PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Annoyed


__ADS_3

"Jake, kau harus berubah. Jangan sampai seperti aku yang gagal berumah tangga. Aku salah memilih wanita dan akhirnya hanya penyesalan yang melanda. Terkadang pria harus menggunakan perasaannya. Bukankah selama ini kau nyaman bersamanya?" tanya Paul yang sudah mengerti duduk permasalahan Jake.


Jake menceritakan kepada Paul jika Lilia adalah seorang wanita yang dibayar Lea untuk menjatuhkannya. Namun, lambat laun Jake merasa tertarik dengan sisi lain dari Lilia. Dan pada akhirnya, mereka terjurumus ke dalam suatu hubungan yang tanpa kepastian. Perasaan itu pun muncul dan merekah indah di antara keduanya. Jake harus mengakui jika ia nyaman bersama Lilia.


"Dia penurut, nakal dan juga ... mudah dibohongi." Jake mengingat masa-masa bersama Lilia. Semburat senyum itupun terlukis di wajahnya.


Paul mengangguk. Ia mengerti bagaimana perasaan temannya. "Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Paul ke Jake.


Jake mengembuskan napasnya dengan kuat. "Aku akan menjemputnya ke Dubai. Aku akan mengambilnya kembali. Lusa aku mempunyai waktu satu hari untuk membawanya pulang ke dalam negeri." Jake membuat keputusan.

__ADS_1


Saat itu juga Paul terbelalak kaget. "Kau serius, Jake? Dengan keadaan seperti ini kau ingin menjemputnya?!" Paul tak percaya.


Jake menoleh ke Paul. "Aku tidak rela dia bersama pria lain. Dia milikku." Jake mencetuskan.


Paul menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau tidak bisa menjemputnya, Jake. Hatinya sudah direbut oleh Alexander. Kau harus merubah sifat dan sikapmu dulu jika ingin mencuri hatinya kembali." Paul menyarankan.


"Maksudmu?" Jake kurang mengerti.


Jake menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa. Image-ku akan turun di hadapan orang-orang. Mereka akan menertawaiku." Jake menolaknya.

__ADS_1


"Astaga!" Paul menepuk jidatnya. "Jake, oh! Come on! Kau hanya harus bersikap lembut kepada Lilia. Hanya Lilia saja. Tidak perlu kepada yang lainnya. Lagipula Lilia pasti mengerti tugas dan tanggung jawabmu di kantor. Dia bukan anak kecil lagi." Paul menegaskan.


Jake diam. Ia tampak mencerna perkataan temannya.


"Selama kau bersikap arogan, diktator dan otoriter, selama itu juga kalian tidak akan pernah bisa bersama. Lilia butuh kepastian, Jake. Dia juga butuh penjelasan. Jangan berharap dia dapat mengerti sendiri. Wanita itu butuh penjelasan yang signifikan. Jika penjelasan pertama dia lupa, beri penjelasan ke dua. Jika penjelasan ke dua masih lupa, beri penjelasan ke tiga. Mereka ingin diyakinkan selain dimiliki oleh pasangannya." Paul memaparkan.


"Penjelasan itu sangat menyita waktu. Apalagi jika harus berkali-kali." Jake merasa keberatan.


Paul mengusap kepalanya sendiri. "Lilia pasti mengerti sebelum kau memberinya penjelasan ke tiga. Kau sendiri bilang jika pekerjaannya selama ini berkecimpung di dunia goda-menggoda. Pasti dia memahami keinginanmu tanpa harus dikatakan ulang." Paul amat yakin. "Dan yang terpenting, terbukalah dengannya. Suatu hubungan harus ada rasa saling percaya. Jika tidak, sudah mati saja." Paul terlihat kesal menasehati temannya.

__ADS_1


Jake menoleh sesaat ke temannya. Ia kemudian menatap kekejauhan. "Aku akan mencobanya. Merubah diriku di hadapannya." Jake berusaha menerima saran dari Paul.


Paul tersenyum. Ia menepuk pundak temannya. "Aku yakin kau pasti bisa mendapatkannya kembali. Jika itu sudah terjadi, jangan dilepas lagi. Segera ikat dia dengan ikatan resmi. Karena wanita butuh kepastian, Jake. Bukan janji." Paul menyemangati.


__ADS_2