
Lilia pun ikut masuk ke dalam mobil setelah sampai di dermaga. Ia duduk di sisi kanan Jake dengan wajah yang lelah. Jake pun meminta supir untuk segera melajukan mobilnya.
"Jalan!" katanya kepada supir.
"Kita ke mana, Tuan?" tanya supirnya.
"Apartemen Lilia," kata Jake yang membuat Lilia terkejut seketika.
"Tu-tuan, kenapa ke apartemenku?" Lilia kaget saat Jake bilang ingin ke apartemennya.
"Kau tidak ingin diantar?" Jake balik bertanya pada Lilia.
Hawa membunuh itupun Lilia rasakan dari setiap intonasi bicara Jake. Ia menelan ludahnya karena takut. Ia tahu jika Jake sedang marah saat ini. Dan suasana seperti ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Sebisa mungkin Lilia tidak membuatnya marah lagi. Entah bagaimana caranya, Lilia harus bisa mengambil hati Jake karena sudah tertangkap basah bertemu Lea tadi pagi.
Lilia pasrah. Rasa kantuk menderanya. Ia kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Jake. Ia tidak kuat lagi untuk menahan kantuknya.
__ADS_1
"Tuan, pinjamkan aku pahamu sebentar, ya?"
Lilia berkata seperti itu sambil merebahkan kepalanya. Ia tertidur di kursi belakang mobil dengan senangnya. Sedang Jake masih membaca pesan masuk di ponselnya. Jake diam, ia tidak menjawab sepatah pun perkataan Lilia. Hingga akhirnya Lilia mengusap paha Jake bak bantal guling yang nyaman.
Lilia tidak peduli lagi dengan apa yang akan Jake lakukan saat ia tertidur nanti. Sedang Jake tampak memerhatikan Lilia yang tertidur di pahanya. Ia ingin mengusap kepala Lilia. Tapi saat itu juga ia urungkan niatnya. Ia masih menjaga gengsinya di hadapan Lilia. Jake sedang marah kepadanya.
.........
Jake tersenyum mengingat kejadian itu. Ia tak menyangka akan melalui banyak kenangan bersama Lilia. Tangannya pun mulai meraih tangan Lilia. Ia genggam tangan itu lalu mulai memejamkan mata. Keduanya berpegangan tangan sebelum memasuki alam mimpi yang indah. Hari ini benar-benar bahagia.
Pagi hari Lilia terbangun. Ia pun segera mandi dan mengenakan seragam tokonya. Lilia memang sengaja memakai seragam agar tampak lebih rapi. Ia membeli jadi dari toko pakaian di pasar. Alhasil Lilia bertambah cantik kini.
Lilia berdandan rapi. Rambut ia kuncir dua dan mengenakan make up yang ceria. Ia juga tidak lupa untuk menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya agar lebih percaya diri menghadapi hari. Tak lama ia pun sudah siap untuk menjalani hari ini.
"Dia belum bangun juga?"
__ADS_1
Lilia beranjak ke lantai dua dan melihat Jake masih tertidur di sana. Ia tatap pria berwajah muram itu yang masih terlelap dalam mimpinya. Jake pun mendengkur tanpa malu kepadanya.
"Dasar kerbau!"
Lilia mendekati Jake. Ia menarik kedua tangan Jake agar lekas bangun. "Ayo bangun, Jake! Pembuat roti akan datang hari ini!" Lilia menarik Jake agar lekas terbangun.
Aduh berat sekali. Dasar gajah!
Lilia terus menarik Jake. Tapi pria itu tidak kunjung terbangun. Tubuh Jake kekar dan berotot, membuat Lilia bak menarik gajah. Hanya sia-sia saja. Padahal ia baru mengatakan Jake sebagai kerbau. Lilia dengan cepat merubah julukannya.
"Aduh ... aku tak sanggup."
Jelas saja tak sanggup menarik Jake. Tubuh Jake terdiri dari otot semua. Lilia hanya akan kelelahan jika memaksakan kehendaknya. Yang ada dandanannya malah akan rusak.
"Aha! Aku punya ide."
__ADS_1
Sifat usil Lilia pun mulai muncul. Ia kemudian mengambil kemoceng lalu mengusap-usapkannya ke ketiak Jake. Alhasil, Jake pun terbangun. Namun, bukan dirinya, melainkan sesuatu yang ada di bawah sana.