
Rasa rindu itu begitu membelenggu. Namun sayang, ia tidak mampu mengutarakannya. Gejolak kerinduan seakan mendesaknya untuk segera menemui seseorang di sana. Yang selama ini mengganggu alam pikirannya. Namun, ia masih bingung untuk mengatakannya. Ia mengingat kembali statusnya yang masih menjadi suami orang.
Jake melihat cincin pernikahan di jari manisnya. Ia tatap kembali bagaimana bentuknya. Namun, ia melepaskannya. Ia merasa tidak membutuhkan lagi cincin pernikahan itu.
"Aku akan menyelesaikan urusanku, Lilia." Jake berjanji seraya menyimpan cincin pernikahannya ke dalam laci meja.
Jake harus mengakui perasaannya berkecamuk kala merasakan kehangatan akan cinta itu hilang. Ia merasa kehilangan dan juga menyesal. Jake menyesal karena telah membuat Lilia pergi dari sisinya. Tapi ia juga tidak bisa memaksakan Lilia untuk kembali. Terlebih ia masih mempunyai banyak urusan yang belum terselesaikan. Ia sadar benar akan konsekuensi yang dihadapi jika hanya fokus ke satu urusan. Jake harus bisa membagi waktunya.
Di sisi lain jiwanya kehausan akan kasih sayang. Jiwa lelakinya membutuhkan tempat sandaran dan juga dukungan. Belai lembut seorang wanita itu diinginkannya. Tapi ia tidak ingin melampiaskannya ke sembarang orang. Jake tidak menyukai bekasan. Ia ingin utuh, seutuh-utuhnya. Ia memiliki sifat arogansi yang tinggi. Ia adalah pria kelas atas yang tidak sembarang memilih wanita.
Karena sebuah perjanjian, Jake harus menikah dengan wanita yang bukan pilihannya. Ia menikahi Lea dan menerima status sebagai seorang suami lebih dari dua tahun lamanya. Namun, selama itu juga keduanya tidak pernah tidur bersama. Jake tidak menyukai Lea, apalagi untuk mencintainya. Jake hanya sebatas menjalani kontrak perjanjian yang telah disepakatinya. Dengan ayah Lea, Petrus Joule. Tidak lebih dari itu.
Lantas Jake menghabiskan segelas susu hangat yang telah dibuatnya. Ia kemudian merebahkan diri di atas kasur mewahnya. Ia tatap langit-langit kamar seraya membayangkan pekerjaan yang akan dijalaninya esok hari. Tapi, saat itu juga senyum Lilia terlintas di benaknya.
"Lilia ...."
Saat itu juga rasa rindu semakin menggebu di hatinya. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terus-terusan seperti ini. Jake harus mengambil risiko tinggi. Ia kemudian mengambil ponsel pintarnya lalu membuka sebuah drive khusus miliknya. Di mana di sana ada foto Lilia bersamanya.
__ADS_1
"Lilia ...."
Semburat senyum pun akhirnya terukir di wajahnya. Jake tersenyum melihat foto-foto kebersamaannya bersama Lilia. Hingga pada suatu foto di mana Lilia memotret dirinya sendiri menggunakan kamera ponsel miliknya. Saat itu juga bulir-bulir air mata seakan ingin keluar dari persembunyiannya.
Di vila pantai waktu itu...
"Tuan, aku pinjam ponselmu." Lilia mengulurkan tangan, meminta ponsel Jake.
"Tidak boleh." Saat itu juga Lilia cemberut di hadapan Jake.
"Banyak dokumen penting di sini." Jake menjawabnya singkat sekali.
"Baiklah kalau begitu. Kembalikan ponselku!" Lilia meminta ponselnya dikembalikan.
"Tidak."
Jake hanya berkata seperti itu. Lilia pun semakin kesal jadinya. Ia akhirnya berjalan meninggalkan Jake selepas belajar berenang bersama.
__ADS_1
Jake tersenyum tanpa Lilia ketahui. Ia pandangi Lilia yang berjalan menjauh darinya. Saat itu juga ia merasa senang karena sudah membuat Lilia kesal. Namun, tak lama kemudian ia mengejarnya. Jake memberikan ponselnya lalu membiarkan Lilia memotret dirinya sendiri.
.........
"Aku ... merindukanmu, Lilia." Jake terbata mengucapkannya.
Dilihatnya foto Lilia, dipandanginya wajah wanita yang mengguncang hatinya. Diusapnya foto itu dengan penuh kelembutan. Jake tidak bisa membohongi dirinya jika ia begitu merindukan sosok Lilia. Jake ingin bertemu kembali dengan Lilia.
"Kau harus memastikan dirimu baik-baik saja di sana. Tunggu aku. Aku akan menjemputmu."
Lantas dikecupnya foto itu. Ketenangan pun didapatkannya dalam sekejap. Jake memejamkan matanya. Ia biarkan foto Lilia menemani tidurnya. Jake merindukan Lilia.
.........
...Foto Lilia di ponsel Jake...
__ADS_1