
Sebagai seorang anak yatim piatu, Lilia melakukan apapun serba sendiri. Ia tidak bisa mengandalkan orang lain selain dirinya sendiri. Ia juga harus mampu berpijak di atas kakinya sendiri. Setiap masalah harus dihadapi. Sedang untuk urusan hati, ia baru mengalami hal yang seperti ini.
Dilema merasuki jiwanya. Kebulatan tekat untuk segera berumah tangga sepertinya harus tertunda. Lilia pun berkecil hati. Ternyata kenyataan itu tidak sesuai dengan harapannya. Ia pun ingin segera melarikan diri karena merasa digantung oleh prianya. Lilia tidak ingin membuang-buang waktunya.
Satu minggu kemudian...
Awak media berbaris kala melihat seorang pria berjas hitam datang ke sebuah gedung pengadilan. Pria itu mengenakan kaca mata hitamnya. Tampak beberapa dari wartawan ada yang memotretnya dan berusaha melontarkan pertanyaan. Tapi pria itu diam saja, seolah tidak ingin menggubrisnya. Ia terus berjalan memasuki ruang persidangan.
Ialah Jake yang datang ke pengadilan untuk memenuhi undangan Lea. Jake datang sendiri tanpa pengacaranya. Ia hanya bersama beberapa pengawal yang berjaga. Sedang suasana di halaman gedung pengadilan tampak riuh saat ia datang. Mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Jake.
"Tuan, bagaimana bisa pria sekompeten Anda menyakiti istrinya sendiri dengan menyelingkuhinya?"
"Tuan, apakah Anda tidak takut image perusahaan akan turun setelah ini?"
__ADS_1
"Tuan, nyonya Lea begitu mencintai Anda. Mengapa Anda mengkhianatinya?"
"Tuan, rumor yang berkembang Anda berselingkuh dengan pekerja istri Anda sendiri. Apa itu benar?"
Berbagai macam pertanyaan terlontar dari pihak wartawan. Berbagai kata-kata menyudutkan pun didengar. Publik tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka selalu menyudutkan pihak pria. Karena itu Jake diam saja dan tidak menanggapinya. Hingga akhirnya ia memasuki ruang persidangan. Saat itu juga para hakim dan jaksa sudah siap untuk memulai sidang. Jake juga melihat Lea masuk dari pintu yang lain ke dalam ruangan.
Hah ... ya, baiklah.
Di kubu Jake sendiri Lara menjadi pihak yang hadir. Bukan tanpa alasan ia berada di sana. Melainkan Lara sudah mengerti tugas dan tanggung jawabnya. Sedang di kubu Lea, ia menghadirkan seorang pengacara. Andrian sendiri tidak datang di persidangan ini. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Sementara itu...
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kedua insan yang berencana melangsungkan pernikahan ini tampak makan bersama di depan meja makan. Namun, ada sesuatu yang terjadi di sana. Di mana sang wanita tampak diam dan tak mau bicara. Sedang sang pria mencoba untuk menyapanya.
__ADS_1
"Lilia, kau sedang tidak enak badan?"
Ialah Lilia dan Alexander yang sedang makan bersama, mencoba menu terbaru di kedai cepat saji yang belum lama ini buka. Namun, Lilia tampak tidak semangat menyantap makanannya. Raut wajahnya seperti enggan meneruskan makan.
"Lilia ...." Alexander pun menyapa lagi.
Lilia menegakkan kepalanya. "Dear, kau menggantungku," katanya yang membuat Alexander tersadar seketika.
Alexander menelan ludahnya. Ia mengerti maksud dari perkataan wanitanya itu. Ia pun segera mengalihkan pembicaraan yang baru saja terjadi.
"Lekaslah disantap. Kita akan berbelanja hari ini. Aku akan membelikanmu perhiasan," kata Alexander lagi.
Lilia meletakkan sendok dan garpunya. "Dear, aku tidak ingin perhiasan! Aku ingin kepastian!" Lilia menaikkan intonasi bicaranya.
__ADS_1