjadi padanya. Ia menggebrak meja di depan selingkuhannya, Andrian. Andrian pun berusaha menenangkannya.


"Sayang, tenanglah." Dengan kata-kata manis Andrian berusaha mendinginkan Lea.


Lea marah. Ia murka manakala mengetahui Bian tidak lagi mengaktifkan ponselnya. Ia pikir Bian sedang menjalankan misi darinya. Namun nyatanya, Lea tidak menemukan Bian online di jejaring sosial. Yang mana hal itu membuat Lea murka.


"Dia mencari masalah denganku! Aku sudah memberinya seratus juta. Tapi dia pergi begitu saja!" Lea geram sekali.


Andrian menenangkan Lea seraya memegang kedua lengannya. "Sayang, tenanglah. Mungkin dia sedang berada di luar kota tanpa sempat memberi tahumu." Sebisa mungkin Andrian meredakan emosi Lea.

__ADS_1


"Luar kota? Aku tidak pernah memintanya untuk pergi ke luar kota. Aku hanya ingin bukti palsu darinya. Tapi dia malah hilang entah ke mana. Apakah dia ingin menjadi seperti Lilia?!" Lea naik pitam.


"Duduklah." Andrian meminta Lea untuk duduk dan tenang. "Jika begitu, kemungkinan sesuatu terjadi padanya. Apakah Jake mengetahui pertemuan kalian?" tanya Andrian.


Lea menggelengkan kepalanya. "Selama ini kami bertemu di tempat tertutup. Kami tidak pernah bertemu di tempat yang terbuka," tutur Lea.


"Minumlah." Andrian kemudian memberi secangkir kopi cokelat untuk Lea. "Aku merasa curiga, apa jangan-jangan dia disembunyikan oleh Jake?" Andrian menduga.


Andrian tampak berpikir. "Kalau begitu, apa Jake melenyapkannya?" Andrian mengajak Lea berpikir.


Lea menarik napas dalam-dalam sambil memegang kepalanya. "Jika itu sampai terjadi, aku berharap dia mati. Jangan sampai dia menceritakan hal yang sebenarnya kepada Jake. Karena jika hal itu terjadi, aku tidak lagi bisa mencari cara untuk menjatuhkannya." Lea tampak putus asa.

__ADS_1


Andrian ikut berpikir keras mengenai hal ini. "Begini saja. Bayar orang untuk mencari tahu di mana keberadaan Bian." Ia memberi saran.


Lea tak percaya dengan saran Andrian. "Sayang, aku sudah habis banyak untuk memenangkan perceraian ini. Apa aku harus mengeluarkan uang lagi?!" Lea tidak terima uangnya habis.


"Sayang, dengar. Kau harus berusaha penuh untuk menjatuhkan Jake jika ingin menang. Masalah uang, kau dapat memintanya kepada Petrus. Itu hal yang mudah bagimu." Andrian membujuk.


Lea mengembuskan napasnya. "Aku sudah terlalu banyak menghabiskan uang si tua bangka itu. Bisnis yang kujanjikan padanya tidak menghasilkan apa-apa dan malah habis begitu saja. Aku sungkan untuk memintanya lagi. Bulan ini saja sudah kuhabiskan dua puluh milyar uangnya. Aku harus beralasan apa lagi untuk meminta uang padanya?" Lea merasa bingung.


Andrian terus membujuk. "Sayang, selama kau bisa meminta padanya, mintalah banyak-banyak sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Dua puluh milyar itu tidak ada apa-apanya bagi seorang Petrus. Kau pasti bisa meminta lebih. Atau kalau tidak, paksa Jinny yang memintanya." Pemikiran licik pun diutarakan Andrian kepada Lea.


Lea tersenyum simpul. "Benar. Aku bisa menggunakan wanita itu untuk meminta uang yang lebih banyak lagi kepada Petrus." Tanpa merasa bersalah, Lea pun membenarkan ucapan Andrian.

__ADS_1


Keduanya lalu membicarakan rencana agar dapat menguras uang Petrus selagi sempat. Mereka bersepakat untuk mempergunakan Jinny sebagai alat. Namun, apakah Jinny mau melakukannya?


__ADS_2