PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Speechless


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian...


Waktu terus berjalan tanpa henti. Meninggalkan suka duka kehidupan. Balada kehidupan pun akan terus berjalan. Tanpa peduli terhadap luka yang ditorehkan.


Tepat hari ini Lilia dan Alexander berada satu bulan di Dubai. Wanita cantik itu tak menyangka jika akan melalui hari yang panjang bersama putra Smith. Cinta yang ada di hatinya pun semakin tumbuh seiring waktu. Pria itu benar-benar menunjukkan kesungguhannya kepada Lilia. Lilia pun semakin menyayanginya.


Berbagi suka cita dalam cinta kasih sepenuh hati. Seperti mimpi indah yang tak ingin terjaga. Begitulah perasaan Lilia saat ini. Setelah keterpurukan melandanya, ia bangkit dan menata kehidupan kembali. Lilia pun ingin terus seperti ini. Bahagia dan selalu disayangi.


Kini ia sedang bersiap-siap pergi ke pantai Palm Jumeirah untuk mengatakan sesi pemotretan prawedding. Alexander sendiri sudah menunggunya di ruang tamu. Sedangkan Lilia masih berdandan di dalam kamar. Ia ingin tampil cantik hari ini.


Selama satu bulan terakhir, Alexander amat serius bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi uangnya. Hingga akhirnya semua sudah terkumpul dan siap untuk menikahi pujaan hatinya. Ia menunjukkan jika mampu membahagiakan Lilia dengan hasil jerih payahnya sendiri. Dan sekarang sudah terbukti. Ia siap untuk meminang wanitanya.


Alexander memilih Pantai Palm Jumeirah sebagai lokasi pemotretan prawedding mereka. Bukan tanpa alasan, melainkan ia ingin mengabadikan momen jika pernah tinggal bersama Lilia di Dubai. Berbagi suka duka kehidupan selama satu bulan lamanya. Dan selama itu juga keduanya saling mendukung dan menyemangati. Hingga akhirnya mereka siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Pernikahan.

__ADS_1


"Baiklah. Aku siap."


Lilia pun sudah berdandan cantik sekali. Ia siap menuju pantai Palm Jumeirah untuk melakukan sesi pemotretan. Ia pun bergegas keluar kamar dengan membawa jaket levisnya. Saat itu juga ia melihat Alexander tengah sibuk menerima telepon. Pria itu tetap sibuk walaupun pekerjaan telah diselesaikannya.


Lilia menunggu. Hingga akhirnya sambungan telepon itu diakhiri prianya. "Baik. Terima kasih."


Lilia pun segera menyapa Alexander. "Dear, aku siap."


"Lilia ... kau ...?!"


Alexander terpesona dengan dandanan wanitanya. Wanitanya itu bak putri modern yang cantik dan juga menggemaskan. Alexander pun menelan ludahnya melihat Lilia.


"Kita bisa berangkat sekarang, Dear?" Lilia tersenyum padanya.

__ADS_1


Alexander mengangguk. Ia pun segera bersiap-siap untuk pergi. Pria berkemeja putih itu sudah siap untuk melangkah lebih jauh bersama wanitanya. Lilia pun dengan senang hati menggandeng tangannya. Mereka kemudian keluar dari apartemen dengan membawa beberapa barang bawaan. Mereka siap melakukan pemotretan prawedding hari ini.


Di perjalanan...


Lirikan mata itu membuat Lilia merasa heran dengan prianya. Alexander tak jemu-jemu memerhatikan Lilia dari kaca tengah mobil. Lilia pun mencoba menanyakan hal yang terjadi. Ia khawatir prianya risih dengan penampilannya.


"Dear, kau baik-baik saja? Sedari tadi memerhatikanku terus?" tanya Lilia pada prianya.


Alexander tersadarkan dengan pertanyaan itu. Harus ia akui jika penampilan Lilia tampak berbeda sekali hari ini. Lilia cantik, seksi dan juga menggemaskan. Alexander pun tak henti memerhatikannya.


"Em ... aku ...."


Alexander berpikir ulang sebelum mengatakannya. Ia takut Lilia salah sangka terhadapnya. Sedangkan Lilia masih menunggunya.

__ADS_1


__ADS_2