
...Jake...
...Lilia...
Seisi dunia bak runtuh kala seorang CEO arogan berlaku lembut kepada seorang wanita yang pernah menggodanya. Jake sudah merubah sikapnya di hadapan Lilia. Tentu saja hal itu membuat Lilia tak percaya. Sisi arogan Jake perlahan-lahan hilang di matanya. Di hadapan Lilia kini bukan lagi Jake yang berwajah muram nan kejam. Lilia pun dengan senang hati menyambut kedatangannya.
"Jake ...." Lilia menghirup dalam-dalam aroma parfum yang Jake kenakan. "Terima kasih telah datang," katanya kepada Jake.
Jake mengangguk. Ia rasakan kehangatan tubuh yang sempat hilang darinya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Saat ini yang Jake inginkan adalah terus memeluk Lilia.
"Permisi. Mengantarkan pesanan." Di tengah kesyahduan yang baru saja terjadi itu tiba-tiba saja datang seorang pria membawa keranjang rotinya. "Ups! Sepertinya salah waktu." Pria itu pun melihat kemesraan yang terjadi. Ia tidak jadi masuk ke toko Lilia.
__ADS_1
Lilia segera tersadarkan. Ia melepas pelukan Jake dengan cepat. "Paman, Paman mengantarkan pesanan ya?" Lilia segera berlari ke arah pintu. Sedang Jake ditinggalkan begitu saja.
Babe, kau meninggalkanku.
Jake pun tertawa karenanya. Lilia ternyata begitu serius menjalankan usahanya sampai-sampai pelukannya dilepas begitu saja.
Kemesraan itu akhirnya terhenti sejenak manakala Lilia harus menerima pesanan rotinya. Jake pun mengerti dan membiarkan Lilia menerimanya. Ia pun melihat-melihat keadaan toko Lilia. Ia ingin tahu ada apa saja di tokonya.
Akhirnya kedua insan itu bertemu kembali setelah perpisahan yang mereka alami. Dan tidak ada satupun kejadian tanpa hikmah di baliknya. Perpisahan itu membuat Jake mengoreksi diri dari kesalahannya. Hingga akhirnya ia mengakui jika Lilia adalah belahan jiwanya. Jake membutuhkan Lilia sebagaimana bunga membutuhkan hujan. Dan Jake berharap Lilia dapat kembali membuka hati untuknya.
Lilia sengaja menutup tokonya sebentar untuk berbincang dengan Jake. Ia menghormati Jake yang telah jauh-jauh datang untuk menemuinya. Dan kini keduanya tengah berbincang di depan meja kasiran. Lilia pun menyediakan secangkir teh hangat untuk Jake.
"Jadi kau membangun usaha ini sendiri?" tanya Jake, memulai obrolannya.
Lilia mengangguk. "Aku ingin mendapat pemasukan dari jalan yang lebih baik lagi," terang Lia.
__ADS_1
"Kau mempunyai relasi atau rekan kerja yang bisa diandalkan?" tanya Jake lagi.
Lilia menggelengkan kepalanya. "Belum. Aku baru mulai berbisnis. Aku hanya mengambil keuntungan dari beberapa roti atau kue yang terjual. Belum memproduksinya sendiri." Lilia menjelaskan.
Jake mengangguk, mengerti. "Jadi kau hanya mengambil keuntungan dari setiap roti yang terjual. Lalu apakah cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari?" tanya Jake kembali.
Lilia menggelengkan kepalanya lagi.
Jake menghela napas dalam. "Kenapa kau tidak menemuiku dulu? Kenapa kau pergi? Apakah dia menyakitimu sehingga kau mau susah seperti ini?" Jake menyinggung Alexander.
Sontak Lilia menelan ludahnya. Ia merasa Jake sedang ingin menyelidikinya. "Untuk apa kau ingin tahu? Bukan urusanmu juga." Lilia bersikap jutek.
Saat itu juga Jake tertawa kecil. Ia menunduk sebentar lalu mencubit pipi Lilia. "Aku peduli padamu. Aku juga ingin memastikan jika kau benar-benar sendiri saat ini." Jake tersenyum manis di hadapan Lilia.
Saat itu juga Lilia merasa tersentuh dengan sikap Jake yang berubah lembut. Hal inilah yang sebenarnya ia inginkan sejak dulu. Lilia pun mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin melihat senyum manis itu mengganggu alam pikirannya.
__ADS_1